Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Cemburu


__ADS_3

Hari ini Leon pulang ke rumah agak malam. Karena banyak hal di kantor yang harus ia selesaikan. Ia sampai di rumah pukul satu dini hari. Karena memang sekarang adalah waktunya ia bersama Arini, maka Leon pun langsung menuju kamar Arini.


Namun satu yang tidak Leon ketahui, di sudut lorong ada Becca yang duduk di kursi roda sambil menahan api cemburu.


Kamar Arini memang berada di dekat tangga. Dan sekarang keadaan sedikit gelap karena hanya menggunakan satu lampu yang tidak terang. Karena lampu di lantai dua sedang bermasalah dan belum sempat di ganti. Hal itu membuat Leon tidak menyadari kehadiran Becca. Ditambah lagi ia sudah sangat lelah karena seharian bekerja, jadi tidak sempat memperhatikan keadaan sekitar. Yang ia pikirkan sekarang adalah istirahat.


Becca sendiri memang berniat menunggu Leon. Eh tapi yang ditunggu malah tidak merasa ditunggu.


Akhirnya dengan membawa segala kekecewaan, Becca kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Jasmine yang tertidur pulas di boks bayi. Dari situ timbullah ide gila Becca.


Ia lalu mengganggu Jasmine supaya bocah bayi tersebut menangis dan membuat Leon memasuki kamarnya. Di goyang-goyangkannya tubuh Jasmine dengan pelan. Biar bagaimanapun Becca masih sedikit sadar. Ia tak mungkin tega mengguncang Jasmine dengan sangat keras.


Beberapa kali dicoba namun hasilnya nihil. Jasmine tidak kunjung bangun. Batita tersebut hanya menggeliat kecil saja dan tidak terganggu dengan aksi sang ibu.


Becca menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia kesal pada Leon. Memangnya sebelum memasuki kamar Arini laki-laki itu tidak bisa singgah sebentar di kamarnya? Hanya sebentar saja, kok. Sekedar untuk memastikan apakah istri keduanya ini sudah tidur atau belum.


Karena setres terus memikirkan Leon, akhirnya Becca menjambak rambutnya sendiri. Saking kuatnya ia menjambak, sampai rontok beberapa helai.


"Akhh..." Becca teriak tertahan. "Bajingan! Semua laki-laki bajingan!" Ia meninju-ninju ujung kasur dengan frustasi.


Tanpa sadar air matanya pun tumpah. Ia lalu menyembunyikan tangisnya di balik bantal.


***


Pagi-pagi sekali Arini dan Retno sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Arini memang begitu, tidak bisa menganggur. Menurutnya kalau ia menganggur badannya akan kaku dan sakit-sakit. Hal itulah yang membuat ia tak menyewa asisten rumah tangga saat tinggal sendiri di apartemen.

__ADS_1


"Semalam Bapak pulang jam berapa, Bu? Saya ketiduran jadi tidak bisa membukakan pintu," kata Retno disela-sela aktifitas mencuci tangan di wastafel.


"Jam satu. Kan saya sudah bilang, Bude, tidak usah ditunggu. Bapak bawa kunci sendiri, kok. Jadi walaupun tidak kita bukakan pintu dia tetap bisa masuk," jawab Arini dengan ramah sambil tersenyum manis.


Retno tersenyum sambil mengangguk. "Baik, Bu."


Keduanya lalu terlibat dalam aktifitas memasak bersama. Retno membuat nasi goreng sementara Arini membuat roti bakar. Becca jarang makan nasi kalau pagi hari, oleh karena itu mereka selalu menyiapkan dua sarapan yang berbeda. Nasi dan roti.


"Hari ini Ibu kerja?" Retno bertanya untuk memecah kesunyian di antara mereka berdua.


"Libur, Bude," jawab Arini.


"Saya belum pernah naik pesawat loh, Bu. Bagaimana rasanya naik pesawat? Sama tidak dengan mobil bis?" Retno bertanya dengan polosnya. Ya, ia memang belum pernah naik pesawat. Karena selama ini ia belum pernah bepergian jauh. Hanya sekitar pulau Jawa saja. Dan itu bisa ditempuh dengan kendaraan darat saja.


