
Leon mengambil cuti dua minggu dari kantor. Satu hal yang baru Leon ketahui adalah, bahwa perusahaan tempatnya bekerja sekarang ini adalah perusahaan adik dari papanya Diana. Jadi dalam hal ini adalah Om-nya Diana.
Leon bisa mendapatkan cuti selama itu padahal beberapa bulan sebelumnya ia telah mengambil cuti untuk menikah dengan Becca, semua itu berkata bantuan Diana.
Selama dua minggu itu pula, Leon dilarang menemui istrinya yang lain. Ia harus bersama Diana saja. Kemarin mereka melakukan penerbangan ke Bali.
"Kau memikirkan istrimu yang lain?" tanya Diana saat ia melihat Leon hanya diam saja duduk di balkon resort.
"Aku harus memberi kabar kepada istriku yang lain. Kembalikan ponselku!" Suara Leon dingin dan tanpa melihat ke arah Diana.
"Tidak semudah itu," sahut Diana sambil tersenyum misterius. Ia lalu mengambil duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Leon. "Ada syaratnya!"
"Katakan!" kata Leon tidak sabar. Bagaimana bisa sabar, beberapa hari ini tidak bisa menghubungi Arini, Becca dan juga Calina karena ulah Diana. Perempuan itu sukanya mengancam.
Ia mengancam akan mencelakai Becca dan bayinya jika Leon sampai berani berbuat macam-macam. Macam-macam dalam versi Diana adalah: Leon tidak menuruti keinginan Diana.
"Syaratnya kau harus menceraikan semua istrimu dan hidup bersamaku sampai tua," kata Diana sambil memainkan rambut panjangnya dan tersenyum miring.
"Kau gila!" maki Leon.
"Ya. Aku memang gila. Gila karena kau, Leon!" Diana tertawa cukup nyaring. Barang siapa yang mendengar tawa Diana maka ia akan meringding dan teringat akan sosok Mak Lampir.
"Berhentilah bicara omong kosong, Diana!" bentak Leon mulai emosi. Ia menatapĀ Diana dengan tajam.
"Kau sangat emosi, sumiku sayang." Diana mengelus dada bidang Leon. "Baiklah, akan kukembalikan ponselmu. Tapi ingat! Hanya chat saja. Tidak untuk telepon dan video call. Paham, sayang?" kata Diana sambil memasukkan tangannya ke saku celana. Lalu ia mengeluarkan benda pipih persegi panjang yang menurut Leon itu adalah nyawanya. Karena tanpa benda tersebut ia tidak bisa memberi kabar istri-istri tercintanya.
Dengan cepat Leon langsung merampas ponselnya. Setelah itu, jari-jari tangannya lincah mengetik di atas layar. Pertama ia mengirimkan pesan kepada Arini, lalu Becca, dan terakhir Calina.
"Tidak lebih dari sepuluh menit!" kata Diana lalu berlalu masuk ke dalam kamar.
Leon menghembuskan nafas lega saat Diana meninggalkannya sendirian. Baginya sendiri lebih baik daripada berdua tapi bersama Diana.
Sudah dua menit berlalu. Tidak ada satupun balasan dari ketiga istrinya. Leon mengetuk-ngetukkan jarinya pada pinggiran bangku.
"Ayo! balas, dong!" gumamnya bermonolog sambil matanya menatap layar ponsel tanpa berkedip.
Ting.
__ADS_1
Calina
Oh, Leon! Kau sungguh lucu. Bagaimana bisa laki-laki sepertimu sampai tidak berdaya saat ponselmu di sita?
Kau tidak bisa melawan?
Ya ampun, malang sekali nasibmu.
BTW aku baik. Sekarang lagi ada konser di luar kota.
Leon menghembuskan nafas kasar saat membaca pesan dari Calina. Calina memang selalu begitu dari dulu. Bicaranya asal ceplos.
Leon
Kau jangan mengejekku, wahai istri ketiga.
Sebenarnya aku bisa saja merebutnya secara fisik, tapi itu akan berbahaya.
Sepertinya Diana sedang merencanakan sesuatu. Aku tidak mau gegabah. Oleh karena itu, kuikuti saja kemauannya.
Bye.
Luv yu.
Calina
Luv yu tu.
Leon mengharapkan ada balasan dari Arini Dan Becca, namun nihil.
