Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Bertemu Yuna


__ADS_3

Arini sedang belanja sendirian di supermarket. Dia hendak belanja skincare dan make-up.


"Hai, Rini," sapa seseorang. Orang tersebut adalah Yuna. Mantan tetangga Arini.


Arini yang sedang memilih warna lipstik, langsung menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum singkat pada Yuna. "Hai, belanja, Yun?" tanyanya basa-basi.


"Iya," jawab Yuna. "Ngomong-ngomong kamu pindah kok tidak bilang-bilang sih, Rin?" Yuna ikut memilih lipstik juga.


"Maaf, habisnya kemarin itu dadakan," ujar Arini.


"Kenapa sih kamu pindah?"


"Tidak apa-apa. Cuma pingin cari suasana rumah yang nyaman," jawab Arini sambil mengambil lipstik berwarna nude. "Aku duluan, ya? Buru-buru soalnya." Arini langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


Di tempat tadi, Yuna menghentakkan kakinya kesal. "Sombongnya Si Rini itu. Mudah-mudahan suamimu bangkrut. Biar tahu rasa!"


***


Selesai belanja di supermarket, Arini memutuskan untuk mendatangi kantor Leon.


Hari ini dia tidak membawa mobil. Jadi dia memutuskan untuk naik taksi online saja. Saat dia hendak mendekati taksi, tiba-tiba saja sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi persis di depan Arini.


Karena kaget, Arini jatuh terduduk di aspal. Dia memang tidak terserempet. Tapi akibat jatuh terduduk, rasa-rasanya pinggang Arini encok.


"Ibu tidak apa-apa, Bu?" tanya si supir taksi cemas.


"Saya tidak apa-apa, Pak," jawab Arini sambil meringis.


Dengan sudah payah Arini masuk ke dalam taksi.


***


"Kenapa jalan kamu kayak nenek-nenek?" goda Leon saat melihat Arini masuk ke ruangan dengan jalan sedikit membungkuk.


Dengan pelan Arini duduk di sofa panjang yang ada di ruangan Leon. "Sepertinya aku memang sudah berubah jadi nenek-nenek," gumam Arini sambil meringis.


Melihat ada yang tidak beres, Leon lantas mendekati Arini. "Ada apa, Rin?" tanyanya cemas.


"Aku jatuh terduduk di aspal."


"Kok bisa?"


"Iya, tadi ada ABG ugal-ugalan naik motor, karena kaget, aku jadi jatuh."


"Kamu ke serempet atau tidak?" tanya Leon sambil memeriksa keadaan tubuh Arini.


"Hei tenang. Aku baik-baik saja," ujar Arini.

__ADS_1


Leon duduk di sebelah Arini sambil menatap istrinya itu lekat-lekat. "Kamu serius?"


Arini mengangguk.


"Sepertinya kita harus ke dokter, Rin. Takutnya tulang kamu cidera serius."


"Kamu mirip Mama, deh. Sedikit-sedikit dokter, rumah sakit. Dibilang aku baik-baik saja kok tidak percaya," omel Arini sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.


Leon diam saja dan tak menanggapi kata-kata Arini. Jujur saja Leon marah mendengar kata-kata Arini barusan.


Dia memang benar-benar perduli pada Arini. Dia tak mau Arini-nya kenapa-napa.


Tapi semarah-marahnya Leon pada Arini, dia tak akan sampai mengutarakan kata-kata kasar.


Leon kalau marah, andalannya adalah diam. Terkadang diam lebih baik daripada ngomel-ngomel tidak jelas.


Arini menoleh ke arah Leon. Sepertinya ada yang aneh. Apa jangan-jangan Leon marah?


Ah, gawat! Demi apapun juga Arini tidak ingin melihat Leon marah. Pasalnya Leon kalau marah tidak mau bicara. Arini sendiri lebih memilih di omeli habis-habisan daripada di diamkan seperti ini.


"Kamu marah?" tanya Arini dengan nada rendah. "Aku minta maaf. Aku tahu kamu cemasin aku, tapi aku baik-baik saja, Leon. Please! Jangan marah, ya?!" Arini menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Leon masih diam saja.


"Leon! Ngomong, dong!"


"Iya, aku minta maaf. Please!" Arini menarik-narik tangan Leon seperti anak kecil.


