Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Rumah Baru


__ADS_3

Seorang perempuan berhijab sedang sibuk menata furniture di rumah barunya. Ia yang memang memiliki prinsip hidup minimalis, tidak banyak memasukkan barang ke dalam rumah barunya ini. Hanya ada furniture seperlunya saja.


"Bu Arini, ini di taruh mana?" Seorang baby sitter bernama Ani bertanya sambil mengangkat sebuah lukisan abstrak berukuran sedang.


Perempuan yang bernama Arini tersebut menunjuk dinding di sebelahnya. "Sini saja, Bude," jawab Arini.


"Baik, Bu," jawab Ani. Ia lalu mengambil paku dan memaku dinding yang tadi di tunjuk Arini. Kemudian ia memajang lukisan tersebut di sana.


Lukisan tersebut adalah buatan Arini sendiri. Saat ia sedang menonton YouTube, tidak sengaja melihat tutorial melukis abstrak. Lalu iapun mencoba menggambarnya. Dan ternyata berhasil.


Walaupun hasilnya masih belum rapi dan tidak sebagus buatan pelukis profesional, tapi ia cukup puas dan percaya diri memajang karyanya itu.


Lukisan tersebut berwarna biru, pink dan ungu. Dengan coretan-coretan asal. Tapi tetap indah di pandang mata.


"Mamaaa..." Seorang bocah perempuan berusia empat tahun berlari sambil membawa sebuah buku mewarnai. "Jasmine lapar." Ia merengek sambil mengelus perut ratanya.


"Jasmine lapar, ya? Ayok kita makan!" Arini menghentikan aktivitasnya dan menggendong putri kecilnya itu menuju dapur.


Tadi Arini sudah membeli makanan di sebuah restoran cepat saji. Saat ini semua orang sedang sibuk, jadi tidak ada waktu untuk memasak. Oleh karena itu ia memutuskan untuk membeli makanan jadi saja.


"Mau pizza, Ma," kata Jasmine sambil duduk manis di meja makan. Bocah perempuan tersebut sudah bisa naik turun kursi meja makan sendiri. Karena kursi khusus dirinya itu ada semacam tangga di kakinya.


"Oke. Anak pintar makan sendiri, ya?" Arini menaruh sepotong pizza di atas piring. Lalu menghidangkannya di depan Jasmine. Tak lupa segelas air putih juga terhidang di sana.


Jasmine yang memang sudah terbiasa makan sendiri tidak masalah dengan itu. Gadis cilik tersebut sudah sangat mahir makan sendiri. Tidak payah di suap-suapin oleh orang tuanya. Makannya pun rapi, tidak berantakan.


"Sayang..." Leon-- sang suami tercinta baru saja datang sambil menggendong bocah laki-laki berusia dua tahun. "Semuanya sudah selesai," beritahu Leon sambil menurunkan bocah laki-laki dari gendongannya.

__ADS_1


Leon baru saja sampai dengan membawa semua barang-barang dari rumah lamanya. Dan sekarang rumah lama mereka sudah kosong. Supaya tidak ada kesan mistis, mereka berdua sepakat untuk menyewakan rumah tersebut.


"Syukurlah," jawab Arini. "Yusuf mau makan juga?" Arini bertanya pada bocah laki-laki yang baru saja turun dari gendongan Leon. Bocah tersebut adalah anak ke-duanya.


Bocah bernama Yusuf tersebut mengangguk. "Mau entang goleng, Ma. Yusuf tidak cuka pizza," ucapnya sambil menatap piring sang kakak dengan disertai gelengan kepala.


"Baik. Ini buat Yusuf." Arini menaruh beberapa potong kentang goreng di atas piring. Ia lalu menyuguhkan piring tersebut ke anak laki-lakinya.


Yusuf juga sudah pandai makan sendiri. Ia tidak mau di suapi karena merasa dirinya sudah besar dan bisa makan sendiri. Hanya bedanya Yusuf ini kalau makan masih berantakan. Belum se-rapi sang kakak.


"Aku ke atas dulu, ya? Mau merapikan di lantai atas," ujar Leon dan di-iyakan oleh Arini.


