
Leon tengah termenung di ruang kerjanya. Ia memikirkan tentang semua istrinya dan juga anaknya.
Becca kembali lagi dingin. Sejak kejadian hari itu sampai sekarang ia belum ada bicara sepatah katapun kepada Leon. Terhitung sudah satu bulan lamanya Becca puasa bicara pada Leon.
Sementara Diana, kondisi perempuan itu sudah membaik. Dia sudah pulang ke rumah. Namun kepergian sang jabang bayi membuat Diana semakin kejam dari biasanya. Ia mengekang Leon supaya tidak meninggalkannya sendirian. Juga memaksa Leon untuk menceraikan ketiga istrinya yang lain dan hanya hidup bersama Diana saja.
Tentu saja Leon menolak keinginan gila Diana. Ia bahkan sampai berkata ingin menceraikan Diana jika perempuan itu masih saja berulah. Seperti kejadian pagi tadi sebelum Leon berangkat kerja.
"Stop Diana! Berhenti menyuruhku menceraikan ketiga istriku. Kamu tidak ada hak untuk mengatur-ngatur hidupku, Diana! Bahkan sebelum kita menikah kamu sudah tahu posisiku. Harusnya kamu bisa mengerti itu!" Tanpa sengaja Leon berbicara dengan suara tinggi.
Diana terperanjat karena kaget. Ia menatap Leon tak percaya. "Kau membentakku?"
"Maaf. Aku tidak sengaja," lirih Leon.
"Kau semakin kejam, Leon! Ini pasti karena kau terlalu setres akibat memikirkan istrimu yang banyak itu. Saranku, ceraikan mereka semua dan hidup bahagia bersamaku saja," ucap Diana sambil memainkan rambut panjangnya.
"Sekali lagi kau menyuruhku menceraikan Arini, Becca dan Calina, maka dapat kupastikan kau lah yang akan kuceraikan!"
Setelah berkata demikian, Leon langsung berlalu meninggalkan Diana begitu saja. Ia mengendarai mobilnya dengan perasaan yang campur aduk.
Leon menarik nafas berat. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut. Sekarang ia baru sadar, bahawa keputusannya memiliki banyak istri bukanlah keputusan yang tepat.
Suara pintu diketok membuat Leon memindai pandangannya dari meja ke arah pintu. Dari arah pintu muncul seorang laki-laki muda yang bekerja sebagai sekretarisnya.
"Ada apa, Bim?" tanya Leon pada sekretarisnya.
"Proposal untuk kerjasama dengan Green Supermarket sudah di acc, Pak. Pihak supermarket meminta bertemu kita besok siang," beritahu Bimo-- sang sekretaris.
"Baik. Ada lagi?" tanya Leon.
"Tidak ada, Pak. Saya permisi dulu."
__ADS_1
Bimo langsung keluar dari ruang kerja Leon.
Diawal berdiri, usaha Leon cukup bagus. Pihak Green Supermarket adalah calon client pertama Leon. Semoga saja tidak lama lagi banyak yang menyusul.
Izin usaha dan sertifikat halal dari MUI sudah Leon dapatkan. Sehingga cukup mudah bagi Leon untuk memasarkan produknya yang berupa daging sapi lokal yang berkualitas baik.
Suara pintu diketuk lagi membuat Leon menatap ke arah pintu. Dari balik pintu muncul sosok Arini yang tersenyum cerah dan membuat mood Leon menjadi baik.
"Dengan siapa, sayang?" tanya Leon setelah Arini duduk di sofa panjang. Leon pun ikut duduk di sofa tepat disebelah Arini. "Kok tidak mengabariku hendak kemari?"
"Sendiri. Naik taksi online. Sengaja mau memberi kejutan," ucap Arini sambil tersenyum misterius.
"Biar kutebak. Sepertinya ini bukan kejutan biasa. Terlihat sekali dari ekspresimu yang seperti matahari terbit," ucap Leon sambil menatap wajah cerah Arini.
"Matahari terbit?" Arini mengerutkan keningnya samar.
"Cerah, sayang," ucap Leon. "Sekarang katakan kejutan apa itu. Aku penasaran," lanjutnya.
