Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Pantai


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Ini sudah satu minggu lamanya setelah Hamdani menanamkan modalnya di perusahaan Leon.


Perusahaan sudah sangat stabil. Penjualan semakin meningkat. Dan yang pasti, perusahaan sudah bisa membayar cicilan hutang secara rutin setiap bulannya.


Hamdani yang tidak memiliki kegiatan selain mendaki gunung, sesekali dirinya menyibukkan diri datang ke perusahaan. Sekedar untuk silaturahmi dan juga belajar bisnis.


Kemarin Sabtu, Leon dan Arini mengajak keluarganya untuk jalan-jalan ke pantai. Hamdani dan Aldi diajak juga. Akan tetapi Aldi tidak bisa, karena ternyata ia memiliki jadwal terbang.


Dan sekarang di sinilah mereka. Di pantai. Ada Arini, Leon, Hamdani, Yusuf, Jasmine, David, Ani dan Wulan.


Jasmine dan Wulan sedang duduk di pasir sambil mencoret-coret kanvas. Maksudnya, Jasmine sedang melukis pemandangan laut yang biru. Wulan duduk manis di sebelah Jasmine sambil melihat takjub ke arah kanvas yang dicoret Jasmine.


Hamdani dan Yusuf sedang membuat istana pasir. Yusuf ingin membuat kastil seperti yang selalu ia lihat di buku dongeng Eropa. Karena buku dongeng milik Yusuf, semuanya memiliki gambar. Jadi, selain anak-anak bisa mengimajinasikan dari bacaan, mereka juga bisa melihat beberapa visual pendukung.


Sedangkan Leon, Arini, David dan Ani sedang duduk di bawah payung besar sambil menikmati kelapa muda. Cuaca sore ini tidak terlalu panas, cocok sekali untuk bermain di pantai seperti ini.


Leon dan Arini menatap anak-anaknya yang tak jauh dari mereka. Keduanya bahagia sekali bisa jalan-jalan bersama seperti ini.


Sepertinya David paham situasi, ia mengajak Ani untuk mendekati Jasmine dan Wulan. Dirinya ingin memberikan privasi pada Leon dan Arini. Supaya majikannya itu bisa menikmati indahnya pantai ini berdua saja. "Bude, kita lihat lukisan Jasmine, yuk!" ajak David.


Ani yang tidak paham kode, menolak ajakan David tersebut. "Di sini saja, Vid. Bude lagi pingin santai," ujarnya dengan ekspresi polos.


David tak menyerah begitu saja. Ia kembali lagi mengajak Ani. Tapi kali ini agak sedikit memaksa. "Ayolah, Bude!" rengek David sambil menarik sedikit paksa tangan Ani. Ia persis seperti anak kecil yang merengek ingin dibelikan sesuatu. Lucu sekali.


"Kalau Bude tidak mau, tidak usah dipaksa, Vid," ujar Arini sambil menatap David. Suara Arini adem sekali, membuat siapa saja yang mendengar menjadi meleleh.

__ADS_1


"Bude mau kok, Mbak. Iya kan, Bude?!" Kali ini David menarik tangan Ani dengan cukup memaksa.


Dengan cemberut, akhirnya Ani terpaksa ikut dengan David. Setelah jauh dari Arini dan Leon, David lalu berkata, "Bude ini kok tidak peka sama sekali, sih. Saya itu ngajak Bude menjauh dari Mas Leon dan Mbak Arini karena mau memberikan waktu untuk mereka berdua," ujar David sedikit kesal. Ia menghentakkan kakinya persis seperti anak kecil.


Ani yang baru paham maksud dari Leon, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia meringis malu. "Kenapa kamu tidak kasih kode, biar Bude tidak salah kaprah seperti tadi. Kan Bude jadi malu sendiri," ujar Ani merasa bersalah.


David tidak menyahuti kata-kata Ani karena mereka sudah sampai di tempat Wulan dan Jasmine. Keduanya terbengong melihat hasil lukisan Jasmine, indah sekali. Terlihat sangat hidup.


"Wow... Keren!" puji David tulus.


