Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Terpaksa Menikahi Diana


__ADS_3

Hari menyeramkan bagi Leon pun tiba. Ia terpaksa harus menikahi Diana karena kesalahan dirinya sendiri di masa lalu.


Kedua orang tua Diana yang tajir melintir sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan Diana dan Leon. Menurut mereka, Leon bukanlah menantu idaman. Ditambah fakta kalau Leon sudah menikah, membuat keduanya sangat tidak setuju.


Tapi mau bagaimana lagi, Diana sang anak emas tidak dapat dibantah keinginannya. Perempuan tersebut mengancam akan bunuh diri jika tidak bisa menikah dengan Leon. Akhirnya sebagai yang lebih dewasa, kedua orang tua Diana terpaksa merestui pernikahan mereka. Tapi dengan syarat: tidak ada pesta pernikahan.


Karena mereka berdua tidak mau malu di depan saudara dan rekan bisnis lainnya. Apa nanti kata orang saat mengetahui anak perempuan Bramandjaya menikah dengan laki-laki biasa dan sudah beristri pula. Bisa turun pamor mereka.


Acara pernikahan sudah selesai satu jam yang lalu. Leon masih tertahan di rumah megah Diana. Kedua orang tua Diana langsung pergi ke luar negeri untuk acara bisnis setelah selesai acara tadi. Sedangkan kakak Diana yang sekarang sedang meneruskan perusahaan keluarga, tinggal di apartemennya dan tidak sudi hadir di acara pernikahan adiknya itu.


"Mengapa kau kaku seperti itu? Relaks saja, lah. Jangan kau buat pusing kepalamu sendiri," kata Diana sambil melepaskan aksesoris di tubuhnya.


Leon tetap diam saja. Sedari tadi ia memang tidak pernah menanggapi Diana. Ia lebih memilih diam daripada harus bicara dengan Diana.


"Kau kecewa ya, karena Diego tidak hadir?" tanya Diana sambil menatap Leon melalui kaca di meja rias. "Kakakku itu memang payah. Masa pernikahan adiknya sendiri dia tidak mau datang," gerutu Diana.


Tidak ada yang nanya! Batin Leon. Mau Diego hadir atau tidak, tidak ada masalah bagi Leon.


Setelah selesai melepaskan aksesoris dan menghapus make-up, Diana langsung duduk di sebelah Leon. Ia mengamati setiap inci tubuh suaminya itu.


Tampan.


Itulah kata pertama yang ada di benak Diana.


Diana mendekatkan wajahnya kepada Leon. Hembusan nafas Diana terasa di pipi laki-laki itu. Namun Leon tetap diam saja, ia tak berniat untuk malakukan apapun.


"Kau tidak tertarik untuk melakukan apapun?" geram Diana sambil menggeretakkan giginya.


Leon masih diam saja. Ia membuang pandangannya ke arah dinding untuk menghindari kontak mata dengan Diana.


Diana menjauhkan wajahnya dari Leon. "Kau telah berani memalukanku. Kau lihat saja nanti apa yang akan kulakukan," geram Diana. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan gerakan kasar.


Leon masih betah dengan posisi duduk di pinggir kasur. Sekarang baru pukul delapan malam. Belum waktunya untuk tidur.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau di situ terus? Tidak capek?" tanya Diana sinis.


Leon menghembuskan nafas kasar, ia lalu menuju kamar mandi untuk mandi. Sengaja Leon berlama-lama di kamar mandi. Toh kamar mandi Diana sangat mewah. Ada fasilitas televisi dan AC. Membuat Leon betah berlama-lama di dalamnya.


Diana mengerutkan keningnya saat Leon tak kunjung keluar dari kamar mandi. Sudah satu jam lamanya laki-laki tersebut berada di sana.


Salah Diana sendiri yang membuat kamar mandi kedap suara, sehingga ia tak dapat mendengar suara apapun dari dalam sana.


Merasa kesal, Diana bangkit lalu menggedor pintu kamar mandi dengan heboh. "Buka pintu, Leon!" teriaknya.


Bruk!


