Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Innalilahi wa inna ilaihi roji'un


__ADS_3

Leon, Arini dan Calina tengah panik. Mereka mondar-mandir di bangsal rumah sakit sambil harap-harap cemas.


Kondisi Becca dan Rania sangat memperihatinkan. Keduanya kecelakaan saat naik motor. Motor yang dikendarai Becca dan membonceng ibunya ditabrak oleh sebuah mobil minibus. Hingga saat ini pelaku tabrak lari tersebut belum tertangkap.


Beruntungnya, saat kejadian Jasmine sedang di rumah bersama Leon. Sehingga bayi merah tersebut tidak ikut dalam kecelakaan.


Suara tangis Jasmine membuat mereka bertiga semakin panik. Arini yang menggendong Jasmine mencoba menenangkan bayi tersebut. Namun Jasmine tak kunjung diam.


"Sepertinya haus. Biar kukasih ASI-ku saja. Kasihan Jasmine. Pasti dia lapar dan haus," ucap Calina dan disetujui Leon dan Arini.


Leon langsung mengambil alih Arjuna dari gendongan Calina. Sementara Calina langsung menggendong Jasmine dan menuju mobil untuk menyusui Jasmine. Ia tidak tahu di rumah sakit tersebut ada ruang khusus ibu menyusui atau tidak. Sehingga ia memutuskan untuk menyusui di dalam mobil saja.


Tinggallah Leon, Arini dan Arjuna yang duduk di depan ruang ICU. Kondisi kritis Becca dan Rania membuat keduanya harus mendapatkan perawatan ekstra dan masuk ruang ICU.


Seorang dokter laki-laki paruh baya keluar dari ruangan tersebut dan memberi tahu kalau Rania sudah tidak ada. Sontak saja Arini dan Leon langsung menangis.


"Tante Rania..." lirih Arini sambil mengusap air matanya menggunakan punggung tangan.


Arini sangat kehilangan Rania. Meskipun Rania bukan ibu kandungnya, tapi Rania sangat baik kepadanya. Setiap Arini berkunjung ke rumah Becca untuk menjenguk Jasmine atau ada keperluan lainnya, pasti Rania selalu menyambutnya dengan ramah dan baik.


"Ada apa?" tanya Calina yang baru saja sampai. "Mengapa kalian menangis? Apa yang terjadi?" tanya Calina bertubi-tubi. Ia dapat mencium aroma yang tidak baik. Mungkin sesuatu terjadi pada Becca atau ibunya.


"Tante Rania sudah tidak ada," ucap Arini pelan.


"Innalilahi wa Inna ilaihi roji'un," ucap Calina. "Becca bagaimana?" tanyanya.


"Belum sadar," jawab Leon sambil terisak kecil.


"Pelaku tabrak lari tersebut harus segera tertangkap dan di hukum seadil-adilnya," kata Calina dengan geram.


Kejadiannya tadi pagi. Saat Becca dan ibunya hendak ke cafe. Mereka menggunakan motor karena mobil Becca sedang di bengkel dan mobil Rania sudah di jual karena ia tidak sanggup jika harus sering-sering keluar masuk bengkel.

__ADS_1


Maklumlah, mobil Rania sudah cukup tua. Sudah sering batuk-batuk dan rewel. Sehingga Rania memutuskan untuk menjual mobil tersebut dan membeli sebuah motor matic.


Sekarang pukul tiga sore. Sejak kejadian tadi hingga sekarang, Becca belum juga sadar.


"Jenazah Tante Rania mau di kebumikan kapan? Nunggu Becca sadar atau bagaimana?" tanya Calina.


"Aku sedang menghubungi saudara Mama Rania dan meminta pendapat mereka," lirih Leon sambil menunduk memainkan ponsel.


Untung saja Leon yang cuek ini ada menyimpan kontak Bram-- adik semata wayang Rania. Dan ia langsung menghubungi Bram untuk mengabari kondisi Rania dan juga Becca.


***


Pemakaman Rania selesai pukul delapan malam. Hingga saat ini Becca belum juga sadar.


