
"Kamu tidak pulang ke apartemen Calina?" tanya Arini bingung. Pasalnya sudah dua hari ini Leon selalu pulang ke rumahnya. Padahal dua hari tersebut adalah waktunya Leon bersama Calina.
"Oh... Itu... Calina sedang pulang kampung." Leon sengaja berbohong. Biar bagaimanapun Calina adalah istri sahnya. Ia tidak akan membongkar aib istrinya sendiri. Meskipun itu kepada istrinya yang lain sekalipun.
Arini tampak mengangguk paham. "Kamu sudah makan malam atau belum? Kalau belum biar aku siapkan makanan," kata Arini. Pasalnya saat ini Leon baru saja pulang dari kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kan kasihan kalau sampai Leon belum makan malam.
"Sudah, kok," jawab Leon. "Aku mau mandi saja. Badanku lengket semua," lanjutnya. Ia lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara itu Arini yang tidak merasa curiga sama sekali, percaya saja atas apa yang dikatakan Leon tadi. Ya, Arini selalu berprasangka baik.
Hingga ponsel Leon berbunyi. Ada sebuah notifikasi pesan yang masuk. Dan tak sengaja Arini membaca pesan tersebut. Namun pesan tersebut tidak dapat terbaca semua, karena masing-masing Arini dan Leon memilih kesepakatan untuk tidak membuka ponsel satu sama lain.
Dan kondisi saat ini adalah, Arini tidak sengaja membaca sebuah pesan dari notifikasi yang masuk. Jadi itu tidak termasuk membuka ponsel Leon, kan? Lagian ia tidak menyentuh ponsel tersebut sama sekali.
Calina
Maaf Leon, sepertinya kita memang harus berpisah. Ak.....
Arini langsung terduduk lemas di sisi ranjang. Sebenarnya ada apa antara Leon dan Calina? Mengapa Calina ingin pisah? Apa mereka berselisih paham?
Arini lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Calina. Ia ingin tahu posisi Calina sekarang sedang di mana. Sekedar untuk memastikan kalau alasan yang dikatakan Leon tadi benar atau tidak. Calina pulang kampung atau tidak. Kalau Calina masih ada di kota yang sama dengan mereka, itu tandanya memang antara Calina dan Leon sedang ada masalah.
Arini
Ca...
Kamu di mana?
Tak berapa lama masuk pesan balasan dari Calina.
Calina
Di apartemen, Rin.
Ada apa?
__ADS_1
Arini
Tidak ada apa-apa.
Besok bisa bertemu denganmu?
Calina
Oke.
Waktu dan tempat kita tentukan besok pagi saja, ya?
Arini
Oke.
"Kamu lagi chatting-an sama siapa, Sayang? Serius sekali." Tiba-tiba saja Leon sudah berdiri tak jauh dari Arini.
"Eh, kamu sudah selesai. Kok aku tidak dengar suara pintu di buka, ya?" Arini menaruh ponselnya di atas nakas sambil menatap Leon. "Ada pesan dari Calina," beritahu Arini.
"Kamu sudah baca ini?" tanya Leon sambil menatap Arini tajam.
"Maaf. Aku tidak sengaja," jawab Arini dengan rasa bersalahnya. Sebenarnya Arini ingin bertanya lebih banyak tentang masalah Leon dan Arini. Tapi ia urungkan saat melihat ekspresi Leon yang berubah menjadi tidak bersahabat.
Leon kembali menaruh ponselnya di atas nakas setelah membalas pesan dari Calina.
"Aku tidur duluan, ya? Hooaamm... Aku ngantuk sekali." Arini lalu mengambil posisi tidur. Ia paksa memejamkan matanya, tidak ingin melihat ekspresi Leon yang menyeramkan itu.
"Selamat tidur. Mimpi indah, Arini," kata Leon pelan. Ia lalu keluar dari dalam kamar sambil membawa ponselnya.
Sepeninggal Leon, Arini kembali membuka matanya. Biarlah jika Leon belum ingin bercerita. Toh cepat atau lambat pasti Arini akan tahu. Arini yakin itu.
