Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Dalam Pengawasan Ketat


__ADS_3

Semenjak mengetahui Arini hamil, Leon menjadi sangat overprotektif. Hal itu membuat Arini jengah. Bukan dia tidak suka diperhatikan, hanya saja menurut Arini itu terlalu berlebihan.


Seperti halnya hari ini. Sekarang ini mereka berdua sedang berada di sebuah mall. Ya, apalagi kalau bukan belanja.


Skincare Arini telah hampir habis, jadi ia memutuskan untuk belanja. Sebenarnya tadi dia pergi ke mall ini sendirian. Namun tidak sengaja keduanya bertemu di tempat ini.


Leon sendiri baru saja selesai meeting dengan client di salah satu restoran yang ada di dalam mall ini. Dan saat ia hendak pulang menuju kantornya, tak sengaja bertemu dengan Arini.


"Kamu ngapain ke sini?" Leon bertanya dengan penuh selidik. Ia sendiri tidak suka melihat Arini pergi sendirian dengan kondisi hamil seperti ini. Ia takut terjadi hal seperti dua tahun lalu.


Arini tidak menjawab apa-apa. Dia hanya mengangkat paper bag yang berisi skincare di hadapan Leon.


Leon pun langsung melihat isi dari paper bag yang ditenteng istrinya tersebut. "Kenapa tidak bilang sama aku kalau mau belanja. Kan bisa aku temani? Lain kali jangan pergi sendirian. Ingat, di perut kamu sedang ada bayi kita. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian."


Arini merasa jengah sendiri. Entah bagaimana ia meyakinkan suaminya ini, kalau dirinya pasti bisa menjaga diri.


"Sekarang lebih baik kamu kembali ke kantor, deh. Cari duit yang banyak untuk tiga istri dan tiga anak. Aku baik-baik saja. Aku bisa menjaga diri," ujar Arini frustasi. Ia berbicara pelan namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh yang ada di sekitarnya.


Karena saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah keramaian, banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Ya, walaupun itu hanya lirikan sekilas. Tapi bagi Arini itu sangat menggangu. "Kita dilihatin banyak orang. Malu." Arini mendorong Leon untuk segera pergi.


Namun ini Leon, loh. Laki-laki ngeyel yang tidak bisa ditentang kemauannya. "Nonton saja, yuk!" Leon langsung menarik tangan Arini menuju bioskop yang ada di lantai 5.


"Eh, kamu gila, ya! Ini jam kerja, Leon! Kamu harus kerja." Arini terus saja mengomel di sisi Leon. Meskipun langkah Leon pelan, tapi cukup membuat Arini kewalahan. "Pelan-pelan. Nanti aku jatuh."


Menyadari kesalahannya, Leon pun langsung memelankan langkahnya. Lebih pelan dari yang tadi. Hampir mirip siput.


Saat hendak menaiki eskalator, tanpa sengaja seorang gadis cilik yang tengah berlari-lari sendirian menabrak Arini. Dan tepat mengenai perut Arini.


Sontak saja hal tersebut membuat Leon murka. Namun ia tetap bersikap ramah, karena ini anak kecil. "Adik kecil. Jangan lari-lari, ya! Kamu baru saja menabrak perut Tante. Kalau tantenya kenapa-napa kamu mau tanggung jawab?"


Gadis cilik berusia empat tahun tersebut hanya diam sambil menatap Leon dan Arini dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


"Sudah lah, Leon! Kasihan dia. Dia masih balita, belum tahu apa-apa. Pasti dia tidak sengaja." Arini lalu berjongkok untuk mensejajarkan pandangannya dengan si gadis cilik tersebut. "Kamu sama siapa adik cantik?" tanya Arini lembut.


Karena Arini bertanya dengan lembut, gadis cilik tersebut menjawab dengan lebih tenang. Ekspresi wajahnya tidak setegang tadi. "Sama Mama."


"Mama kamu di mana?"


"Itu." Gadis cilik tersebut menunjuk seorang perempuan berpenampilan glamor sedang bertransaksi di toko tas.


