Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
HBD Arini (2)


__ADS_3

Arini melihat ke arah Leon yang tengah tertidur pulas. Suaminya itu tidur dengan damainya. Arini mendekati Leon dan membangunkan suaminya untuk ibadah subuh. Syukurlah Arini tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk membangunkan Leon. Karena lima kali panggilan dan goyangan punggung mampu membangunkan Leon.


Selesai ibadah subuh, Leon langsung mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Sementara Leon mandi, Arini menyiapkan sarapan yang sebelumnya telah ia masak sejak pukul empat tadi.


Ya, tadi ia tidak sengaja terbangun untuk buang air kecil. Alhasil tidak dapat tidur kembali dan ia memutuskan untuk memasak saja.


Bubur ayam hangat menguarkan aroma harum di ruangan dapur. Aromanya sangat menggiurkan.


Melihat sarapan sudah selesai, dan Leon belum datang, Arini menuju kamarnya untuk menemui Leon. Suaminya itu sedang mengancingkan lengan kemejanya. Arini yang sudah bertekad untuk mempertahankan hubungannya dengan Leon, membantu suaminya itu memasang kancing lengan kemejanya.


"Terimakasih," bisik Leon. Ia mencuri cium pipi Arini yang sedang menjemur handuk basah.


"Pencuri!" ucap Arini sambil menuju arah dapur.


Leon hanya geleng-geleng kepala sambil terus tersenyum. Ia mengikuti Arini sambil membawa tas kerjanya. Selain sebagai karyawan, Leon juga memiliki saham di dua perusahaan ternama. Tidak banyak, masing-masing hanya sepuluh persen. Tapi itu cukup lumayan.


Selain itu, ia juga memiliki usaha peternakan sapi yang dikelola oleh sahabatnya di kampung. Leon memang jarang mengunjungi peternakannya itu dan hanya menerima laporan via surat elektronik saja. Dan Leon hanya akan datang berkunjung disaat ada masalah serius.


Jadi intinya Leon tidak hanya mendapatkan penghasilan dari karyawan saja. Leon sengaja bekerja sebagai karyawan untuk belajar bagaimana caranya membangun sebuah perusahaan. Sejak lama ia bercita-cita sebagai pengusaha, dan jika nanti saatnya telah tiba. Ia akan berhenti dari pekerjaannya sekarang dan mengembangkan peternakan sapinya. Ia ingin membangun rumah potong hewan dan semoga saja daging sapinya bisa disalurkan ke seluruh Indonesia, sehingga tidak perlu lagi daging impor. Mimpi tinggi boleh saja, kan? Tidak ada yang melarang, kan?


"Ayo sarapan!" ajak Arini sambil melirik kursi kosong di depannya.


"Wahh... Bubur ayam. Aku suka bubur ayam," ucap Leon sambil menaruh tasnya di kursi kosong lalu kemudian duduk di depan Arini.


Mereka menikmati makan dalam diam. Setelah selesai makan, Leon langsung berangkat ke kantor.


"Hati-hati," ucap Arini mengiri kepergian Leon hingga depan pintu.


Bukannya menjawab, Leon malah memeluk Arini cukup lama. Seperti orang yang akan berpisah saja. "Aku berangkat kerja dulu. Nanti malam tidur disini lagi," ucap Leon sambil melepaskan pelukannya. Ia mencium kening Arini lama. Setelah itu barulah ia berangkat kerja.


Arini menunggu punggung Leon hilang di dalam lift, barulah setelah itu ia masuk kembali ke apartemennya.

__ADS_1


Sepeninggal Leon, Arini memutuskan untuk mandi. Selesai mandi, ada sebuah nomor tak dikenal meneleponnya.


"Hallo," sapa Arini.


"Dengan Ibu Arini?" tanya laki-laki di seberang sana dan diiyakan oleh Arini.


Setelah memberitahukan maksudnya, ternyata itu adalah nomor dari Abang ojek online yang membawa sebuah paket.


Arini yang merasa bingung karena tidak merasa memesan sesuatu mengerutkan keningnya sejenak. Namun ia tetap menemui pengemudi ojek tersebut dan menerima paket yang katanya untuk dirinya.


Di paket tersebut menang tertulis namanya dengan benar. Ada  sebuah bucket bunga dan sebuah kotak yang berukuran cukup besar.


