Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Arjuna Anlacaleo


__ADS_3

Leon duduk termenung di depan boks bayi. Ia menatap seorang bayi laki-laki yang masih merah dengan lekat. Satu kesalahan Leon, ia tidak mengaktifkan ponselnya selama satu hari karena malas di teror Diana.


Namun ternyata keputusannya tersebut salah. Sehingga seperti inilah sekarang. Ia tidak ada di samping Calina saat istrinya itu melahirkan. Entah suami macam apa Leon ini. Ia selalu absen saat istrinya melahirkan.


"Aku minta maaf, Ca," ucap Leon lirih. Ia menatap Calina yang sedang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit.


"Sudahlah, jangan merasa bersalah. Aku baik-baik saja kok," sahut Calina tulus. Ia bisa memahami bagaimana sibuknya Leon mengurus empat orang istri dan satu bayi. Sehingga Calina tidak akan menuntut banyak kepada Leon. Termasuk menemaninya saat melakukan proses persalinan.


Leon diam saja tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih terus menatap sang jabang bayi laki-laki tersebut.


"Kau mau memberikan nama untuk si tampan?" tanya Calina.


Leon menatap Calina cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Bagaimana kalau aku yang memberi nama belakang, sedangkan kau memberi nama depan," tawar Leon. Menurutnya soal pemberian nama adalah hal sakral. Dalam hal ini Calina wajib turut serta.


"Setuju," sahut Calina. "Aku akan memberi nama si tampan... Emmm...," Calina tampak berfikir sejenak. "Arjuna," lanjutnya.


"Bagus. Nama yang bagus. "Bagaimana kalau nama belakangnya Nalaleon. Anak Laki-laki Leon. Bagus, bukan?" usul Leon sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak setuju," protes Calina cukup gamblang.


Leon mengerutkan keningnya samar. "Kenapa?"


"Hanya ada namamu. Tidak ada namaku," protes Calina. Ia keberatan jika hanya ada nama Leon dan tidak ada namanya.


"Bagaimana kalau Anlacaleo. Anak laki-laki Calina dan Leon. Jika orang yang tidak tahu, pasti mereka akan bingung dan berfikir kalau itu adalah bahasa dari luar negeri. Keren, bukan?"


Tanpa berfikir dua kali Calina langsung setuju. "Setuju."


"Hei... sudah ada bapaknya ternyata," ujar Via yang baru saja datang. Perempuan itu menaruh sebuah plastik di atas meja di samping tempat tidur Calina. Plastik tersebut berisi apel merah titipan Calina.


Calina memang aneh, saat hamil ia tidak mengidam apa-apa. Tapi saat sudah melahirkan ia malah mengidam apel merah.


"Sudah dari tadi, Leon?" tanya Via berbasa-basi. Ia mengambil sebuah apel dan diberikan kepada Calina.


"Baru saja sampai," jawab Leon.


"Sudah di cuci?" Calina tak kunjung mengambil apel pemberian Via. Ia hanya memperhatikannya saja.


Via nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Belum," ujarnya pelan.

__ADS_1


Via lalu membawa apel tersebut keluar dan mencucinya dengan sebotol air mineral. Setelah itu ia memberikannya kepada Calina.


"Terimakasih," ucap Calina dan diangguki oleh Via.


"Apa kabar Arini dan yang lainnya?" tanya Via yang memang tidak suka diam.


"Baik. mereka baik," jawab Leon.


Suara ponsel di saku celana Leon membuat perhatian Leon teralihkan ke ponselnya.


Arini


Kamu di mana? Aku di kantor, tapi kamu tidak ada.


Dengan sigap Leon langsung membalas pesan dari Arini.


Leon


Di Rumah Sakit Sejahtera. Calina melahirkan.


Mengapa kamu datang tidak bilang-bilang, sayang?


Arini


Tunggu aku.


Titip salam untuk Calina.


"Arini titip salam. Dia sedang dalam perjalanan," beritahu Leon.


"Sendiri?" tanya Calina dan diiyakan oleh Leon.


"Waalaikum salam," balas Calina kemudian.


Ketiganya lalu sibuk terlibat dalam berbagai obrolan. Mulai dari tentang anak hingga yang sedang hits pada saat ini.


