Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Penjara


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Saat Arini bekerja, Leon menghabiskan harinya dengan di temani David. Terkadang Leon dan David melakukan hal-hal ekstrem.


Atau kadang hanya duduk di perpustakaan dengan posisi Leon menghadap laptop dan David tiduran di karpet bulu halus. Ya, meskipun sakit, tapi Leon masih tetap mengontrol perusahaan. Terkadang ia memeriksa laporan keuangan ataupun sekedar mengobrol dengan bawahannya.


Namun sekarang ini berbeda. Leon dan David sedang mengunjungi penjara. Pasalnya, Reza sudah di tahan oleh pihak yang berwajib. Dan sekarang, mantan rekan kerjanya itu sudah mendekam di balik jeruji besi.


Leon menemui Reza di ruang penjengukan. Tampak Reza tersenyum miring melihat kondisi Leon sekarang ini.


"Ini karma karena kamu memenjarakan orang tua, bocah tengil," ujar Reza dengan bibir yang naik sebelah.


David yang berdiri di belakang Leon, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia kesal sekali pada laki-laki buncit yang duduk di depan majikannya ini.


"Heh pembantu! Kenapa tangan kamu itu? Mau ninju saya? Tinju aja kalau berani!" tantang Reza sok berani.


David hendak maju tapi dicegah oleh Leon. "Jangan kotori tanganmu dengan hal-hal yang tidak penting, Vid."


David mendengarkan majikannya. Ia lantas kembali berdiri tegak di belakang Leon sambil menatap Reza dengan pandangan membunuh.


"Aku pulang dulu, Om. Selamat menikami dinginnya lantai penjara," ujar Leon sambil tersenyum singkat. "Ayo, Vid, kita pulang!" lanjutnya.


Dengan sigap, David lantas mendorong Leon menuju parkiran lapas.


Setelah mereka berada di dalam mobil, David lantas mengeluarkan uneg-unegnya. "Mas Leon kenapa bisa sesabar itu, sih? Kalau saya jadi Mas Leon, sudah saya cincang si pak tua itu," omel David sambil melajukan mobil menuju rumah.


Sebenarnya waktu bekerja dengan Leon, David belum memiliki SIM. Akan tetapi, karena dia bisa menyetir mobil, beberapa hari yang lalu dia ujian SIM, dan syukurlah dia lulus. Jadi bisa menyupir untuk Leon.


"Terus kamu mau buat sate lilit, ya?" tanya Leon sambil terkekeh.


"Tidak lah, Mas. Saya kan titisan Gatot Kaca, bukan titisan Sumanto," sahut David sambil terkekeh.


Leon hanya menanggapi kata-kata David dengan senyuman saja. Ia masih memikirkan kejadian saat bertemu dengan Reza tadi.


Sebenarnya tadi itu Leon hendak bicara banyak pada Reza, akan tetapi entah mengapa tiba-tiba saja lidahnya kelu. Akhirnya ia hanya bisa diam saja.

__ADS_1


"Mas, Leon. Mau sesuatu yang ekstrem lagi, tidak?" tanya David sambil tersenyum misterius kepada Leon yang duduk di sebelahnya.


"Kasih aku kehutanan lagi," ujar Leon menantang kata-kata David.


David yang memang anaknya rada gesrek, langsung melajukan mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Leon yang duduk di sebelahnya nyaris jantungan.


Beberapa kali tubuh Leon terhuyung mengikuti irama mobil yang ugal-ugalan. Ia melirik sekilas ke arah David, remaja itu wajahnya tenang sekali. Tidak terlihat panik seperti dirinya.


Tiba-tiba saja mobil mereka di kejar oleh polisi lalu lintas. Sirine motor polisi terdengar bersahut-sahutan.


Dengan tampang polosnya David berhenti. Dia membuka kaca mobilnya, membuat sang polisi bisa melihat keadaan di dalam.


