
Pagi ini Jasmine di antar sekolah oleh Leon. Kata Leon sih, dia pingin mendekatkan diri dengan anaknya. Masa Arini terus yang mengantar Jasmine sekolah. Sementara dirinya jarang.
Setelah pulang dari bukit tadi subuh, Arini dan Leon tidak tidur sampai pagi ini. Mata mereka memang tidak ngantuk.
Ditambah lagi omelan dari Mutiara, membuat mata Leon tambah melek.
Tapi untunglah, Mutiara tidak mengomel panjang lebar seperti kemarin. Karena pagi ini Arini pulang dengan selamat. Tidak terluka seperti malam kemarin.
"Tadi malam, Papa sama Mama ke mana?" tanya Jasmine saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Jasmine mau tahu, ya?" goda Leon sambil cengar-cengir dan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Papa kenapa? Matanya kelilipan debu, ya?" tanya Jasmine polos.
Demi apa, Nak? Papa Leon sedang menggodamu, loh. Bukan kelilipan.
"Papa sama Mama ke mana, sih? Kok Jasmine sama Yusuf tidak di ajak?" Jasmine mencembikkan bibirnya kesal.
"Hehe... Papa sama Mama... Emm... Ada, deh. Ini misi rahasia. Jasmine masih kecil, belum boleh tahu," ujar Leon sambil fokus menyetir mobil.
Jasmine mendengus kesal. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menatap lurus ke depan.
"Anak gadis Papa lucu deh kalau lagi ngambeg gini," goda Leon sambil menjawil pipi tembam Jasmine.
"Papa tidak lucu deh kalau lagi usil begini," sahut Jasmine dengan bibir lima centi-nya.
"Iya iya, maaf. Tadi malam Papa ajak Mama ke bukit," beritahu Leon.
"Kok Jasmine sama Yusuf di tinggal?" protes Jasmine sambil menatap lurus ke wajah ayahnya.
"Maaf, Sayang. Bukan bermaksud jahat. Tapi Papa sama Mama lagi survey lokasi. Dan ternyata tempatnya kurang aman untuk anak-anak. Soalnya gelap. Licin juga."
"Ya sudah, deh. Apa boleh buat," ujar Jasmine. Pada akhirnya gadis cilik tersebut tidak mempermasalahkan hal tersebut lagi.
Dan sekarang mereka telah sampai di sekolah. Leon pun turun untuk mengantar Jasmine sampai depan kelasnya.
"Sampai sini aja, Pa," protes Jasmine. Dia tidak mau di antar sampai ke kelas. Terkahir kali dia di antar sampai kelas oleh Ani, gadis cilik tersebut berkahir dengan pembulian dari teman-temannya. Kata teman-temannya, 'Jasmine anak manja'.
"Kenapa tidak mau Papa antar sampai depan kelas?" tanya Leon sambil menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Pokoknya Papa sampai sini aja! Kata teman-teman, Jasmine anak manja karena di antar sampai depan kelas." Saat mengatakan itu, Jasmine hampir saja menangis. Air matanya sudah di pelupuk mata.
Leon langsung memeluk buah hatinya itu dengan sayang seraya membisikkan kata-kata, "Mereka itu cuma iri, Nak. Orang tua mereka sibuk dan tidak pernah memberikan kasih sayang pada mereka. Barang mengantar sekolah saja mereka pakai supir pribadi. Beda dengan Jasmine, Jasmine sering di antar Mama atau Papa, kan?"
Jasmine mengangguk di pelukan Leon.
"Ya sudah kalau tidak mau di antar sampai depan kelas. Sana masuk kelas! Hati-hati tapi, ya?!"
Jasmine mengangguk. Gadis cilik tersebut lalu mencium punggung tangan ayahnya. Kemudian ia masuk ke dalam kelasnya.
Saat Leon hendak kembali ke mobil, dirinya di panggil oleh Sinta yang baru saja datang. Guru Jasmine tersebut tidak membawa kendaraan pribadi, ia di antar oleh supirnya.
"Mas Leon, sudah lama kita tidak ketemu," ujar Sinta seraya mencangklongkan sling bag di bahu kanannya.
"Iya," sahut Leon singkat.
