
Jasmine si bayi merah sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cilik yang aktif. Ia yang sekarang sedang belajar jalan, tidak pernah mau diam. Selalu saja mencari kesibukan dengan cara apapun.
Ya seperti sekarang ini, ia sedang berjalan menuju Arini yang duduk di depannya dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Gadis cilik tersebut tampak bersemangat sekali, hingga tanpa sengaja kakinya tersandung mainannya sendiri dan ia terjatuh ke lantai yang ber-alaskan karpet. Namun naas, kepalanya terbentur mobil-mobilan besar yang biasa ia naiki.
Sontak saja gadis cilik tersebut langsung menangis, dan Arini dengan sigap langsung menggendongnya.
"Tidak apa-apa, ya? Namanya perjuangan pasti ada saja rintangannya. Jatuh, bangkit lagi!" Arini menggendong Jasmine sambil berbicara dengan gadis cilik tersebut. Ya walaupun Arini tahu kalau Jasmine belum bisa diajak ngobrol, tapi mengajak anak kecil bicara itu sangat menyenangkan. Sekalian juga mengajari Jasmine bagaimana caranya bicara. Pasalnya saat ini Jasmine sudah bisa mengucapkan beberapa kata. Seperti Mama dan Papa.
"Ada apa, Sayang?" Tiba-tiba saja Leon sudah muncul di belakang Arini.
"Jasmine jatuh, kepalanya terbentur mobil-mobilan," beritahu Arini.
"Oh... Sini sama Papa. Mama kamu perutnya sudah besar, kasihan nanti kecapean." Leon mengambil alih Jasmine.
Namun Jasmine tak kunjung diam, ia masih saja menangis.
"Ternyata benjol. Pasti sakit," ucap Arini saat ia memeriksa keadaan kening Jasmine. "Kita bawa ke dokter aja!" usulnya dan disetujui Leon.
Leon dan Arini lalu membawa Jasmine ke klinik yang tak jauh dari rumah mereka. Hari masih terlalu pagi, belum banyak pasien yang datang. Saat ini hanya ada 5 orang saja yang sedang duduk di kursi tunggu.
Leon sendiri sengaja berangkat kerja siang hari ini, karena ia akan menemani Arini periksa kehamilan. Berhubung sekarang mereka sudah di klinik tempat biasa Arini periksa kehamilan, sekalian saja Arini memeriksakan kehamilannya. Supaya hemat waktu, tidak payah bolak balik.
"Anaknya kenapa, Mas?" tanya seorang ibu muda berparas cantik. Ibu tersebut membawa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
"Jatuh, Mbak," jawab Leon ramah.
"Ooo..." Ibu tersebut tampak manggut-manggut sambil menatap Leon genit.
Leon yang sekarang sudah bertaubat, langsung memalingkan wajahnya dan menatap Arini yang ada di sebelahnya. Bukan ia takut pada Arini, hanya memang sekarang ini ia sudah tidak ingin lagi melakukan hal sembrono seperti dulu.
"Masnya tinggal di mana?" tanya si ibu tadi. Masih terus dia berubah mendekati Leon.
"Nona Jasmine!" panggil seorang perawat yang bertugas.
Namun pertanyaan tersebut tidak di jawab oleh Leon, karena sekarang sudah giliran Jasmine di periksa. Lagian kalau Jasmine belum di panggil, ia juga tak berniat memberitahu dimana ia tinggal. Baginya itu privasi. Orang yang tidak berkepentingan dilarang tahu.
__ADS_1
***
"Sayang, kamu hati-hati di rumah, ya? Kalau ada apa-apa kabari aku. Aku berangkat kerja dulu." Leon berpamitan kepada Arini dan Jasmine. Ia menciumi kening Arini dan pipi gempal Jasmine.
"Iya. Kamu juga hati-hati," jawab Arini sambil berjalan ke depan untuk mengantar Leon pergi kerja.
Leon bisa berangkat kerja dengan tenang. Karena tadi kata dokter kondisi janin yang ada di perut Arini sangat sehat. Dan Arini juga sehat.
Kalau Jasmine? Gadis cilik tersebut tidak apa-apa, hanya lebam sedikit dan telah diberi salep oleh sang dokter.
