Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Mulai Membaik


__ADS_3

Kabar baik datang dari Leon, dia sudah bisa berjalan meskipun itu masih sempoyongan. Rasa kesemutan di kakinya memang masih ada, tapi tidak terlalu parah seperti kemarin.


Semenjak sudah bisa berjalan, Leon jadi sering jalan-jalan sendiri mengelilingi rumah. Ia harus melatih kakinya agar terbiasa lagi untuk jalan.


David sedang mencuci mobil. Padahal Leon sudah sering bilang, kalau mau cuci mobil tinggal bawa ke cucian mobil saja. Tapi David selalu memilih mencuci mobil sendiri. Alasannya ia sedang kekurangan kerjaan. Daripada uangnya dipakai untuk mencuci mobil, lebih baik dipakai untuk yang lainnya.


Arini sendiri sedang terbang. Jasmine sedang sekolah. Wulan sedang belanja di supermarket. Dan Yusuf sedang bermain sepeda dengan Ani, tentunya itu adalah sepeda roda empat. Karena Yusuf masih kecil sekali. Belum bisa menggunakan sepeda roda dua.


Ini adalah hari Rabu. Meskipun ini adalah hari kerja, tapi Leon memutuskan untuk libur. Ia sedang ingin berlatih jalan.


Leon hanya sendirian di lantai tiga. Sedari tadi ia mondar-mandir seperti setrika. Puas mondar-mandir di dalam rumah, Leon lalu menuruni anak tangga dengan pelan. Ia ingin jalan-jalan di luar rumah.


Setelah berjuang cukup lama, akhirnya Leon sampai di luar. Yusuf memanggil-manggil dirinya untuk mendekat. Bocah laki-laki itu sedang senang karena bisa bermain sepeda.


"Papa... Cini...." Yusuf melambai-lambaikan tangannya.


Dengan sempoyongan, Leon mendekati Yusuf yang berada di luar pagar. "Yusuf sudah ke mana saja?" tanya Leon sambil berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Yusuf.


"Cana!" Yusuf menunjuk arah kanannya.


Leon mengangguk. "Nanti kalau Papa sudah sehat, Yusuf mau kan main sama Papa?"


"Au. Sup au ain cama Papa," jawab Yusuf dengan suara yang masih cadel.


"Mau main lagi atau sudah?" tanya Ani yang sedari tadiĀ  berdiri di sebelah Yusuf.


"Agi," jawab Yusuf antusias.


"Hati-hati, ya, Bude," ujar Leon.


"Baik, Pak," jawab Ani sambil berjalan di belakang Yusuf yang mengayuh sepedanya.

__ADS_1


"Mas Leon! Sini, deh!" David melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Leon mendekatinya.


Leon mendekati David yang sedang menyabun mobil. Baju pria dua puluh tahun itu sudah basah kuyup. Sepertinya ia sengaja bermain air. Apa jangan-jangan, David ini pada saat kecil kurang bahagia, ya?


"Mas Leon sudah mandi, belum?" tanya David sambil cengar-cengir.


Merasakan ada gelagat tidak enak. Leon langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tak mau disiram oleh David. Dirinya sudah mandi, masa iya mau dimandikan lagi oleh David.


"Mas Leon kok kabur. Saya kan hanya bertanya," ujar David sambil terkekeh saat melihat kepergian Leon.


"Saya tahu kamu akan menyiram saya!" teriak Leon saat ia sudah masuk ke dalam rumah.


David menggelengkan kepalanya sambil terus menyelesaikan pekerjaan. Ia terkekeh pelan. Leon ada-ada saja, padahal ia tadi hanya bertanya. Kok malah dicurigai ingin menyiram, itu bagaimana?


***


Antara David dan Wulan sudah tidak ada gosip lagi. Keduanya kembali bersikap seperti biasanya. Ani yang kemarin heboh, sekarang sudah tidak heboh lagi karena capek sendiri tidak mendapatkan respon dari Wulan dan juga David.


David juga sudah tidak pernah lagi menggombali Wulan. Bukan apa-apa, ia hanya tidak mau ada yang salah paham.


