Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Peduli Jasmine


__ADS_3

Setelah pembulian ekstrem tersebut, Jasmine tidak masuk sekolah karena masih trauma. Leon dan Arini pun tidak memaksa Jasmine untuk masuk sekolah. Biarkan saja apa maunya Jasmine, selama itu baik untuk dirinya, Arini dan Leon pasti akan mendukung.


"Jasmine bilang dia di bully gara-gara Sinta. Kata Sinta kamu bangkrut. Terus teman-temannya bilang Jasmine sudah tidak layak lagi sekolah di sana, karena sekolah itu khusus untuk anak orang kaya. Kok bisa sih anak TK mikir begitu, heran aku." Arini bicara sambil merapikan tempat tidur mereka.


"Sinta? Sinta bilang aku bangkrut?" tanya Leon tak percaya.


Arini mengangguk sambil menaruh bantal pada posisi yang sesungguhnya.


Leon menggeram kesal. Pembulian pada Jasmine sudah tergolong tidak bisa di maafkan lagi. Pasalnya anak-anak tersebut sudah main fisik, bukan hanya secara verbal saja.


"Kita harus bicara pada pihak sekolah," ujar Leon. Laki-laki itu duduk di meja rias sambil melihat ke arah istrinya yang sedang merapikan tempat tidur.


"Aku setuju. Malah Mama bilang, harusnya Jasmine pindah sekolah saja," ujar Arini masih dengan aktivitas membereskan tempat tidur.


"Mama?" Leon mengerutkan dahinya.


"Ya. Sebenarnya Mama sayang kok sama Jasmine. Tapi mungkin masih agak canggung untuk mulai interaksi."


Leon menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Ngomong-ngomong waktu kemarin aku ngantar Jasmine ke sekolah, aku ketemu Sinta. Dia nanya, kenapa pindah? Pindah ke mana? Tapi tidak aku jawab. Mungkin dari sana dia berspekulasi kalau aku bangkrut."


"Kemarin ini?" tanya Arini.


"Iya."


"Memang keterlaluan Si Sinta itu. Kita harus datang ke sekolah hari ini juga."


"Ya. Aku setuju. Mumpung Jasmine tidak masuk hari ini. Jadi dia tidak perlu melihat kemarahan kita di sekolah," ujar Leon seraya merapikan rambutnya dan menghadap cermin.


"Oke. Aku siap-siap dulu," ujar Arini dan di-angguki oleh Leon.


Ibu Jasmine dan Yusuf tersebut lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Keluarga kecil Leon sedang melangsungkan sarapan. Personelnya lengkap. Ada Malvin, Mutiara, Leon, Arini, Jasmine dan Yusuf.


"Kalian jadi ke sekolah hari ini?" tanya Malvin. Laki-laki paruh baya tersebut sudah tahu semuanya dari sang istri.


Leon mengangguk yakin. "Iya, Pa. Mereka sudah sangat keterlaluan. Tidak bisa di diamkan saja." Saking emosinya Leon, tanpa sadar ia menggenggam sendok dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Jasmine memangnya masih mau sekolah di sana? Tidak mau pindah?" tanya Mutiara dengan ekspresi datarnya.


Jasmine tidak berani menjawab karena wajah Mutiara menyeramkan. Lagian selama ini neneknya itu belum pernah menegur dirinya sama sekali. Wajar jika Jasmine takut.


"Yang manis kalau tanya sama balita." Malvin menyenggol perut Mutiara pelan. "Wajah serem seperti itu, mana berani anaknya jawab."


"Memangnya Oma serem, ya, Yusuf?" Mutiara menoleh pada Yusuf yang ada di sebelahnya.


Dengan polosnya Yusuf menggeleng. "Selem itu hantu, Oma," ujarnya dengan tampang polos.


Leon menahan tawanya. Lucu sekali ibu dan anaknya ini.


"Kamu mau pindah sekolah atau tetap di sana?" Mutiara bertanya lagi pada Jasmine. Tapi kali ini ekspresinya lebih bersahabat. Tidak galak seperti tadi.


"Jasmine sudah mau lulus, Oma. Sayang kalau mau pindah," jawab Jasmine dengan suara pelan. Sungguh demi apa, walaupun ekspresi Mutiara sudah kalem, tetap saja seram di mata Jasmine.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau pindah," kata Mutiara sambil kembali melanjutkan makannya. Baru saja ekspresinya manis, sekarang sudah berubah seram lagi.