Saat Diana melakukan gerakan menggedor dengan heboh, pintu dibuka oleh Leon. Sehingga membuat tubuh Diana menabrak dada bidang Leon.


"Kau!? Kau masih memakai pakaian yang sama? Apa yang kau lakukan di kamar mandi selama ini, heh?" Diana buru-buru menegakkan tubuhnya dan meneliti penampilan Leon.


Masih sama seperti tadi. Pertanda Leon belum mandi.


"Menonton televisi," jawab Leon datar. Ia lalu mendorong pelan tubuh Diana agar keluar. Setelah itu kembali mengunci pintunya.


***


Becca baru saja keluar dari rumah sakit. Kata dokter, ia hanya terlalu banyak fikiran. Sehingga membuat kandungannya sedikit bermasalah. Tapi untung janin di dalam perutnya baik-baik saja.


Becca pulang di antar Arini. Selama satu hari di rumah sakit, Arini juga yang selalu menjaganya. Sungguh mulia hati Arini.


Tolong ingatkan Becca untuk membalas kebaikan Arini suatu saat nanti.


Leon sama sekali tidak perduli padanya. Bahkan sekedar mengirim pesanpun tidak ada.


Sementara Rania, ibunya itu sedang menghadiri pernikahan keluarga mereka di luar kota.


Untung saja ada Arini. Jika tidak, Becca tidak tahu nasibnya akan seperti apa. Mungkin ia bisa berlanjut sampai ke psikolog atau mungkin psikiater.

__ADS_1


"Mbak Arini sedang tidak ada jadwal?" tanya Becca saat melihat Arini masih saja setia menemaninya.


"Tidak ada. Besok baru ada," jawab Arini sambil tersenyum ramah. "Kau mau kubuatkan sup daging?" tawarnya.


Becca tersenyum malu-malu sambil mengangguk. "Boleh, Mbak," jawabnya.


"Sebentar, ya!" kata Arini dan diangguki oleh Becca.


Arini lalu menuju dapur dan beruntungnya ia, karena di dalam kulkas Becca terdapat bahan-bahan yang ia butuhkan.


Tak lama makanan yang dibuat Arini pun matang. Aroma harum menguar kemana-mana.


"Wahh... Harum sekali, Mbak. Air liurku sudah bercucuran melihat sup ini. Pasti rasanya sangat sedap," kata Becca heboh sambil duduk di kursi meja makan. Ia memang sangat menyukai sup. Baik sup daging ataupun ikan. Semuanya ia suka.


"Makanlah, Becca! Semoga kau suka," kata Arini sambil menaruh semangkuk sup di depan Becca.


Tanpa menunggu tawaran kedua kalinya, Becca langsung melahap masakan Arini dengan lahap.


"Kau suka?" tanya Arini saat melihat cara makan Becca yang luar biasa lahap. Pasalnya selama di rumah sakit, Becca jarang sekali menyentuh makanan. Katanya tidak nafsu makan sama sekali.


Becca mengangguk kuat-kuat. "Suka, Mbak. Ini enak. Mirip masakan Mama," kata Becca. "Kalau aku, tidak pandai masak, Mbak. Bisanya hanya membuat mie instan saja," kekehnya.


"Tidak masalah. Masing-masing orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing," kata Arini bijak.


"Mbak Arini tidak makan?" tanya Becca.


"Nanti saja, aku belum lapar," tolaknya halus.


Sebelum pulang dari rumah sakit tadi, Arini sudah menghabiskan satu mangkok rice bowl. Sedangkan Becca, hanya makan dua suap saja. Wajar kalau Arini masih kenyang, sementara Becca sudah kelaparan.


"Kau tidak makan pakai nasi?" tanya Arini.


Becca menggeleng pelan. "Aku kurang selera makan nasi, Mbak. Maunya yang kuah-kuah seperti ini," jawabnya.

__ADS_1


Arini mengangguk tanda mengerti. Dalam hati ia merasa kasihan kepada Becca. Leon bahkan tidak perduli pada anak yang ada di dalam kandungan Becca.


Entah laki-laki macam apa Leon itu. Entah bagaimana pula dulunya ia bisa jatuh cinta pada laki-laki tersebut.


__ADS_2