Leon pun lalu bergegas ke lantai atas untuk menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai. Mulai hari ini mereka sudah menempati rumah baru ini. Mereka sendiri sudah mulai membereskan rumah dari seminggu yang lalu. Dan sekarang tinggal merapikan printilan-ptintilan kecil saja.


Arini menatap kedua anaknya yang tengah makan sambil tersenyum. Ia beruntung sekali karena kedua anaknya memiliki nafsu makan yang baik. Jadi dirinya tidak perlu susah payah memikirkan strategi agar anaknya makan banyak. Tidak perlu pakai vitamin, keduanya sudah selalu lahap dalam makan apapun.


Arini menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus merespon seperti apa. Pasalnya ini anak kecil. Masih balita. Siapa sebenarnya yang mengajarkan kosa kata itu pada anaknya.


"Jasmine tahu kata itu dari siapa, nak?" tanya Arini lembut sambil menatap Jasmine lekat-lekat.


"Dari Bunda Sinta," jawab Jasmine. Bunda Sinta adalah guru Jasmine di sekolahnya. Saat ini Jasmine tercatat sebagai murid di sebuah TK. "Kata Bunda Sinta, Jasmine anak tirinya Mama. Apa maksudnya, Ma?"


Dalam hati Arini merasa kesal pada Sinta. Sinta adalah seorang perempuan berusia awal kepala tiga dengan dua orang anak yang tinggalnya tak jauh dari rumah baru Arini. Kok bisa-bisanya perempuan tidak punya etika itu menjadi guru.


"Emm... Anak tiri itu, anak yang lahir dari ibu lain. Tapi masih satu ayah." Arini terpaksa menjawab dengan jujur. Jasmine ini sangat cerdas sekali. Ia mudah mengingat apa yang orang lain katakan. Kalau Arini berbohong, maka kebohongan tersebut yang akan selamanya diingat oleh Jasmine.


"Jadi maksudnya, Mama bukan ibu yang melahirkan Jasmine?"

__ADS_1


"Ibu Jasmine sudah di surga. Kalau Jasmine mau melihat ibu, nanti Mama kasih tau fotonya, ya?"


Jasmine mengangguk pelan. Pikirannya sedang mencerna apa yang dikatakan Arini. Jasmine sudah empat tahun, ia sudah bisa diajak mengobrol bahkan berdiskusi.


Sementara itu Yusuf yang memang belum tahu apa-apa hanya fokus makan dan tidak menghiraukan ibu dan kakaknya. Dalam hal bicara Yusuf memang belum jelas. Ia belum bisa mengucapkan huruf "R" dan kata-katanya juga masih belum jelas.


Tapi kecerdasan keduanya sama-sama tidak diragukan. Meskipun bicaranya belum jelas, tapi Yusuf mudah mengingat apa yang orang lain katakan. Oleh karena itu, baik Arini maupun Leon selalu hati-hati berbicara jika sedang berada di depan anak-anaknya.


"Nyang. Au tulun." Yusuf menjuntai-juntaikan kakinya ingin turun.


Arini pun lalu menurunkan Yusuf dari kursi bayi. Dan setelah turun, batita tersebut berjalan terseok-seok menaiki anak tangga.


Yusuf memang sudah sering naik turun tangga sendiri. Bahkan pernah jatuh tersungkur dari tangga juga. Tapi untungnya tidak apa-apa.


Karena mengetahui anaknya sangat aktif, Arini dan Leon memasang karpet di tangga rumah mereka. Supaya jika Yusuf mengalami insiden lagi, tidak terjadi hal yang fatal pada anaknya itu.


"Ma..." Jasmine memanggil Arini pelan. Ia sudah selesai makan, tapi belum ingin beranjak dari kursinya.


"Iya, Sayang," jawab Arini.


"I love you."


"I love you too," jawab Arini. Ia lalu mendekati Jasmine kemudian mencium keningnya.


"Kita bantu Papa, yuk!" ajaknya.


"Oke. Let's go!"

__ADS_1


Jasmine merosot turun dari kursi. Ia lalu berjalan menaiki tangga lantai dua. Arini berjalan dibelakangnya.


__ADS_2