
Kabar mengejutkan datang dari Diana. Perempuan itu mengalami gangguan jiwa sehingga harus dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Kabar tersebut membuat miris semua orang, namun tidak dengan Becca.
Becca adalah satu-satunya orang yang bahagia mendengar kabar tersebut. Agaknya setelah kecelakaan otak Becca konslet. Ia malah bahagia melihat orang lain sakit.
Hari ini Becca ditemani Leon menjenguk Diana di rumah sakit jiwa. Arini sedang bekerja sehingga tidak bisa ikut serta. Mereka hanya berdua saja karena Jasmine berada di rumah bersama Retno.
Becca tersenyum simpul saat melihat Diana menggendong sebuah boneka dan menganggap boneka tersebut adalah anaknya. Becca sangat pandai menyembunyikan senyumnya sehingga Leon tidak menyadari itu.
Diana sedang duduk sendirian di taman. Sementara posisi Becca dan Leon berada tak jauh dari Diana.
"Aku tidak mau dekat, Mas. Aku mau melihat dari kejauhan saja. Kamu sendirian saja kalau mau mendekat," kata Becca. Baginya melihat Diana dari jarak jauh yang sedang dalam keadaan seperti ini cukup memuaskan.
"Ya sudah. Kamu tunggu di sini saja, ya?" Leon berkata dengan penuh perhatian. Ia mencium puncak kepala Becca sebelum akhirnya mendekati Diana.
Becca mengangguk.
Leon lalu mendekati Diana dengan hati-hati. Biar bagaimanapun, Diana masih istri sahnya. Sebagai seorang suami, Leon tidak sampai hati melihat Diana seperti ini.
"Diana..." Leon memanggil dengan sangat hati-hati. Ia takut membuat Diana mengamuk.
Kata dokter, Diana tertekan selama di dalam penjara. Sehingga membuat mentalnya down dan akhirnya ia menjadi seperti sekarang ini.
Ditambah lagi fakta kalau kedua orang tuanya sedang sibuk mengurus perceraian. Dan sekarang sibuk mengurus harta gono-gini dan jarang menjenguk Diana. Memang awalnya mereka berusaha mati-matian mempertahankan hubungan yang tidak sehat tersebut, namun pada akhirnya mereka harus menyerah dan memutuskan untuk bercerai.
"Diana..." Leon memanggil sekali lagi karena panggilan pertamanya tadi tidak digubris oleh Diana.
Diana menoleh sambil tertawa sendiri. "Sayang... Lihat, sayang. Papa pulang. Papa pulang..." Diana tertawa girang saat melihat kehadiran Leon. "Akhirnya... Papa pulang juga."
Leon hanya bisa tersenyum kaku. "Iya, sayang. Ini papa pulang," jawab Leon. Ia tak tahu harus berbuat apa, sehingga satu-satunya yang terlintas dibenaknya adalah mengikuti alur Diana. "Kamu sudah besar sekarang. Jangan nakal sama mama, ya? Kamu harus janji sama Papa untuk selalu menjaga Mama. Kamu bisa janji itu, kan?" Leon berbicara dengan boneka yang ada di gendongan Diana layaknya sedang berbicara dengan anak sendiri
__ADS_1
Tiba-tiba saja Diana menjadi marah. "Kamu! Dari mana saja satu Minggu tidak pulang. Mana uang untuk beli susu? Mana?" Diana bicara dengan nada tinggi sambil menampar pipi Leon.
Memang Leon sudah beberapa hari tidak mengunjungi Diana. Mungkin itu yang dimaksud Diana. Diana menganggap Leon melupakannya dan tidak memberi uang untuk membeli susu.
Sontak saja hal tersebut membuat suster yang melihat langsung membawa Diana ke ruangan untuk ditenangkan.
Sementara itu Leon langsung menemui dokter yang menangani Diana untuk bertanya. "Bagaimana kondisi Diana, dok?" Leon bertanya dengan penuh harap-harap cemas.
"Kondisinya semakin hari semakin memperihatinkan, Pak. Kejiwaan Ibu Diana semakin hari semakin memburuk," terang sang dokter.
Leon langsung lemas seketika. Apa yang menjadi ketakutannya kini menjadi kenyataan. Kejiwaan Diana semakin hari semakin memburuk.