"Aku menstruasi lagi. Dan setelah periksa ke dokter, ternyata aku kembali memiliki rahim," ucap Arini sambil tersenyum lebar sekali.
Sebenarnya Arini sudah pernah hamil. Tapi keguguran di usia kandungan yang ketiga minggu. Saat itu Arini mengalami pendarahan hebat. Lalu dokter mengambil tindakan operasi mengambil rahim Arini.
Dan sekarang rahim itu ada lagi. Kalau bukan karena kehendak Tuhan, mana mungkin hal itu bisa terjadi.
Sekujur tubuh Leon merinding karena merasakan keajaiban Tuhan. Ia bahkan tak berhenti menangis karena terlampau bahagia.
Leon melepaskan pelukannya dan menangkap wajah Arini dengan kedua tangannya. "Aku sangat bahagia. Rasanya tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Aku bahagia, sayang," lirih Leon sambil tersenyum lebar sekali.
"Aku juga," balas Arini sambil tersenyum lebar pula. Jujur saja, saat mendapatkan fakta bahwa dirinya kembali memiliki rahim, Arini sempat tak percaya. Ia bahkan sampai memeriksakan dirinya ke empat dokter yang berbeda. Dan syukurlah semuanya mengatakan hal yang sama. Sehingga Arini tidak patah hati karena merasakan di PHP-kan oleh dokter.
"Aku akan membuat pesta kecil untuk kita bersua," ucap Leon antusias. "Aku akan mengundang chef terkenal untuk masak makan malam kita," lanjutnya.
__ADS_1
"Menggunakan sapi dari sini," timpal Arini sambil terkekeh.
"Tentu," sahut Leon.
Arini tersenyum melihat Leon yang mulai sibuk mendial nomor chef kenalannya.
Ada satu hal yang membuat Arini bertahan dengan Leon hingga saat ini. Bahkan alasan tersebut tidak diketahui oleh siapapun. Termasuk Leon sendiri.
Satu-satunya alasan tersebut adalah: Leon merupakan jodoh istigharah Arini. Sehingga bagaimanapun sifat dan perilaku Leon, Arini mencoba bertahan. Ia memang tidak memiliki hati seperti malaikat. Oleh karena itu, ia sempat marah kepada Leon saat tahu dirinya di poligami. Ia bahkan pernah merasa ragu kalau Leon adalah jodoh istikharahnya. Hingga pada suatu titik, Arini kembali melakukan istigharah untuk meminta petunjuk Allah, apakah meninggalkan Leon adalah keputusan yang tepat. Namun lagi-lagi ia mendapatkan jawaban bahwa Leon adalah jodohnya.
Walaupun pada awalnya Arini ragu dan ingin menyerah, namun sekarang ia sudah ikhlas. Ia yakin, pada akhirnya ikhlas pasti akan berbuah manis.
"Yes! Berhasil," ucap Leon sambil menaruh ponselnya di atas meja.
"Berhasil apa?" tanya Arini.
"Chef Reno akan masak untuk makan malam spesial kita," ucap Leon penuh semangat. "Besok malam. Di apartemen kamu," lanjutnya.
"Ide bagus. Kebetulan aku sedang libur," sindir Arini karena kesal Leon memutuskan semuanya sendiri. Bagaimana jika ternyata ternyata ia ada jadwal kerja? Beruntung besok Arini libur.
Leon hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf," lirihnya.
Terlampau bahagia membuat Leon melupakan satu hal.
Meminta pendapat Arini.
"Dimaafkan," ucap Arini dan dibalas Leon dengan cengiran malunya.
***
Btw kasus perempuan harus kehilangan rahim karena pendarahan hebat aku dapatkan dari riset di internet. Dan kalau ternyata riset aku salah, please, mohon dimaafkan wahai tenaga medis dan silahkan diperbaiki yang benarnya seperti apa dengan cara tulis di kolom komentar.
__ADS_1
Dan untuk wanita yang telah kehilangan rahim tapi bisa kembali memiliki rahim, juga aku dapatkan dari riset di internet. Buat yang tidak percaya ya tidak apa-apa. Semua itu kembali dari kita masing-masing.
Happy reading