
Setelah Arini dan Becca tinggal satu atap selama berbulan-bulan, kini tiba saatnya Arini keluar dari rumah Becca dan kembali ke apartemennya.
Becca sudah sembuh total. Sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Hal itu tentu saja membuat semua orang lega dan bahagia.
Arini sedang merapikan baju-bajunya di dalam lemari. Suara bel apartemen membuat ia lalu bergegas menuju pintu.
Setelah di buka, muncul sosok Calina sendirian dengan wajah sedihnya.
"Masuk, Ca!"
Calina pun langsung masuk dan duduk di sofa tunggal. Wajahnya sendu. Seperti ada sesuatu yang mengganjal beban pikirannya.
"Ada apa?" tanya Arini sambil menaruh sebuah minuman dingin di atas meja. "Minum dulu!"
"Aku hanya sedang kesal pada seorang laki-laki." Calina lalu mengambil minum yang telah disajikan oleh Arini, ia lalu meminumnya pelan.
Arini mengerutkan keningnya samar. "Laki-laki?" tanyanya.
Calina mengangguk.
Leon kah itu? Pikir Arini.
"Leon? Apa yang dia lakukan? Dia tidak adil sama kamu dan Juna?" Arini bertanya dengan hati-hati. Takut membuat Calina semakin bertambah sedih.
Diluar dugaan Arini, Calina menggeleng pelan. "Bukan Leon. Aku tidak bisa cerita. Soalnya ini aib." Calina berbicara pelan sekali sambil menunduk dalam-dalam.
Arini hanya bisa diam saja. Ia tak tahu apa permasalahan Calina saat ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah menjadi pendengar setia saja. Tapi jika Calina tidak ingin bercerita juga tidak apa-apa. Ia tidak akan memaksa. Mungkin itu menyangkut privasinya. Semua orang butuh privasi, bukan?
Cukup lama keduanya hanya diam saja. Hingga suara Arini memecahkan kesunyian diantara keduanya. "Juna ke mana?" tanyanya saat melihat Calina hanya datang sendirian saja.
"Di kampung. Aku titipkan orang tuaku. Di sini tidak aman."
Arini mengerutkan keningnya dalam. Tidak aman? Memangnya ada bahaya apa? Pikir Arini.
"Maksud kamu bagaimana? Ada yang mau menculik Juna?" tanya Arini dan diangguki oleh Calina.
"Siapa?"
Calina hanya diam saja.
"Leon tahu?"
Lagi-lagi Calina hanya diam.
__ADS_1
Setelah diam cukup lama, barulah Calina bersuara. "Jangan sampai dia tahu. Kamu bisa jaga rahasia ini, kan?" Calina menatap Arini penuh harap.
Arini mengangguk. Kalau ini mau Calina, akan Arini turuti.
Arini ini bukan tipe mulut ember. Jadi barang siapa yang menyimpan informasi kepada dia, dijamin akan aman.
"Apa rencana kamu saat ini?" tanya Arini pelan dan sabar. Sangat keibuan sekali.
"Boleh numpang tinggal di sini? Sekarang masih waktunya Leon di ruang Becca, kan?"
Arini mengangguk. "Iya."
"Apartemenku sedang tidak aman." Lagi-lagi Calina bercerita setengah-setengah yang membuat Arini bingung harus merespon bagaimana.
"Ya sudah. Sementara waktu kamu tinggal di sini saja. Mau istirahat?"
Calina mengangguk.
"Ayo! Ikut aku!"
Arini lalu mengajak Calina untuk istirahat di kamar tamu. Apartemen Arini ini hanya ada dua kamar. Satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk siapapun yang datang bertamu.
"Sebentar aku ambil pakaian ganti untuk kamu." Arini langsung melesat ke kamar sebelah untuk mengambil pakaian rumah. Tak lama ia kembali lagi lalu memberikannya pada Calina. "Ini baju ganti buat kamu." Arini menyodorkan sebuah daster.
"Sama-sama. Aku tinggal, ya? Kalau ada apa-apa aku di kamar sebelah." Kata Arini dan diangguki oleh Calina.
"Eh, tunggu!"