Tiga puluh menit kemudian Arini datang. Pilot cantik tersebut tersenyum cerah dihadapan seorang bocah laki-laki yang lucu. Harapannya hanya satu: semoga dirinya cepat hamil. Dan memiliki anak tentunya.


"Dia sangat lucu," gumam Arini. Ia lalu duduk di tengah Leon dan Via. Menatap Calina yang masih terbaring di atas tempat tidur. "Selamat atas kelahiranmu, Calina. Bagaimana kondisimu pasca melahirkan?"

__ADS_1


"Terimakasih, Rin. Kondisiku baik," sahut Calina. "Kau sendiri apa kabar? Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya. Calina sangat senang Arini bersikap baik padanya. Ia tidak tahu, entah terbuat dari apa hati Arini.


"Aku baik juga. Pekerjaan alhamdulillah lancar," jawab Arini ramah.


"Syukurlah," sahut Calina.


"Enak ya ada suami. Tidak seperti aku, selalu sendiri," kata Via sambil memasang ekspresi sok sedih.


"Kubilang juga apa, cepat cari pengganti Satria," sahut Calina.


Via adalah seorang janda tanpa buntut. Kegagalan berumah tangga tiga tahun yang lalu membuat ia sangat hati-hati dalam memilih suami selanjutnya. Hal itulah yang membuat ia jomblo hingga saat ini.


"Jangan lagi sebut namanya. Aku bisa mual," omel Via tidak suka. Ia berpisah dengan Satria dengan cara yang tidak baik. Kekerasan dalam rumah tangga yang membuat Via harus melepaskan Satria. Dan hingga saat ini, ia masih belum bisa memaafkan mantan suaminya itu.


"Maaf," ucap Calina tidak enak hati. "Ngomong-ngomong, aku akan mengeluarkan single baru dalam waktu dekat ini." Calina lalu mengalihkan topik pembicaraan. Selain tidak enak hati dengan Via, ia juga tidak enak hati dengan Leon dan Arini. Karena mereka berdua tidak tahu dengan topik pembicaraan tadi dan hanya bisa menjadi pendengar saja.


Dengan antusias Leon dan Arini menanggapi. Sementara Via, tentunya ia sudah tahu, karena ia adalah manajer Calina.


Keempatnya lalu terlibat dalam obrolan ringan. Mulai dari pekerjaan hingga rencana peluncuran single terbaru Calina. Hingga tak terasa waktu telah berlalu.


Pukul 5 sore Arini pamit pulang. Sementara Leon, hari ini memang jadwalnya ia bersama Calina.


"Jangan pulang sendiri, Rin," kata Calina saat Arini hendak pamit pulang. "Biar diantar Leon atau Via. Bukan begitu, Vi?" Calina menatap Via penuh permohonan. Berharap Via akan menjawab "iya".


"Iya. Benar kata Calina," sahut Via.


"Biar aku yang antar Arini pulang. Setelah itu baru aku akan kesini lagi," ujar Leon sambil mengambil kunci mobil dari dalam saku celananya.


Arini langsung mencegah niat baik ketiganya. "Tidak usah. Aku bawa mobil sendiri, kok," ucap Arini sambil menggoyangkan kunci mobil yang baru ia ambil dari dalam tasnya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan antar sampai parkiran," kata Leon.


Arini tersenyum dan mengangguk setuju. Ia lalu keluar menuju parkiran rumah sakit dengan diantar Leon.


"Hati-hati. Kabari aku kalau kamu sudah sampai," ucap Leon saat Arini sudah duduk di depan kemudi. Ia berdiri tepat di samping pintu kanan depan.


Arini mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu mencium tangan kanan Leon dan mengucapkan salam. Setelah itu ia langsung pulang menuju apartemennya.


Mengobrol dengan Calina dan Via sangat menyenangkan. Sehingga Arini tak sadar kalau ia telah lama berada di rumah sakit. Tadi ia datang pukul satu siang, dan sekarang sudah pukul lima sore.

__ADS_1


Semoga aku bisa cepat hamil hamil lagi. Ucap Arini dalam hati.


__ADS_2