Belum sempat sang polisi berkata, David sudah berkata terlebih dulu. "Maaf, Pak polisi. Bukan maksud saya ugal-ugalan di jalan, tapi saat ini majikan saya sedang sekarat, kami harus segera sampai rumah sakit," ujar David dengan ekspresi sedih, galau bercampur aduk jadi satu.


Namun polisi tak lantas percakapan begitu saja, ia memeriksa tubuh Leon yang menurut mereka baik-baik saja.


Leon yang mendengar ucapan bohong dari David, lantas ber-akting pura-pura sekarat. Matanya terbuka sayu. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya diam saja sambil memandang lurus ke depan dengan pandangan seperti orang menahan sakit.


"Kenapa tidak pakai ambulans?" tanya polisi yang masih berdiri di sebelah kaca David.


"Saya sudah hubungi lima rumah sakit, tapi semua ambulans-nya sedang di pakai," jawab David.


Setelah di periksa ala kadarnya, akhirnya polisi tersebut memperbolehkan mereka berdua pergi.


Entah itu akting Leon yang jago, atau memang si polisi tidak mau berburuk sangka. Atau malah si polisi malas berbicara lama-lama dengan David. Masa iya mereka di perbolehkan pergi begitu saja?


"Huh! Bodoh sekali mereka. Masa kita tidak di kawal?" omel David setelah ia kembali melajukan mobilnya.


"Jadi kamu mau di kawal sampai rumah sakit?" tanya Leon.


"Bukan begitu, Mas. Tapi kerja mereka itu payah. Bagaimana kalau kita tidak benar-benar ingin ke rumah sakit? Dan ternyata kita hanya bohong belaka. Harusnya mereka mengantisipasi hal itu dengan cara mengawal kita di belakang. Huh! Mereka kurang pandai," omel David seperti emak-emak.


Leon menggeleng kepalanya takjub. Ia paham maksud David, saat ada pengendara yang ugal-ugalan mengatakan mereka ingin ke rumah sakit, harusnya polisi tidak percaya begitu saja.

__ADS_1


Tapi Leon percaya, polisi yang ber-ulah seperti itu hanyalah sebagai kecil saja. Artinya mereka itu hanya oknum. Tidak semua polisi percaya mentah-mentah dengan bualan si pengendara.


"Tapi ngomong-ngomong, tadi Mas Leon bisa banget mirip orang sekarat. Bisa lah casting jadi bintang film," ujar David sambil terkekeh.


"Kamu ini buat saya deg-degan saja. Untung saja mereka percaya, kalau tidak? Alamat kita kena tilang."


David hanya menanggapi ucapan Leon dengan tertawa saja.


***


Saat ini perusahaan di tangani oleh Arini. Karena Arini tidak memiliki pengalaman memimpin perusahaan, pagi siang sore malam selalu ia habiskan untuk belajar. Baik itu belajar sendiri dengan cara membaca buku dan jurnal, atau juga belajar secara langsung dengan Leon.


Jika tidak memiliki jadwal terbang, maka Arini akan sibuk mengurus perusahaan dan dua cafe Becca.


"Kamu pasti capek, ya?" tanya Leon saat mereka hendak tidur malam.


Arini menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum. "Tidak. Malah aku merasa senang bisa mendapatkan pengalaman baru," ujarnya.


Saat ini Leon dan Arini tidur dengan Yusuf saja, karena Jasmine memaksa tidur dengan Wulan dan Ani.


Si kecil Yusuf sudah tertidur pulas sejak tadi.


"Aku pingin deh jenguk Om Reza," ujar Arini.


"Jangan!"


"Kenapa?"


"Nanti kamu malah emosi sendiri. Cukup aku sama David saja yang darah tinggi, kamu jangan," ujar Leon tegas. "Dia menyebalkan. Tidak merasa bersalah sama sekali."


"Ya sudah kalau memang kamu tidak memberi izin, aku tidak akan pergi," kata Arini pada akhirnya.


"Aku hanya tidak mau mental kamu terganggu dengan mulut pedas Om Reza."

__ADS_1


"Ya, aku paham, Sayang."


__ADS_2