"Iya aku maafin. Tapi bolehkan sekarang kita makan siang. Lapar." Leon mengelus perutnya yang rata.


"Sudah tidak marah lagi?" tanya Arini tak percaya.


"Ya. Sudah aku maafkan."


Arini tersenyum lebar sekali.


Setelah berunding memutuskan untuk makan di mana, akhirnya pilihan mereka jatuh pada Restoran Korea.


Sakit pinggang Arini sudah sembuh, sekarang perempuan itu sudah bisa berjalan lagi dengan normal.


Mereka memesan menu ttokpokki. Pasalnya menu tersebut sangat cocok di lidah Arini dan Leon.


Tak di sangka tak di duga, Arini kembali lagi bertemu dengan Yuna di restoran tersebut.


"Hai, Rin, Mas Leon," sapa Yuna ramah.


Yuna yang baru saja datang, memilih duduk di meja sebelah Arini dan Leon. Perempuan tersebut sendirian saja. Tidak bersama anak ataupun suaminya.

__ADS_1


"Yuna. Sendirian saja?" yang Leon berbasa-basi.


"Iya. Boleh aku ke meja kalian saja?" tanyanya.


Leon melihat Arini untuk meminta persetujuan. Akhirnya mau tak mau Arini mengangguk.


Dan sekarang di sinilah Yuna. Satu meja dengan Arini dan Leon.


Yuna memesan mie hitam Korea. Pesanan mereka bertiga sudah datang.


"Padahal kemarin aku baru ngajak kamu ikut arisan. Eh, kamu sudah keburu pindah rumah," kata Yuna sembari mendinginkan mie miliknya.


Kemarin? Sudah lama keleus, batin Arini.


"Iya. Kami sengaja pindah rumah. Biasa, nyari suasana baru," ujar Leon.


Arini hanya diam saja dan menikmati makanannya dengan tenang. Sebenarnya dia kesal dengan Leon yang malah meladeni Yuna, tapi ya sudahlah. Lagian kalau tidak di jawab, pasti Yuna akan terus bertanya.


"Kalian pindah ke mana?" tanya Yuna sambil mengangkat mie miliknya menggunakan sumpit.


"Rahasia," jawab Leon singkat.


Arini dan Leon mendengar Yuna mendengus pelan. Sepasang suami istri itu hanya saling melirik dan tersenyum simpul.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit di restoran, Arini dan Leon kembali lagi ke kantor.


"Huh! Kok bisa-bisanya kita ketemu Yuna. Kalau melihat Yuna, aku selalu emosi. Yuna, Femi, Sinta. Tiga sekawan tukang gosip. Sebenarnya terserah mereka mau menggosip atau tidak, tapi ini yang digosok kita. Dan aku tidak terima." Arini mengoceh khas ibu-ibu.


Leon yang sedang menyupir di sebelahnya hanya melihat sekilas ke arah istrinya itu. Walaupun Arini terlihat kalem, tapi kalau ia sedang marah atau kesal, pasti ngomel juga. Ya, seperti ibu-ibu pada umumnya lah.


Mungkin wanita memang ditakdirkan seperti itu. Suka ngomel.


Pasalnya beberapa wanita yang Leon kenal memang seperti itu semua. Ibunya. Istrinya. Semua suka ngomel.


"Leon! Kok kamu diam saja, sih?!"


"Iya, Sayang. Aku juga kesal ketemu Yuna. Kalau bisa kita pindah saja dari restoran tadi. Tapikan menu kita sudah terlanjur di pesan. Mubazir kalau tidak di makan."


"Tuh, kan. Kamu aja yang laki-laki bisa kesal sama Yuna. Apalagi aku yang perempuan?!"


Leon menggelengkan kepalanya. Sepertinya sang istri sedang PMS. Sedari tadi emosian terus.


"Iihh... Leon!"


"Apa, Sayang?" Leon menoleh ke arah istrinya yang duduk di sebelah kiri.


"Tau, ah. Bad mood." Arini membuang wajahnya ke kaca jendela.

__ADS_1


Kalau sudah seperti ini, Leon tidak akan berani menggoda Arini. Dia akan memilih diam dan menutup bibirnya rapat-rapat.


__ADS_2