Keduanya tidak ada tanda-tanda akan membalas pesan Leon. Dibaca pun tidak, bagaimana mau membalas?
Leon semakin frustrasi karena waktu terus berjalan. Ternyata sepuluh menit itu tidak lama.
"Waktu habis, wahai Tuan Tampan. Kembalikan ponselmu!" Tiba-tiba saja Diana sudah berdiri di samping Leon sambil menengadahkan tangan kanannya. Meminta kembali ponsel Leon.
Dengan terpaksa, Leon memberikan ponsel tersebut kepada Diana. Dan sambil tersenyum menang, Diana mengambil ponsel dari tangan Leon.
__ADS_1
"Kapan kau akan memperkenalkanku dengan ibu dan bapak mertuaku?" tanya Diana sambil duduk di sebelah Leon.
Leon tidak langsung menjawa. Ia termenung beberapa saat. Becca pun sering menanyakan hal tersebut padanya. Karena selama beberapa bulan ini menjadi istrinya, Becca dan kedua orang tua Leon belum pernah berkenalan. Kedua orang tua Leon hanya sayang pada Arini.
Sedangkan Calina? Perempuan itu tidak pernah menuntut apa-apa dari Leon. Bahkan menanyakan orang tua Leon pun tidak. Entahlah Leon tidak tahu. Calina cuek atau memang tidak perduli sama sekali.
Jadi laki-laki memang enak. Bisa sah menikah meski tanpa wali dan persetujuan istri yang lainnya. Begitulah yang dilakukan Leon selama ini.
"Kau melamun, hm? Aku menanyaimu, Leon! Jawablah!" Kata-kata Diana terdengar menuntut dan penuh penekanan. Membuat Leon menghembuskan nafasnya kasar.
"Nanti, Diana. Kalau sudah saatnya, baru aku akan memperkenalkanmu pada orang tuaku," bohong Leon. Ia sedang malas berdebat dengan Diana. Sehingga kata-kata bohong merupakan senjata yang ampuh menurut Leon. Karena dengan demikian Diana tidak akan menuntutnya lagi.
Diana tidak langsung menjawab, ia memainkan kuku tangannya yang panjang dan berwarna gold. "Apa Becca sudah pernah bertemu mertua?" tanya Diana dengan pandangan ke kukunya.
"Itu bukan urusanmu, Diana!" jawab Leon tidak suka.
Diana tersenyum sinis. "Pasti belum, kan?" tebaknya.
Leon memilih diam dan tidak menanggapi kata-kata Diana. Perempuan itu sungguh menyebalkan. Leon sungguh menyesel telah bermain-main dengannya. Kalau saja Leon tahu akan terjadi seperti ini, Leon tidak akan pernah mau bermain-main dengan perempuan menyeramkan itu. Apalagi sampai menikah.
"Kau memikirkan balasan pesan dari Arini dan Becca, bukan?" tebak Diana sambil tersenyum misterius.
Leon memandang Diana heran. Dari mana Diana tahu hal tersebut? "Tebakanmu salah!"
"Berhenti bicara omong kosong, Leon! Aku sudah menyadap ponselmu. Bahkan aku tahu, kau sengaja menghapus riwayat percakapan dengan mereka supya tidak ketahuan olehku. Tapi itu percuma, Leon! Karena aku sudah mengetahuinya," sinis Diana dalam senyumnya.
"Kalau kau sudah menyadap ponselku, harusnya kau tak perlu menyitanya," ucap Leon tak kalah sinisnya.
Leon memejamkan matanya kuat-kuat. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia sampai tidak menyadari kalau Diana melakukan tindakan tersebut.
"Sekarang ayo masuk ke kamar! Dan silahkan berikan hak-ku sebagai istri!" perintah Diana bengis dan tak terbantah.
"Aku tidak bisa. Aku tidak mencintaimu," tolak Leon halus supaya tidak menyinggung Diana.
"Shit! Sejak kapan laki-laki sepertimu melakukan itu hanya dengan perempuan yang ia sukai, heh?" Diana tersenyum sinis ke arah Leon. "Jangan sok jual mahal, Leon!"
Dengan wajah tersenyum iblis, Leon membopong Diana menuju kamar. Entah ia memang ingin atau ia hanya sedang marah jadi menginginkannya. Entahlah, Leon tidak tahu itu.
__ADS_1