"Rumah lama Mas Leon di jual, ya? Kata Yuna, pemilik rumah yang sekarang bukan Mas Leon lagi."
"Iya. Sudah saya jual," jawab Leon masih dengan kalimat singkat.
Sinta menganggukkan kepalanya. "Pindah ke mana sekarang, Mas? Kenapa di jual?"
Sinta memandangi mobil Leon dengan kesal. "Tinggal jawab apa susahnya, sih? Pakai rahasia-rahasia segala," geramnya sambil mengepalkan tangan. "Ah! Paling-paling juga bangkrut." Sinta tersenyum miring.
Perempuan itu lalu melangkahkan kakinya menuju ruang guru.
***
"Rin, semalam kalian pacaran ke mana?" tanya Mutiara sambil duduk dan membolak-balik majalah fashion.
"Anu. Pokoknya ke tempat yang romantis, Ma," jawab Arini gagu. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bisa gawat nanti. Kalau sampai mertuanya ini tahu Leon membawanya ke bukit itu lagi, pasti Leon akan di ceramahi habis-habisan.
Mutiara hanya mengangguk saja. Matanya fokus menatap majalah.
"Mau ke mana, Pa?" tanya Arini saat melihat Malvin berpakaian rapi.
Mutiara juga ikut menatap suaminya itu. Tapi ia sudah tahu suaminya akan ke mana, karena Malvin sudah mengatakannya tadi.
"Ke kantor Leon, Rin. Mau ngecek perusahaan. Kasihan Leon sendirian," ujar Malvin sambil memasang kancing lengan bajunya.
__ADS_1
Arini menganggukkan kepalanya.
"Aku berangkat," ujar Malvin pada Mutiara.
Salam perpisahan mereka manis sekali, Malvin mencium kening Mutiara dan Mutiara mencium kening Malvin balik.
"Besok Mama sama Papa sudah harus pergi lagi, Rin. Kalau misalnya ada apa-apa, kabari Mama, ya?!" kata Mutiara sambil menutup majalahnya dan menatap Arini.
Arini mengangguk paham. "Iya, Ma."
Ani sedang belanja di pasar. Wulan sedang bermain dengan Yusuf di taman belakang rumah. Jasmine sekolah, Leon dan Malvin kerja. Hanya ada Arini dan Mutiara saja di dalam rumah ini.
"Jasmine itu anaknya gimana, Rin?" tanya Mutiara.
Arini tak langsung menjawab, ia bengong sesaat. Tumben sekali ibu mertuanya ini membahas Jasmine.
"Rin...," panggil Mutiara saat melihat Arini hanya bengong saja.
"Oh, anu, Ma. Jasmine itu cerdas. Suka melukis. Tidak nakal. Lucu juga," ujar Arini apa adanya. Karena ya memang seperti itu anaknya.
"Di sekolah dia gimana?"
"Baik."
"Sering di bully?"
Arini mengerutkan keningnya samar. Tahu dari mana ibu mertuanya ini?
"Mama pernah tidak sengaja dengar pembicaraan Ani dan Wulan. Katanya Jasmine sering di bully di sekolah. Sebenarnya Mama ini tidak benci dengan Jasmine. Tapi entah mengapa, saat melihat Jasmine, Mama selalu ingat ibunya."
Arini diam saja. Ia menunggu ibu mertuanya melanjutkan kata-katanya.
"Kalau memang Jasmine sering di bully, alangkah lebih baiknya kalau dia di pindah sekolah saja, Rin. Mama kasihan lihat anak balita di bully. Nanti psikis-nya bisa kena."
"Nanti Rini diskusi sama Leon dulu, Ma. Sekalian tanya anaknya, mau di pindah sekolah apa tidak?"
Mutiara mengangguk sambil kembali membuka majalah fashion.
Arini sendiri tidak pernah sama sekali membuka majalah fashion milik mertuanya itu. Maklumlah, Arini ini kurang gaul kalau di bandingkan dengan ibu mertuanya.
__ADS_1
Mutiara walaupun sudah berumur, tapi selera fashionnya tinggi. Sering perawatan wajah dan rambut serta kuku juga. Pokoknya gaul sekali, lah.