Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Frans


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Jasmine sudah lulus TK nol kecil. Rencananya tahun ini gadis cilik Arini dan Leon itu akan langsung masuk ke SD. Akan tetapi jika tidak ada SD yang mau menerimanya, ia akan melanjutkan ke TK nol besar dulu. Karena memang usia Jasmine masih kecil sekali. Tahun ini baru lima tahun. Biasanya untuk masuk SD minimal berusia enam tahun.


Sedangkan Yusuf, tahun ini ia akan masuk PAUD. Bocah laki-laki cilik itu sangat antusias sekali ingin segera masuk sekolah. Ia selalu menanyakan, kapan dirinya akan masuk sekolah? Kapan? Dan Arini serta Leon selalu memberikan jawaban yang sama: satu bulan lagi.


Wulan telah resign dan ingin melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Ia akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah masak di luar negeri. Dirinya mendapatkan beasiswa dari sebuah perusahaan ternama.


Leon memang belum sembuh total, tapi ia sudah bisa melakukan banyak aktivitas sendiri. David masih bekerja dengan dirinya, tapi memang sudah tidak sebagai perawat lagi.


Sekarang tugas David adalah sebagai supir pribadi Leon. Karena memang, saat ini Leon belum bisa menyupir mobil sendiri. Walaupun di kontrak kerjasama dirinya bekerja sebagai perawat, tapi saat dirinya dipindah tugaskan menjadi supir, ia tak keberatan sama sekali.


Bagi David, kerja apapun itu asalkan halal akan ia lakukan. Lagipula jaman sekarang mencari pekerjaan itu sangat sulit. Oleh karena itu, dirinya tidak akan pernah pilih-pilih pekerjaan.


Keluarga Leon sedang berlibur di puncak. Ani dan David ikut serta. Liburan ini adalah untuk merayakan kelulusan Jasmine. Pasalnya Jasmine lulus dengan nilai yang sangat bagus.


Leon sedang berjalan sendirian di sekitar villa. Tanpa sengaja, matanya melihat seorang laki-laki sedang bermesraan dengan perempuan. Ia mengerutkan keningnya dalam-dalam saat melihat pembangunan yang ada di depannya itu.


"Frans...," gumam Leon sambil mengerutkan keningnya semakin dalam.


Ya, Leon masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Frans. Walaupun ia baru satu kali melihat laki-laki itu, tapi wajahnya begitu melekat diingatan Leon. Mana mungkin Leon lupa pada ayah biologis Arjuna itu.


Leon bertanya-tanya siapa perempuan yang bersama Frans itu. Pasalnya, Leon berfikir setelah Calina bercerai dari dirinya, mantan istrinya itu akan menikah dengan ayah biologis dari anaknya. Tapi ternyata yang Leon lihat sekarang bukanlah Calina.


Semenjak Leon dan Calina bercerai, belum pernah satu kalipun mereka bertemu. Calina tidak pernah menghiraukan jika Leon mengirimkan pesan ingin bertemu Arjuna. Dan hingga detik ini, Leon tidak tahu dimana tempat tinggal Calina dan anaknya itu.

__ADS_1


Sebenarnya semua akses komunikasi Leon dan Calina sudah di blokir oleh Calina. Tapi pernah beberapa kali Leon membuat akun Instagram anonim dan mengirimkan pesan kepada mantan istrinya itu untuk diizinkan bertemu dengan Arjuna. Tapi lagi-lagi, akun Instagram baru itu selalu di blokir oleh Calina.


Leon hanya tahu informasi Calina dari internet saja. Leon juga hanya bisa melihat tumbuh kembang Arjuna dari sosial media pribadi Calina.


Meskipun Arjuna bukan anak biologisnya, tapi Leon tetap sayang pada bocah laki-laki itu. Biar bagaimanapun, Arjuna pernah memberikan warna pada kehidupan seorang Leon.