"Tapi ada kemungkinan untuk sembuh kan, dok?" tanya Leon sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di paha.
Sang dokter tersenyum sambil mengangguk. "Atas seizin Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin, Pak. Selain kita berusaha, kita juga harus banyak-banyak berdo'a. Bapak do'akan saja demi Ibu cepat sembuh."
Leon mengangguk pelan. Dari jawaban sang dokter, Leon dapat menyimpulkan kalau kondisi Diana bisa pulih kembali. Tapi mungkin butuh waktu yang lama dan pengobatan yang rutin.
"Sama-sama, Pak," jawab sang dokter.
***
"Kamu tidak apa-apa, Mas?" Becca bertanya saat mereka sudah di dalam mobil untuk pulang. Kejadian penamparan tadi membuat Becca kaget juga. Ia tak menyangka Diana akan berbuat seperti itu.
"Aku tidak apa-apa, Honey," jawab Leon dengan tenang. "Kita pulang sekarang?" tanyanya dan diangguki oleh Becca.
Setibanya mereka di rumah, ada Calina dan Arjuna di sana. Calina datang bukan tanpa alasan. Semata-mata karena ada hal penting yang harus ia bicarakan pada Leon.
"Bagaimana keadaan Diana?" tanya Calina begitu melihat Leon dan Becca memasuki rumah.
__ADS_1
"Memprihatinkan." Leon yang menjawab. "Aku tidak kuat melihatnya. Kasihan sekali."
Sementara itu, Becca langsung minta diantarkan ke kamarnya. Becca dan Calina memang tidak akrab. Mereka jarang sekali bertegur sapa. Calina sendiri biasa saja diperlakukan seperti itu oleh Becca. Ia tidak tersinggung sama sekali.
Leon pun langsung mengantar Becca ke kamarnya, setelah itu ia menemui Calina.
"Ada apa, Ca?" tanya Leon. Ia mengambil alih Arjuna ke dalam gendongannya.
"Aku akan pulang kampung. Mama sakit. Ponsel kamu aku hubungi di luar jangkauan terus," kata Calina. Tadi ia mendapat kabar kalau ibunya sakit dan spontan saja ia memutuskan untuk pulang kampung.
"Biar aku antar," kata Leon dengan cepat. Biar bagaimanapun Leon masih bisa berfikir jernih. Suami macam apa dirinya yang membiarkan istrinya pulang kampung sendirian. Apalagi sang mertua sedang sakit.
"Tidak usah. Kamu kan sibuk." Calina menolak dengan halus. Ia sih tidak masalah jika Leon tidak mengantarnya pulang. Calina adalah wanita mandiri, ia biasa melakukan segala sesuatunya sendiri.
"Sstt... Jangan bicara lagi. Tunggu sebentar. Aku akan pamit pada Becca." Dengan cepat Leon langsung menuju kamar Becca untuk berpamitan. Saking cepatnya, Calina sampai tidak memiliki celah untuk bicara.
Calina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kalakuan Leon.
"Honey," panggil Leon. Ia mendekati Becca yang sedang duduk menatap keluar melalui jendela.
"Ada apa?" tanya Becca. Ia sudah tahu kalau suaminya itu akan mengatakan sesuatu. Dari gelagatnya Becca sangat paham sekali.
"Mamanya Calina sakit. Sekarang ia mau pulang kampung menjenguk mamanya. Aku akan ikut serta. Kamu tidak apa-apa kan jika aku tinggalkan?" Leon bicara hati-hati sekali takut membuat Becca marah.
"Tidak apa-apa. Pergilah!"
Mendapat lampu hijau dari Becca, Leon langsung segera mengambil barang seperlunya. "Aku pergi dulu, ya? Hati-hati di rumah." Leon mencium pipi Becca sebelum akhirnya pergi.
Sepeninggal Leon, Becca banyak-banyak menyabarkan dirinya. Mungkin Leon pikir ia adalah istri yang baik dan mengerti suaminya, tapi sebenarnya yang ada di dalam hati Becca adalah kemarahan dan kekecewaan.
__ADS_1
Bagi Becca, kepergian Leon lebih baik daripada hadir dan malah membuat hatinya semakin kacau.