Leon pun lalu berangkat menuju kantornya. Jam sepuluh ia baru berangkat. Kalau bos boleh bebas sedikit, bukan? Lagi pula ia tidak melakukan seperti ini terus-terusan, kok. Hanya saat ada urusan saja. Walaupun bos tapi tetap harus tahu aturan juga.
Arini sudah mengambil cuti, jadi sekarang ini waktunya hanya ia habiskan untuk bermain dengan Jasmine saja.
"Bu Arini, saya boleh keluar sebentar?" tanya Retno yang sudah berpakaian rapi.
"Mau ke mana, Bude?" tanya Arini.
"Ke ATM, Bu. Saya mau transfer uang untuk sekolah anak saya."
"Baik, Bu."
Sekarang Arini hanya berdua saja dengan Jasmine. Gadis cilik tersebut masih saja belajar jalan. Berhubung Arini telah belajar dari kesalahan, ia pun membersihkan tempat di sekitar Jasmine. Agar anaknya itu tidak lagi jatuh karena tersandung.
"Waahhh.... Anak Mama hebat!" puji Arini saat Jasmani berhasil jalan mendekatinya tanpa terjatuh.
***
"Leon, aku mau pulang kampung agak lama. Boleh, kan?" tanya Calina melalui sambungan telepon.
"Ada apa memangnya? Ada acara keluarga, ya?" tanya Leon. Sebelum ia memberikan izin, ia harus tahu dulu apa keperluan Calina. Sehingga tidak salah mengambil keputusan.
"Papa Mama panen teh," jawab Calina.
"Bukannya teh selalu di panen setiap hari?" tanya Leon.
__ADS_1
"Anu... Maksud aku, aku lagi pingin panen teh," jawab Calina terbata-bata. Seperti ada yang ia sembunyikan dari Leon.
Leon mengerutkan keningnya samar. Ia tidak yakin dengan jawaban yang diberikan Calina. Menurut instingnya, saat ini Calina sedang berbohong.
"Aku ini suami kamu, Ca. Kalau ada apa-apa kamu harus ngomong sama aku. Jangan di pendam sendirian." Suara Leon terdengar lebih berat dari biasanya.
"Aku baik-baik saja, Leon Sayang. Aku hanya ingin liburan. Pusing menghirup polusi ibu kota." Calina terus saja merengek supaya Leon mau memberinya izin. "Boleh, ya?" tanyanya sekali lagi.
Leon menghembuskan nafasnya berat. "Ya sudah, boleh. Tapi kalau ada apa-apa segera kabari aku." Akhirnya Leon pasrah saja.
Setelah telepon terputus, Leon tidak bisa konsentrasi bekerja. "Sebenarnya ada apa dengan Calina?" Leon bergumam sendiri sambil menatap kosong pada layar komputer yang ada di depannya.
Leon yakin, sangat yakin malahan, kalau ada yang disembunyikan dari Calina. Tapi apa? Leon tidak tahu itu.
Tok tok
Pintu ruangan Leon di ketuk dari luar, dan tak lama muncul sosok sekretarisnya.
"Ada apa, Do?" tanya Leon tak bersemangat. Kalau seperti ini, ia ingin pulang saja.
"Satu jam lagi Bapak ada meeting dengan Bu Zaskia," beritahu sang sekretaris.
Shit! Leon mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya ia melupakan itu.
"Oke. Terimakasih, Do. Ada lagi?" tanya Leon saat melihat sekretarisnya tak kunjung pergi.
"Anu, Pak. Pak Cakra membatalkan kerjasama dengan kita," beritahu Aldo.
"Ya sudah. Tidak apa-apa. Itu hak dia," jawab Leon pasrah.
"Kita tidak mau melobinya lagi, Pak?" usul Aldo. Biasanya jika ada client yang tidak setuju, Leon pasti akan melobi sampai dapat, tapi mengapa kali ini bosnya cuek saja?
"Tidak usah," jawab Leon tegas. Leon sendiri masih ingat wajah menyebalkan Cakra beberapa hari yang lalu. Oleh karena itu ia tidak mau lagi berhubungan apapun dengan Cakra.
"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Aldo membungkuk sopan lalu keluar dari ruangan Leon.
__ADS_1