Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Satu Atap


__ADS_3

Akhirnya keputusan Arini untuk merawat Becca dan Jasmine-pun disetujui oleh Leon. Meskipun pada awalnya timbul perdebatan alot antara Leon dan Arini. Bukan apa-apa, Leon hanya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dua orang istri tinggal dalam satu atap bukan keputusan yang bagus menurut Leon. Tapi berhubung Arini terus merengek, akhirnya Leon pun luluh.


Saat ini di rumah hanya ada Arini, Becca dan Jasmine saja. Leon sedang bekerja dan Retno sedang berbelanja ke pasar.


Suara tangis Jasmine membuat Arini yang sedang menyetrika menghentikan aktivitasnya. Buru-buru ia lari menuju kamar Becca.


Sesampainya di sana, ia melihat Becca yang sedang duduk di kursi roda sambil bengong menatap dinding. "Ada apa, Bec?" tanya Arini sambil bergegas menggendong Jasmine yang masih menangis. Ia lalu mendekati Becca dengan Jasmine yang ada di gendongannya. Beruntung sekali tangis Jasmine langsung reda begitu di gendong oleh Arini.


"Tanganku kram, Mbak. Tidak bisa digerakkan." Becca menunduk menatap kedua tangannya.


"Ya Allah. Sebelumnya sudah pernah seperti ini, Bec?" tanya Arini cemas. Ia takut jika luka Becca justru bertambah parah dan tidak kunjung sembuh. Kasihan Jasmine.


Becca menggeleng. "Ini baru pertama kalinya, Mbak," jawab Becca. Ia lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya tersebut. Dan untunglah kram itu segera hilang. "Sudah normal kok, Mbak." Becca berkata sambil tersenyum.


"Syukurlah. Mbak mau ke bawah lagi, ya? Masih ada kerjaan. Kalau ada apa-apa panggil Mbak aja," ujar Arini dan diangguki oleh Becca.


Arini lalu melanjutkan aktivitasnya. Sementara itu, Jasmine ia letakkan tak jauh darinya. Batita tersebut tertawa senang sambil memainkan buah-buahan plastik.


Melihat Jasmine yang tertawa riang membuat Arini menjadi bahagia. Bagi Arini, Jasmine adalah mood booster-nya. Do'a yang tak pernah lupa Arini panjatkan kepada Tuhan adalah, semoga ia segera diberikan momongan. Selalu itu yang Arini minta kepada Tuhan. Melihat orang-orang mempunyai buah hati, tak jarang membuat hati Arini teriris.


Sementara itu di kamar Becca. Ia sedang melamun memikirkan nasibnya. Ia ingin segera sembuh. Ia sudah bosan sakit seperti ini.


"Diana!" Becca menggeram dengan pandangan penuh kebencian. Ia menyesal pernah menganggap Diana sebagai sahabat. Entah apa yang merasuki Diana sampai ia tega membuat Becca seperti ini.


Becca menyesali semua yang sudah terjadi. Bahkan ia pun menyesal telah memasukkan Leon dalam kehidupannya. Harusnya dari awal ia menolak Leon. Harusnya dari awal ia tahu ujung dari pernikahan poligami akan seperti apa.


"Mama... Becca kangen." Becca mengambil frame yang berisi foto dirinya dan sang ibu. Foto tersebut di ambil saat Becca wisuda.


Suara ponsel berdering membuat Becca tersadar. Ia lalu menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, dan kemudian mengambil ponsel yang tak jauh darinya.

__ADS_1


"Halo." Terdengar suara Leon dari seberang sana.


"Halo, Mas. Ada apa?" tanya Becca. "Kamu sedang di mana? Berisik."


"Apa, Honey? Kamu bicara apa?" Leon bertanya dengan suara agak keras karena ia sedang berada di keramaian, sehingga ia tak bisa mendengar suara Becca dengan jelas. Ia hanya mendengar suara Becca samar-samar.


Becca langsung memutus telepon secara sepihak. Ia lalu mengirim pesan kepada suaminya itu.


Becca


Ada apa, Mas?