Arini mengelus puncak kepala Jasmine yang ada di sebelahnya. "Mau tambah lagi, Nak?" tanyanya.


Jasmine menggeleng pelan. "Kenyang, Ma," jawabnya.


Mereka lalu melanjutkan sarapan lagi. Malam nanti Mutiara dan Malvin akan kembali ke luar negeri. Jadi pagi ini keduanya menghabiskan sarapan dengan khidmat bersama keluarganya.


***


Jasmine sedang melukis di kanvas berukuran sedang. Tentunya dia tidak sendirian. Ada Wulan di sebelahnya.


Keduanya duduk di taman belakang rumah. Tak jauh dari tempat mereka, ada Ani sedang membersihkan kolam renang.


Ayah dan ibu Jasmine sudah berangkat ke sekolah untuk meminta pertanggungjawaban pihak sekolah. Sementara kakek nenek dan adiknya ada di dalam rumah entah sedang bermain apa.


Harusnya kemarin Jasmine sudah mulai les melukis, tapi karena dia cidera. Terpaksa tidak bisa datang.


Sebenarnya Jasmine sudah memaksa hendak datang saja, tapi Arini tidak mengizinkannya.


"Nanti sore Jasmine mulai les, Aunty. Aunty Wulan mau ikut, tidak?" Jasmine menawarkan sambil tangannya lihai mencoret-coret di atas kanvas.


"Memangnya boleh?" tanya Wulan tak percaya.

__ADS_1


"Boleh, dong. Jasmine sudah bilang sama Mama. Kata Mama boleh."


"Yes!" Tanpa sadar Wulan meninju udara saking girangnya.


Wulan tahu, Sanggar Pratiwi adalah sanggar unggulan. Sudah sejak lama dia ingin ke sana, tapi belum ada kesempatan. Jadi ketika di ajak oleh Jasmine, dia sangat merasa senang.


Ya, walaupun di sana nanti dia hanya bisa menonton dari jarak jauh, tapi tidak apa-apa. Yang penting dia tidak penasaran lagi.


"Aunty, Jasmine mau curhat," ujar Jasmine serius. Bocah cilik tersebut menaruh kuasnya dan menatap Wulan.


"Curhat apa?" tanya Wulan penasaran.


"Masa tadi pas sarapan, Oma Tiara negur Jasmine. Oma nanya gini, 'Jasmine mau pindah sekolah atau tetap lanjut di sana?'. Kok tumben ya Oma mau ngomong sama Jasmine," ujar Jasmine dengan ekspresi polosnya.


"Itu tandanya Oma peduli sama Nona Jasmine," ujar Wulan.


"Aunty panggil Jasmine saja, lah. Jangan Nona-nona. Jasmine tidak suka," protes Jasmine. Pasalnya dia sering protes seperti ini pada Wulan, tapi Wulan tak pernah menggubrisnya.


"Tidak mau, ah. Aunty suka Nona Jasmine."


"Jasmine tidak!" Bocah cilik tersebut melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir monyong lima centi.


Wulan geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak majikannya itu.


Lucu sekali.


"Iya iya. Mulai sekarang, Aunty akan panggil Jasmine saja. Tidak pakai Nona," kata Wulan pada akhirnya.


"Nah, gitu, dong! Sekalian kasih tau Bude Ani. Suruh panggil Jasmine juga. Jangan pakai Nona-nona."


"Siap, Jasmine!" Wulan bersikap tegak khas prajurit. "Sekarang lanjutin lagi melukisnya!"


Tanpa menunggu di suruh dua kali, Jasmine lalu melanjutkan lagi melukisnya.


"Wulan... Tolong buatkan saya jus semangka," ujar Mutiara dari jarak yang cukup jauh. Tuan rumah tersebut menggendong Yusuf di sebelah kanan.


"Baik, Oma!" sahut Wulan sigap. Dia lalu menatap Jasmine sebentar. "Aunty buat jus dulu, ya?"


Jasmine mengangguk patuh.

__ADS_1


Sepeninggal Wulan, Jasmine sendirian saja. Bocah cilik tersebut kembali melanjutkan melukis.


"Apa iya Oma peduli sama Jasmine?" gumamnya nyaris tanpa suara.


__ADS_2