"Sama, Bude. Hanya bedanya, kalau pesawat itu di udara..."


"Nah, iya betul."


"Tapi kalau di darat banyak jalan bolongnya, Bu." Retno tampak berbisik-bisik saat bicara. "Uangnya banyak di korupsi pejabat, sehingga pembangunan jalan terkadang tidak semestinya. Sehingga jalanan cepat sekali rusak. Baru enam bulan di bangun sudah bolong-bolong. Kalau di udara kan tidak ada jalan bolong, Bu."


Arini tersenyum sambil menjawab. "Di pesawat tidak selalu mulus kok, Bude. Meskipun kelihatannya di udara itu mulus, tapi tidak demikian. Terkadang cuaca yang buruk bisa membuat pesawat sedikit oleng."


"Oh... Begitu..." Retno mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


"Bude mau naik pesawat?" Arini bertanya sambil mengeluarkan roti dari atas panggangan dan ia menaruhnya di atas piring saji.

__ADS_1


Retno menggeleng. "Tidak, Bu. Eh maksud saya belum. Saya belum niat bepergian jauh, kok. Kan kata ibu rasanya sama saja seperti naik mobil bis."


Saat Arini hendak menjawab, ia mendengar suara ribut dari lantai atas. Dengan buru-buru ia lalu berlari ke lantai atas.


Sesampainya di lantai atas, Arini diam membatu di depan kamar Becca. Karena suara keributan berasal dari sana.


"Kamu keterlaluan, Mas! Selalu saja Mbak Arini yang kamu prioritaskan. Kamu pikir aku ini apa?" Becca bicara dengan nada tinggi.


"Bukan begitu, Bec. Malam tadi memang waktunya aku bersama Arini, bukan?" Leon berusaha untuk tidak terbawa emosi.


"Lalu apa salahnya kamu lihat aku sebentar sebelum masuk dalam kamar Mbak Arini. Bisa kan hanya dua atau tiga menit? Sekedar untuk memastikan aku masih hidup atau sudah mati! Kamu juga sering chat aku hanya untuk bertanya kabar Mbak Arini. Tidak pernah bertanya kabarku. Apa salahnya bertanya kabarku terlebih dahulu, baru bertanya kabar Mbak Arini?" Becca membanting barang-barang yang ada di atas meja rias. Hal itu membuat Jasmine terbangun dan menangis. Dengan cepat Leon menggendong Jasmine dan menenangkan bayi itu.


Arini tidak kuat lagi mendengar perkelahian itu, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dapur dan memasak.


"Ada apa, Bu?" tanya Retno saat melihat Arini kembali bersamanya. Ia hanya mendengar samar-samar saja. Namun Retno tahu betul, kalau kedua majikannya itu sedang berkelahi.


"Tidak ada apa-apa, Bude. Ayo kita selesaikan membuat sarapan ini." Arini yang sudah terlanjur bad mood langsung bergegas membereskan dapur.


Kata-kata Becca tadi masih terngiang di kepala Arini. Ia baru tahu kalau selama ini Becca sering ketus kepadanya semata-mata karena cemburu.


Arini baru sadar, ternyata keputusannya untuk tinggal bersama dengan Becca bukanlah keputusan yang bagus. Harusnya dari awal ia mendengarkan Leon yang selalu melarang, sehingga hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Arini bingung. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Keluar dari rumah Becca dengan begitu saja juga bukan keputusan yang bagus. Biar bagaimanapun ia harus menyelesaikan semua yang sudah ia mulai. Ia harus merawat Becca sampai sembuh. Tapi jika Becca selalu tidak bersahabat padanya, ia harus bagaimana?


Retno yang melihat Arini melamun sambil membilas satu gelas dengan sangat lama langsung mematikan keran wastafel. Dari tadi gelas itu dibilas hampir satu menit.

__ADS_1


"Oh... Ehem. Maaf, Bude. Saya mau ke toilet dulu." Arini langsung menuju toilet dan meninggalkan Retno yang masih termenung di dapur.


Dalam hati Retno bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan Arini?


__ADS_2