Kamu sedang di mana? Berisik. Chat saja.


Leon


Aku sedang di jalan, Honey. Akan ada meeting dengan client.


Becca mengelus dadanya. Jangan sampai hatinya terbakar karena panas. Leon memang keterlaluan. Memangnya ia tak bisa menanyakan keadaan Becca saja? Mengapa harus Arini? Lagi lagi Arini. Arini terus Arini terus.


Leon memang tidak pernah peka. Laki-laki menyebalkan itu paling tidak bisa menghargai perasaan istri-istrinya. Harusnya ia bertanya kabar Becca terlebih dahulu, barulah menanyakan Arini. Kalau seperti ini kan, Becca bisa galau.


Karena kesal, Becca langsung membuat ponselnya menjadi mode pesawat, agar Leon tak bisa menghubunginya. Dari pada ia sakit hati, lebih baik ia buat ponselnya dalam mode pesawat.


Becca menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dalam hati ia merutuki Leon. Ia menyumpah serapah suaminya itu dalam hati.


Semoga kau impoten! Semoga kulitmu lekas keriput! Agar kau tidak bisa semena-mena terhadap perempuan. Maki Becca dalam hati.


***

__ADS_1


"Bec, ayo makan siang dulu," ajak Arini.


Arini hendak mendorong kursi roda Becca, namun dengan cepat Becca berkata, "Duluan saja, Mbak. Aku masih kenyang." Nada suara Becca sangat ketus, karena ia masih kesal dengan Leon perihal chat tadi pagi.


Arini menunduk dengan kikuk. Ia tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Becca. Namun sebisa mungkin ia tak mengambil hati.


"Ya sudah. Mbak duluan, ya? Kalau kamu mau makan, langsung ke belakang saja," kata Arini dan tak di jawab apa-apa oleh Becca.


Akhirnya mau tak mau Arini meninggalkan Becca begitu saja dan makan siang sendiri. Saat ini Becca sedang duduk di depan televisi sambil memainkan game di ponsel.


Arini makan sendiri dengan ditemani kesepian. Retno sudah makan terlebih dahulu dan sekarang sedang menidurkan Jasmine. Ya, mau tak mau ia harus makan sendiri. Kalau tahu begini, tadi ia akan makan bersama dengan Retno saja.


"Loh, Bu Becca tidak ikut makan sekalian, Bu?" Tiba-tiba saja Retno muncul dan mengagetkan Arini.


"Duh, Bude! Bude hampir buat saya jantungan, loh. Becca masih kenyang katanya. Jasmine sudah tidur?" tanya Arini karena hanya melihat Retno sendirian saja.


"Maaf, Bu. Saya tidak sengaja," kata Retno sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sudah, Bu. Cepat sekali tidurnya. Mungkin karena kelelahan bermain."


"Iya, Bude. Dari tadi Jasmine main terus. Oh iya, Bude tidak mau makan lagi? Temani saya, dong!" Arini menatap Retno yang berdiri di wastafel sambil mencuci tangan.


"Sudah kenyang, Bu. Saya mau buat teh untuk Bu Becca. Sekarang sudah waktunya minum obat," beritahu Retno dan diangguki pelan oleh Arini.


Becca akan minum obat tapi ia belum makan? Sedari tadi hanya makan wafer saja.


"Becca belum makan, Bude. Sekalian bawa makanan juga, ya!" kata Arini. Ia tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Becca.


"Baik, Bu."


Dengan sigap, Retno langsung membuat teh panas dan menyiapkan makan siang untuk Becca. Retno tak habis pikir, sebenarnya ada apa dengan Becca? Ia sering sekali bertingkat seperti anak kecil. Apalagi sekarang sedang ada Arini. Atau jangan-jangan Becca marah pada Arini? Kalau iya, perkara apa?

__ADS_1


Retno menggelengkan kepalanya pelan. Ia mencoba menghapus pikiran-pikiran buruk di kepalanya. Ia ini adalah asisten rumah tangga. Kerjanya adalah masak dan bersih-bersih rumah. Bukan mengurusi urusan pribadi majikan.


__ADS_2