Leon memang kecewa pada ibunya, tapi tidak dengan anaknya. Bagi Leon, Arjuna tetaplah anaknya juga. Tapi adalah daya Leon, Calina benar-benar memblokir akses dirinya pada Arjuna.


Dan sekarang, Leon sudah menyerah. Ia tak ingin mengganggu hidup Calina lagi. Biarkan mantan istrinya itu hidup dengan tenang.


Jika kelak Arjuna mencari dirinya, maka ia akan menerima Arjuna dengan sangat bahagia. Karena di akta kelahiran Arjuna, Leon tertulis sebagai ayah dari bocah laki-laki itu.


"Apa kabar Arjuna, ya?" gumam Leon nyaris tanpa suara.


"Kamu ngapain?" tanya Arini sambil melihat ke arah pandang Leon tadi. Posisi mereka dipisahkan oleh tanaman bonsai yang tumbuh subur. Sehingga Arini tadi tidak tahu apa yang terjadi di seberangnya. Namun setelah ia mengintip, ternyata itu adalah pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.


Arini langsung membuang mukanya begitu melihat satu pasang insan sedang bermadu kasih. Aneh sekali orang jaman sekarang, apa mereka lupa kalau ini adalah tempat umum. Memangnya mereka tidak bisa melakukan itu di kamar?


Ya, walaupun yang mereka lakukan hanya sebatas kissing. Tapi tetap saja, itu tidak sopan jika dilakukan di tempat terbuka seperti ini. Bagaimana jika dilihat anak-anak?


Arini lalu menarik tangan Leon untuk menjauh. Mereka lalu duduk di kursi kayu panjang yang ada di bawah pohon rambutan.


"Kamu dari tadi lihatin orang pacaran?" tanya Arini sambil menatap Leon lurus. Ia menyilangkan kaki kanannya pada kaki kiri.

__ADS_1


Leon jadi bingung sendiri. Tampaknya Arini sedang salah paham. Untuk apa juga ia melihat orang pacaran. Toh ia sudah memiliki istri yang sangat cantik, jadi tak ada gunanya ia melihat orang bermadu kasih seperti itu.


Ia tadi hanya tak sengaja melihat. Dan setelah tahu siapa laki-laki itu, entah mengapa kakinya tiba-tiba saja tidak bisa bergerak. Dan sialnya, Arini memergoki saat dirinya menatap Frans dan perempuan itu tanpa berkedip.


Leon menggeleng pelan. "Laki-laki itu Frans," beritahu Leon dengan nada rendah.


"Frans?" Arini mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia tak pernah mendengar nama Frans sebelumnya. Siapa Frans itu?


"Frans adalah ayahnya Arjuna," ujar Leon sambil menarik rumput yang ada di sebelahnya. Ia memandang lurus ke depan.


Arini tak langsung menjawab, ia diam beberapa detik. "Kamu ingat Calina?" tanya Arini setelah ia diam cukup lama.


"Hhmm..." Leon menoleh spontan ke arah Arini. Dari nada suaranya, Arini sedang tidak bersahabat.


Jangan sampai terjadi perang dunia ke tiga, batin Leon cemas.


Gawat sekali kalau Arini sampai berfikir macam-macam, apalagi sampai marah besar. Leon sudah lelah dengan masalah hidup, ia ingin hidupnya damai tanpa ada masalah berarti.


Wajah Arini berubah masam. Dari ekspresinya saja Leon sudah tahu kalau Arini sedang marah. Leon menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia berdo'a dalam hati, semoga Arini hanya marah sesaat saja.


"Sayang..." Leon menggenggam tangan Arini yang berada di pangkuannya. "Kamu marah?" tanya Leon hati-hati.


Arini hanya diam saja. Perempuan itu memandang lurus ke depan. Melihat hijaunya pemandangan alam yang segar.

__ADS_1


Leon semakin salah tingkah sendiri. Ia sungguh tak ada niat untuk membuat Arini marah seperti ini. Kalau waktu bisa diputar lagi, Leon akan mengaku dia sedang mengintip orang pacaran saja.


__ADS_2