Jasmine menoleh ke arah David, ia tersenyum malu. "Terimakasih, Om," ujarnya malu-malu.


Di bawah payung besar tadi, Leon dan Arini saling pandang tanpa berkata apa-apa. Namun sepertinya mereka sedang bertelepati. Karena apa yang mereka bicarakan di dalam hati, sangat nyambung sekali. Ya, mereka sama-sama bahagia dengan hal sederhana ini.


"Aku pingin ke sana!" Leon menunjuk tempat yang sepi dari pengunjung.


Arini mengangguk. Setelah membayar minuman mereka, Arini lalu mendorong Leon ke tempat yang diinginkan suaminya itu.


Dan sekarang, disinilah mereka. Mereka Sama-sama duduk di pasir sambil memandang lurus ke pantai. Leon tidak duduk di kursi roda, ia ingin duduk bersebelahan dengan istrinya. Akhirnya dengan sedikit susah payah, Arini membantu Leon untuk duduk di pasir.


"Kita seperti sedang pacaran," ujar Arini sambil menoleh ke arah suaminya.


"Memang. Kita memang sedang pacaran. Mumpung anak-anak sedang sibuk, jadi kita bisa punya waktu berdua. Aku ingin menatap teduhnya wajahmu di bawah sinar matahari. Tapi sayang, mataharinya tidak terik. Kalau mataharinya terik, akan jauh lebih menarik. Pasti sinar matahari yang terik itu akan kalah karena ada wajahmu yang teduh," ujar Leon sambil mengerling jahil.


Pipi Arini sontak berubah menjadi merah. Walaupun Leon adalah suaminya sendiri, dan mereka sudah bertahun-tahun hidup bersama, tetapi tetap saja, saat sedang digombali seperti ini, tak jarang Arini merasa malu.

__ADS_1


"Kamu suka, tidak?" tanya Leon.


Arini yang sedang memandang lurus ke depan, menganggukkan kepalanya. "Suka. Sangat suka. Suka sekali," jawabnya tanpa menoleh ke arah Leon, karena wajahnya masih blushing. "Kamu ngapain?" tanyanya saat melihat Leon menumpuk-numpuk pasir.


"Aku sedang membuat istana untuk kita berdua," jawab Leon. Leon membuat sebuah istana yang bentuknya tidak karuan. Maklumlah, ia memang tak pandai membuat istana pasir.


"Kok istananya reot. Bagaimana kalau runtuh?"


"Tenang, Sayang. Ini kuat kok. Memang desainnya seperti ini. Aku adalah arsitek yang membuat terobosan baru pada bangunan istana," kekeh Leon. "Nah, selesai!" ujarnya sambil mengibaskan tangannya supaya pasir yang masih tersisa di tangannya rontok.


Arini yang mengalungi kamera DSLR, memfoto istana pasir buatan suaminya itu. Ia mengambil beberapa foto. Mulai dari istana itu sendiri, dan juga suaminya bersama istana.


"Yaahh... Tersapu ombak," ujar Leon sambil memandang sedih istananya yang sudah musnah.


Celana Leon basah karena terkena ombak. Sedangkan Arini aman. Celananya yang basah hanya bagian bawahnya saja, karena tadi saat ombak datang, ia sedang berdiri sambil memfoto Yusuf dan Jasmine yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Kamu basah, ayo duduk di kursi roda aja," ujar Arini.


"Aku masih mau di sini, Sayang. Namanya juga main di pantai, ya pasti basah," ujar Leon sambil terkekeh. Ia sama sekali tidak terganggu dengan celananya yang basah. "Kalau aku tidak sakit seperti ini, aku pasti akan mengajak kamu berenang."


Arini berjongkok di sebelah Leon, dia tidak mau duduk di pasir yang basah karena saat ini dirinya sedang datang bulan. Kalau ia nekat duduk di pasir basah, bisa-bisa pasirnya berubah warna menjadi merah.


"Aku tidak mau berenang. Aku lagi dapat tamu bulanan," ujar Arini sambil melihat hasil fotonya.


"Oh, iya. Aku sampai lupa. Padahal sebelum berangkat kamu sudah mengatakan ini," sahut Leon sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2