Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Ngidam


__ADS_3

"Calina, aku harus pulang sekarang. Istriku yang lain membutuhkanku," kata Leon sambil memakai pakaiannya.


"Ini sudah malam. Kamu yakin akan pulang sekarang? Tidak bisa ditunda sampai besok pagi?" tanya Calina sambil menutup mulutnya karena ia menguap. Ia sungguh ngantuk berat, karena sekarang sudah pukul satu dini hari.


"Iya. Becca-- istri keduaku ngidam nasi kucing," kata Leon sambil mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas. "Aku tinggal, ya? Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama," kata Leon. Ia lalu mencium singkat pipi Calina yang terbaring di atas ranjang.


"Tidak masalah. Sejak awal aku tidak mengikatmu untuk sering-sering bersamaku, bukan? Aku membebaskanmu, Leon," jawab Calina dengan santainya. "Pergilah! Aku tidak bisa mengantarmu keluar. Aku ngantuk berat," gumam Calina sambil terpejam.


"Baiklah. Aku pergi. Kau hati-hati. Kalau ada apa-apa, kabari aku," kata Leon. Ia mencium pipi Calina singkat.


"Iya. Pergilah!" sahut Calina masih dengan mata terpejamnya. Ia memang sedang ngantuk berat.


Dengan langkah lebar, Leon menuju basement apartemen lalu mengambil mobilnya. Tujuannya saat ini adalah mencari penjual angkringan.


Leon tak habis fikir, ada-ada saja dengan Becca. Kok bisa-bisanya ia ngidam nasi kucing. Sungguh aneh. Tapi untung saja Becca mintanya malam-malam begini, bukan pagi atau siang. Soalnya kalau pagi atau siang, penjual angkringan belum buka.


Ponsel di saku celananya berdering. Ternyata Becca.


"Hallo, Honey. Aku sedang di perjalanan. Apakah kau baik-baik saja?" tanya Leon setelah ia mengangkat telepon dari Becca.


"Aku baik, Mas. Nasi kucingnya jangan lupa, ya! Aku sudah ngiler, nih. Jangan sampai tidak dapat, loh," kata Becca dari seberang sana.


"Siap, Honey. Ditunggu," sahut Leon bersemangat. Terang saja ia bersemangat karena yang meminta sesuatu adalah calon anaknya yang selama ini ia nanti-nantikan kehadirannya.


"Iya," sahut Becca. Ia lalu memutuskan sambungan telepon.


Leon menyusuri jalan sambil matanya melihat kanan kiri. Siapa tahu ia melihat penjual angkringan. Soalnya, ia tidak familiar dengan pedang angkringan. Ia tidak tahu mereka berjualan di daerah mana saja. Karena sebelumnya Leon tidak pernah membeli makanan di tempat tersebut.


Tadi Becca sudah memberitahunya, kalau untuk mendapatkan nasi kucing, itu harus membelinya di penjual angkringan. Jika tidak diberi tahu Becca, manalah ia tahu.


"Mesti nyari di mana, ya?" Leon bermonolog sambil melihat kanan kiri.


Sudah lebih setengah jam ia berkendara, tapi penjual angkringan belum ia temui juga. Ponselnya sudah berdering sejak tadi. Becca mengirimkan banyak pesan.


Becca

__ADS_1


Kamu niat nggak, Mas?


Yang mau anak kita, loh. Bukan aku. Kamu mau anak kita nantinya ngences terus gara-gara ketika dalam kandungan keinginannya tidak terpenuhi?


Leon menghembuskan nafas kasar. Ternyata seperti ini sudahnya menghadapi wanita hamil. Ini baru satu. Bagaimana jika nanti semua istrinya hamil disaat bersamaan? Pasti ia akan lebih kesulitan dari sekarang ini.


Tiba-tiba mata Leon menangkap sebuah warung tenda. Sepertinya itu penjual angkringan.


Setelah ia turuun dari mobil. Ternyata benar.


Yeess!


Batin Leon bersorak gembira. Sampai-sampai tanpa sadar ia meninju udara karena terlampau gembira.


"Nasi kucingnya masih ada, Pak?" tanya Leon sambil melihat-lihat barang dagangan.