Sementara itu diam-diam Leon masuk ke dalam kamar mendiang Becca dan duduk di sisi sofa sambil menelepon Calina.
"Sebenarnya apa yang ada di pikiran kamu?" tanya Leon begitu Calina mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Maaf Leon. Aku harus jujur. Dari awal memang aku tidak pernah mencintaimu. Aku mau menikah denganmu hanya demi status Arjuna. Kau tahu sendiri, kan, bagaimana cuek dan tidak perdulinya aku padamu. Mau kau di rumah Arini, Becca atau Diana. Mau kau dengan siapapun itu. Aku selalu cuek. Itu semata-mata karena aku tidak meminta perasaan apapun. Aku tidak bisa cemburu padamu." Calina bicara banyak sekali. Dan semua yang dikatakan Calina berhasil membuat Leon seperti dijatuhkan ke dalam jurang yang terjal.
Sakit.
"Jadi kau menikah denganku hanya demi itu?" Suara Leon sudah mulai meninggi karena terpancing emosi.
"Iya. Kita impas Leon. Aku menikah denganmu demi status Juna. sedangkan kau menikah denganku hanya demi se*s, bukan?" Suara Calina terdengar sinis. "Kau menikah dengan semua istri-istrimu itu hanya demi se*s, kan?"
"Cukup, Calina! Aku tidak seperti itu!" Leon merasa sangat marah karena Calina terang-terangan menginjak-injak harga dirinya.
"Jangan emosi, Leon. Kalau kau pria baik-baik, kau tidak akan mungkin menikah lagi disaat luka di perut Arini masih basah. Kita ini sama, Leon. Sama-sama bajingan. Tidak ada yang lebih baik di antara kita." Suara Calina terdengar semakin sinis.
Leon menghembuskan nafasnya dengan kasar. Hampir semua yang dikatakan Calina memang benar. Tapi satu hal yang belum Calina tahu, Leon sudah menyesali semua perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
"Aku tahu ini tidak seharusnya dibicarakan melalui telepon. Harusnya kita bicara empat mata. Tapi sepertinya aku tidak memiliki banyak waktu untukmu. Aku sedang disibukkan untuk mengurus perceraian kita. Terimakasih sudah menyayangi Arjuna selama ini. Terimakasih juga telah menjadi suamiku, walaupun bukan suami yang baik. Tapi aku tetap bersyukur. Karena pada dasarnya aku juga bukan istri yang baik, jadi tidak apa-apalah mendapatkan suami yang tidak baik juga."
Telepon langsung diputuskan oleh Calina secara sepihak.
Leon terduduk lemas di sisi ranjang. sementara ponsel yang tadinya ada di tangan, sekarang sudah jatuh ke lantai.
Sementara itu di apartemennya, Calina duduk sambil memeluk lutut di lantai kamarnya yang dingin. Ia tahu bicaranya tadi sangat keterlaluan. Tapi ia tak punya pilihan lain, ia harus membuat Leon membencinya, supaya proses perceraian dapat berjalan dengan lancar.
***
Sesuai janji tadi malam, saat ini Calina dan Arini sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah Restoran Korea di sebuah ruangan VIP.
Arini langsung saja to the point menanyakan apa yang terjadi antara Leon dan Calina.
"Sebenarnya Juna itu bukan anak Leon. Aku menikah dengan Leon saat sudah hamil Juna." Calina tanpa tedeng aling-aling membongkar aibnya di depan Arini. Ia tahu Arini bukan tipe yang suka membongkar rahasia.
Arini menutup mulutnya tak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. "Pasti bohong."
"Aku tidak bohong."
Calina pun lalu menceritakan semuanya kepada Arini. Mulai dari pertengkarannya dengan Leon tadi malam. Kado spesial dari Leon beberapa hari yang lalu. Hingga tentang Frans.
__ADS_1
Semuanya ia ceritakan pada Arini tanpa ada satupun yang ia tutup-tutupi.