Arini yang hendak keluar dari kamar Calina mengurungkan niatnya saat mendengar interupsi dari Calina.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Jangan bilang-bilang Leon, ya?" Calina berbicara dengan wajah memelas yang alamiah dan tidak dibuat-buat.
Arini mengangguk. "Iya. Kamu tenang saja."
"Terimakasih." Lagi-lagi Calina mengucapkan kata terimakasih.
"Sama-sama," jawab Arini sambil tersenyum ramah. Ia lalu meninggalkan kamar Calina dan menuju kamarnya yang berada persis di sebelah kamar Calina.
Sesampainya di kamar, Arini duduk termenung di sisi ranjang.
"Sebenarnya apa yang disembunyikan Calina? Mengapa Leon tidak boleh tahu?" Arini bergumam sambil kebingungan.
__ADS_1
Atau jangan-jangan itu adalah ulah dari rekan sesama artisnya? Harusnya kalau berada di dalam masalah seperti sekarang ini Calina lapor pada pihak yang berwajib. Biar kapok si pelaku kejahatan.
"Ah sudahlah. Ada masalah yang aku tidak boleh ikut campur. Harus tahu batasan. Oke Arini, tenang. Jangan berpikir yang macam-macam." Arini memenangkan dirinya sendiri. Ia lalu bermain game online yang ada di ponselnya sambil duduk di depan meja rias.
***
Keesokan paginya Calina pamit dari apartemen Arini.
"Mau kemana? Sudah aman semuanya?" tanya Arini cemas.
Calina mengangguk. "Sudah aman, kok. Terimakasih atas tumpangan menginapnya. Bye Arini."
"Bye. Hati-hati, Calina!"
"Oke."
Calina lalu keluar dari apartemen Arini dan menuju lift. Tujuannya saat ini adalah apartemennya. Menurut informasi dari Via, sekarang apartemennya sudah aman.
Setelah sampai di apartemennya, ia langsung membereskan pakaian yang ia butuhkan ke dalam koper. Tujuan selanjutnya adalah menuju apartemen baru.
"Kok bisa-bisanya sih si brengsek itu muncul lagi. Kenapa tidak lapor polisi saja? Bosan aku melihat tampang brengseknya itu. Pingin rasanya membuang dia dari muka bumi ini." Via yang melihat wajah ketakutan Calina namun tidak melaporkan kepada polisi menjadi gemas sendiri.
"Kalau aku lapor polisi, karirku bisa hancur. Aku belum siap untuk miskin lagi. Kalau aku miskin, kamu juga ikut miskin. Memangnya kamu mau miskin?" jawab Calina sambil memasukkan baju-baju ke dalam koper besar.
"Ya tidak maulah," jawab Via spontan.
"Ya sudah. Pokoknya kamu dukung saja apa keputusanku."
"Iya."
Via hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tahu beban seperti apa yang di pikul Calina kali ini.
"Kalau ada apa-apa di apartemen baru, jangan lupa kabari aku. Aku selalu siap siaga 24 jam," kata Via dan hanya disahuti Calina dengan gumaman yang tidak jelas.
Calina tak lama di apartemennya ini. Setelah selesai berberes, ia langsung pergi ke apartemen barunya. Lebih tepatnya satu apartemen dengan Arini. Hanya saja beda tower.
Tadi malam saat ini menginap di apartemen Arini, ia sudah melihat lokasi dan melakukan pembayaran uang sewa.
Tentu saja Arini belum tahu hal ini. Karena Calina tidak memberitahunya.
Calina sendiri bukan ada maksud apa-apa memilih apartemen yang sama dengan Arini, ia hanya tidak memiliki banyak waktu untuk mencari apartemen baru. Akhir-akhir ini ia cukup sibuk. Banyak jadwal manggung yang ia terima.
Sesampainya di apartemen baru, Calina langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menyewa apartemen tipe studio. Niatnya tidak akan lama berada di sini. Karena belum tentu juga di sini akan aman.
__ADS_1
Mungkin Calina akan seperti kucing beranak yang akan sering berpindah tempat tinggal, ia sedang menghindari si brengsek yang akhir-akhir ini sering muncul mengganggunya.