"Masih, Mas. Mau lauk apa? Ada telur dadar, tempe orek, tempe gembung dan sambal," kata penjual sambil mengangkat tiga bungkusan kecil.


"Semuanya, Pak. Masing-masing dua bungkus. Sama sate-satenya juga masing-masing dua tusuk," kata Leon dan diangguki oleh si penjual.


Diana berdiri menghalangi gerakannya.


"Beli angkringan?" tanya Diana sambil melirik bungkusan di tangan kiri Leon.


"Iya, kamu kenapa bisa di sini?" Leon melihat kanan-kiri. Rasanya janggal melihat Diana berada di sini.


Diana tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Sepertinya ia mabuk. Leon dapat mencium aroma alkohol dari mulutnya.


"Aku dari kelab. Tuh, di sana." Diana menunjuk arah Selatan. "Mau pulang, mobilku kempes. Order taksi online belum sampai juga hingga sekarang," kata Diana. Suaranya terseret-seret. Persis orang mabuk.


Leon hendak meninggalkan Diana begitu saja, tapi ia tak tega. Bagaimana mungkin seorang laki-laki meninggalkan perempuan sendirian di tengah malam seperti ini? Apalagi dia dalam kondisi mabuk.


"Masuk!" Akhirnya Leon memutuskan untuk mengantarkan Diana pulang.


Selama perjalanan, Diana terus berbicara tidak jelas.

__ADS_1


"Aku ini perempuan tercantik di dunia. Apa kau tidak tertarik padaku, hm?"


Atau.


"Leon, alangkah lebih baik kalau kita secepatnya menikah. Aku mau kok menjadi istri ketigamu."


Leon tidak berniat membalas perkataan Diana, karena menurutnya buang-buang energi saja. Karena Diana sedang dalam keadaan mabuk. Ia sedang dalam keadaan setengah sadar.


"Dimana rumahmu?" tanya Leon.


Sedari tadi Diana tak kunjung menyebutkan alamat rumahnya, padahal sudah beberapa kali Leon mananyakan hal yang sama. Dan sudah terlalu lama mereka mutar-mutar di jalanan.


Merasa pusing, Leon pun menghentikan mobilnya sebentar. Ia lalu menggeledah tas Diana untuk mencari kartu namanya.


Namun nihil. Disana tidak ia temukan apa-apa. Hanya dompet dan kartu debit kredit serta beberapa lembar uang tunai, kartu identitas seperti KTP, dan ponsel. Itu saja.


Mata Leon melihat bangunan hotel tak jauh dari tempatnya sekarang. Ia lalu membawa Diana ke hotel tersebut.


Sesampainya di kamar hotel, Diana menahan Leon agar tidak pergi. Tapi berhubung pikiran Leon masih waras, dan ia masih ingat akan Becca yang sedang menunggu nasi kucing di rumah, Leon pun menolak keras ajakan Diana untuk tetap tinggal.


Dengan gerakan sedikit kasar, Leon mendorong Diana hingga perempuan tersebut tersungkur ke lantai. Setelah itu, Leon langsung angkat kaki seribu menuju rumah Becca.


Semoga Becca belum tidur dan tidak marah. Pikiranya.


Sesampainya di rumah, ia mendapati Becca sedang tertidur di sofa. Leon langsung menggendong Becca masuk ke dalam kamar, tak lupa nasi kucing turut serta ia bawa.


Leon melirik jam yang terpampang di dinding kamar, pukul empat dini hari.


Ini semua gara-gara ulah Diana yang tak kunjung menyebutkan alamat dan melarangnya pergi. Kalau saja Leon tidak bermain kasar, mungkin sampai sekarang ia masih di kamar hotel bersama Diana.


Leon melirik nasi kucing yang ia taruh di atas nakas. Jika di makan besok pagi, pasti sudah basi. Jika Becca tidak jadi memakan nasi kucing tersebut, ia takut anaknya nanti akan ngences ketika sudah lahir. Seperti yang dikatakan Becca tadi.


Kalau membangunkan Becca? Mana mungkin.


Becca terlihat sangat nyenyak. Ia tak tega membangunkankannya.

__ADS_1


Leon menghembuskan nafas dengan kasar. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut.


__ADS_2