"Kamu kesana, gih! Nanti Mama kamu nyari."


Tanpa perintah dua kali gadis cilik tersebut langsung berlari kecil memasuki toko tas dimana ibunya berada.


"Gila Mamanya itu. Masa anak hilang tidak sadar. Kalau ada yang nyulik bagaimana?" Leon mengomel sendiri sambil menaiki eskalator.


Dalam hati Arini juga membenarkan kata-kata Leon. Ibunya memang gila. Asik belanja sih boleh saja. Tapi jangan sampai tidak sadar kalau anaknya hilang.


Setelah melihat kejadian barusan, Arini berjanji dalam hati. Kelak jika anaknya telah lahir, ia tidak akan memperlakukan anaknya seperti ibu tadi memperlakukan anaknya.


***


"Kita tonton saja dua-duanya. Kita makan siang dan shalat dhuhur di sini saja," ujar Leon dengan santainya.


"Aku tidak setuju," protes Arini dengan cepat.


"Kenapa?" Leon dengan tampang tanpa bersalahnya bertanya.


"Capek. Memangnya kamu tidak capek duduk selama ini."


"Tidak. Selama itu dengan kamu, aku baik-baik saja," jawab Leon sambil mengeringkan matanya ke arah Arini.


Kalau sudah begini, Arini hanya bisa pasrah saja. "Baiklah, suamiku. Aku setuju."

__ADS_1


Leon tersenyum senang. Saat ini mereka berdua sedang menunggu jadwal film horor akan di putar.


"Mau makan dulu?" tanya Leon. Ia tidak mau istrinya kelaparan saat sedang menonton bersamanya. Apalagi sekarang di dalam perut Arini sedang ada junior mereka.


"Aku masih kenyang," jawab Arini. Ia memang masih kenyang, karena saat pertama kali menginjakkan kaki di mall tadi yang ia datangi adalah restoran. Barulah setelah itu mencari skincare.


Dan begitulah aktivitas keduanya hari ini. menghabiskan waktu berjam-jam di dalam mall. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Arini sendiri sudah sangat bosan dan ingin segera sampai rumah.


Leon pun memutuskan untuk kembali ke kantor. Sementara itu Arini yang kebetulan membawa mobil bisa pulang sendiri tanpa harus di antar Leon. Bisa gawat kalau sampai Becca melihat Arini pulang bersama Leon disaat jam kerja belum berakhir seperti sekarang ini.


"Ya sudah, aku mau ke kantor lagi. Kamu hati-hati bawa mobilnya. Kalau sudah sampai rumah chat aku." Leon berpesan sebelum mereka memasuki mobil masing-masing.


"Iya, suamiku. Sudah, sana!" Arini mendorong Leon untuk menuju mobilnya, sementara ia sendirian pun langsung masuk ke dalam mobilnya.


***


Becca di rumahnya sedang berpikir keras, kemana Arini pergi. Mengapa lama sekali. Tadi Arini berpamitan hendak ke mall membeli skincare, tapi sampai sore belum juga pulang.


"Atau jangan-jangan Mbak Arini marah lalu kabur, karena aku sering berskikap jutek padanya." Becca bermonolog sambil menimbang-nimbang ponsel di tangannya.


Ia tidak mau Arini pergi dari rumah ini karena kesalahannya. Yang ia mau Arini keluar dari rumahnya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada konflik antar keduanya.


Suara deru mobil membuat Becca menajamkan pendengarannya.


"Halo Jasmine cantik." itu suara Arini yang menyapa Jasmine. Retno dan Jasmine sedang duduk-duduk di teras rumah.


Syukurlah sudah pulang. Aku kira bakal kabur. Pikir Becca.


Mendapati Arini sudah pulang, Becca pun langsung bergegas menuju kamarnya. Dia berjalan pelan sambil merambat pada dinding.


Setelah berjuang cukup sulit karena harus menaiki tangga, akhirnya Becca sampai juga di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2