Kalau ia belum pernah mencoba masakan Jepang, lantas bagaimana ia bisa tahu masakan yang ia masak itu gagal atau tidak. Karena tidak ada tolak ukurnya.


Yang Wulan tidak tahu, ternyata sejak tadi David berdiri dibelakangnya. David juga melihat Wulan mencari resep-resep masakan Jepang di internet.


"Suka masakan Jepang?" tanya David. Ia yang baru datang, langsung duduk di sebelah Wulan.


Wulan berjingkat kaget saat melihat David tiba-tiba saja muncul. Ini benar David, kan? Bukan makhluk halus, kan? Kok bisa-bisanya muncul secara tiba-tiba. Membuat ia hampir jantungan.


Keduanya sedang duduk-duduk sore di kolam renang. Cahaya jingga sang mentari menyirami bumi. Dari kolam renang, cahaya jingga itu terpantul. Indah sekali.


"Suka makanan Jepang?" tanya David sekali lagi karena Wulan belum menjawabnya.

__ADS_1


"Belum pernah nyicip sama sekali. Bagaimana bisa suka?" sahut Wulan sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi rotan.


"Belum pernah? Kenapa tidak mencoba? Enak, loh. Apalagi sushi. Aku suka sekali dengan sushi," ujar David sambil membayangkan sushi kesukaannya.


"Nantilah kalau aku mau, aku beli," ujar Wulan sambil menyilangkan kaki kanan pada kaki kiri. "Makanan dari negara mana yang belum pernah kamu coba?" tanya Wulan tanpa menoleh ke arah David. Sepertinya, semua makanan dari negara lain sudah pernah dicoba oleh David.


"Waahh... Banyak sekali. Aku hanya makan yang terkenal saja. Masih banyak sekali yang belum aku coba." David menjawab sambil memandangi kolam renang yang ada di depannya.


"Sejauh ini, makanan dari negara mana yang paling kamu suka?"


"Indonesia luar biasa. Aku suka rempahnya. Aku suka rasa asin yang kuat, dan aku suka minyak yang banyak," jawab David sambil terkekeh.


"Sepertinya kamu suka hunting makanan. Apa reaksi kamu ketika mendapatkan makanan baru yang aneh? Kalau aku, mungkin bisa muntah," ujar Wulan sambil membuka ponselnya karena baru saja ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan masuk.


"Aku selalu memberi makanan baru. Seaneh apapun itu, pasti aku bisa terima dan tidak pernah muntah."


"Ajaib," sahut Wulan sambil mengetik di layar ponselnya. Ia sedang membalas pesan dari sang ibu yang ada di kampung.


"Siapa itu? Tunangan kamu, ya?" tanya David saat melihat Wulan senyum-senyum sendiri di depan ponsel.


Padahal yang David tidak tahu, Wulan senyum-senyum sendiri karena ibunya berkata lucu sekali. Ibu Wulan berkata, sepupunya sebentar lagi akan menikah. Dan calon suaminya adalah juragan tanah di kampung. Tapi yang membuat Wulan tertawa adalah fakta bahwa usia sang juragan tidak lagi muda.


Mungkin bagi sebagian orang cinta benar-benar buta dan tidak memandang apapun. Termasuk fisik.


Atau mungkin cinta itu sendiri kalah telak oleh harta yang berlimpah? Ah, bisa jadi begitu.


"Kalau kamu sudah menikah, masih kerja disini atau tidak?"


Wulan tidak menjawab pertanyaan David. Ia memilih memainkan ponselnya untuk melihat-lihat postingan artis-artis di Instagram.


"Hei! Aku ngomong sama tangan, ya? Kok tidak ada jawaban?"

__ADS_1


Wulan mengedikkan bahunya. "Masuk, gih! Udah mau magrib," ujarnya sambil masuk ke dalam rumah.


Davidpun lalu ikut masuk ke dalam rumah juga karena hari sudah semakin beranjak gelap. Ia mengabaikan kekesalannya pada Wulan dengan pertanyaan terakhirnya yang tidak dijawab gadis itu.


__ADS_2