Penasaran dengan siapa pengirimannya, Arini langsung membuka surat yang ada di bucket bunga tersebut.


Dear Ririn,


Ini aku Calina. Selamat ulang tahun. Semoga umurmu berkah dan selalu dilimpahi banyak cinta.


Aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. Kalau kamu bisa, tolong datang ke Restoran Alam Asri pada ruang VIP 1 jam 11 nanti.


***


Setelah menerima paket pemberian Calina yang ternyata berisi sebuah tas branded berwarna krem, Arini memutuskan untuk menemui Calina. Sepertinya ada hal sangat penting yang akan dibahas.


Tadi ia menelepon Leon dan menanyakan semuanya, bagaimana Calina bisa tahu ulang tahun dan alamat serta nomor ponselnya. Leon memberitahu kalau ia minta izin kepada Calina akan merayakan ulang tahun Arini. Dari situlah Calina tahu kalau Arini ulang tahun. Dan setelah itu Calina meminta alamat dan nomor telepon Arini.


Leon yang sudah memastikan Calina tidak akan macam-macam langsung memberikannya begitu saja.


Leon juga memberitahu kalau antara dirinya dan Calina sudah saling tahu satu sama lain. Dalam artian mereka berdua sudah sama-sama tahu kalau mereka berstatus sebagai istri sah Leon.


"Maaf, terlambat," sesal Arini saat ia sudah melihat Calina duduk manis di ruang pesanannya.

__ADS_1


"Tidak. Aku yang terlalu cepat datang," kata Calina sambil tersenyum manis. "Mau pesan apa?" tanyanya.


"Sama sepertimu saja," ucap Arini.


Calina langsung memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah pesanan datang, Calina mengajak Arini menikmati dulu. Barulah terakhir ia akan bercerita sesungguhnya kepada Arini.


"Terima kasih kado ulang tahunnya," ucap Arini saat mereka sudah selesai makan.


"Kau suka?" tanya Calina dan diangguki oleh Arini. "Syukurlah kalau kau suka." Calina menarik kedua sudut bibirnya karena merasa lega hadiahnya diterima Arini dengan baik.


Tadi malam, Calina merecoki Via untuk membeli sebuah tas elegant dan memesan bucket bunga untuk pagi harinya. Syukurlah Via bekerja dengan sangat baik sehingga apa yang ia inginkan terwujud.


"Sepertinya ada yang sangat ingin kau bicarakan?" Arini memulai topik yang sudah membuatnya penasaran. Apa gerangan yang membuat Calina ingin bertemu dengannya.


Apa Calina ingin memintanya untuk berpisah dengan Leon? Atau apa? Arini sangat penasaran sekali.


Calina tidak langsung menjawab, ia menaruh tangannya ke atas meja dan menautkan jari-jarinya disana. "Leon itu mantan pacarku ketika SMA," kata Calina sambil menerawang, seperti mengingat masa lalu.


Arini tidak langsung menjawab, ia berusaha tenang menunggu Calina melanjutkan ucapannya.


"Dulu aku pernah mencintainya dengan sangat. Tapi itu dulu," ucap Calina sambil menunduk. "Dan sekarang tidak lagi," lirihnya.


Arini mengerutkan dahinya heran. Kalau tidak cinta lalu mengapa bisa menikah?


"Aku sudah tidak lagi mencintai Leon. Aku memaksanya menikahiku karena sebuah alasan." Calina mendongak menatap Arini. "Tapi aku tidak bisa menceritakan ini kepadamu. Takut kau akan terbawa-bawa nantinya. Ini tidak ada yang tahu, termasuk orang tuaku."


"Leon tahu alasanmu?" tanya Arini hati-hati.


Calina menggeleng pelan. "Belum," lirihnya.


"Lalu apa tujuanmu menceritakan ini padaku?" Arini masih bertanya dengan ekspresi setengah mungkin. Ia bukan tipe orang yang suka marah-marah apalagi kepada orang baru.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin kau terganggu dengan kehadiranku. Anggap saja aku tidak pernah ada, Rin. Selama ini aku tidak pernah melarang-larang Leon dalam hal apapun. Termasuk aku tidak pernah melarang Leon bersama istrinya yang lain," ucap Calina pelan.


Arini tidak menjawab apa-apa. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa.


__ADS_2