Leon dan Jasmine yang menjaga Becca di rumah sakit. Sementara Arini harus kerja dan Calina harus pulang karena kedua orang tuanya datang dari luar kota.


"Becca sadar," teriak Leon kegirangan. Dengan sigap ia langsung memanggil perawat.


Setelah perawat dan dokter selesai mengecek kondisi Becca, Leon langsung duduk di lantai tepat di sebelah tempat tidur Becca.


"Bagaimana kondisi Mama?" tanya Becca setelah mencium kilat pipi Jasmine.


Leon bingung harus menjawab apa, ia termenung cukup lama. "Mama baik. Kamu harus cepat sembuh jika ingin bertemu Mama," jawab Leon. Leon tidak tega mengatakan yang sesungguhnya saat ini.


"Mengapa kakiku tidak bisa digerakkan? Aku lumpuh?" Becca histeris. Ia tidak sanggup jika harus hidup dengan kondisi seperti ini.


"Tenanglah, honey. Ada aku dan juga Jasmine," ucap Leon sambil mengelus lengan Becca.


Becca masih saja histeris. Hingga mau tidak mau dokter mengambil tindakan menyuntikkan obat penenang.


Melihat Becca seperti ini, hati Leon tersayat-sayat. Ia tak tega melihat Becca terpuruk begini.

__ADS_1


***


Lima hari kemudian Becca sudah boleh pulang ke rumah. Kondisi kedua kakinya yang lumpuh membuat ia harus duduk di kursi roda.


Melihat fakta bahwa ibunya telah meninggal dunia dan di kebumikan tanpa dirinya, membuat Becca semakin sedih.


Ia tak banyak bicara. Hanya melamun saja. Dan untuk yang mengurus Jasmine, Leon sudah menyewa jasa baby sitter.


"Bec, ayo makan dulu. Ini bubur kesukaan kamu, kan? Aku yang buat, loh," ucap Arini. Ia sengaja berkunjung ke rumah Becca untuk menjenguk Jasmine dan juga Becca. Karena saat ini Leon sedang ke kampung untuk kunjungan kerja. Leon sedang mengecek peternakan sapi miliknya.


Becca hanya diam saja dan tak menanggapi Arini. Pandangan matanya kosong. Ia menatap dinding sambil melamun.


"Becca..." panggil Arini dengan lembut.


"Aku tidak lapar, Mbak," jawab Becca. Semenjak kejadian naas tersebut, selera makannya menjadi hilang.


Arini menghembuskan nafasnya dengan berat. "Sedikit saja, ya, Bec. Beberapa suap saja," bujuk Arini. Ia tahu sejak tadi pagi Becca belum makan. Dan sekarang sudah pukul satu siang. Sudah sangat terlambat untuk sarapan dan sedikit terlambat untuk makan siang.


Akhirnya Becca menurut. Ia mau makan walaupun hanya tiga suap saja.


"Susunya di minum, ya?" kata Arini dan diangguki oleh Becca.


Suara tangis Jasmine membuat perhatian Arini teralihkan. Setelah Becca menghabiskan segelas susu, Arini langsung bergegas menghampiri Jasmine dan Bude Retno-- sang baby sitter yang telah dipilih Leon.


"Jasmine kenapa, Bude?" tanya Arini sambil mengambil alih Jasmine karena Retno sedang membuat susu formula.


"Buang air kecil, Bu," jawab Retno sambil tangannya cekatan membuat susu formula. Karena sekarang memang jadwalnya Jasmine minum susu.


Semenjak Becca mengalami kecelakaan, ASI-nya tidak dapat keluar. Mungkin faktor setres yang mempengaruhi hal tersebut. Sehingga dengan terpaksa Jasmine harus minum susu formula atau kadang-kadang minum ASI Calina jika Calina sedang datang berkunjung.


Disibukkan mengurus Jasmine membuat Arini bahagia. Meskipun Jasmine bukan anaknya, akan tetapi euforia memiliki anak dapat Arini rasakan.

__ADS_1


"Biar saya saja yang kasih, Bude," ucap Arini sambil mengambil alih botol susu dari tangan Retno. "Jasmine anak pintar, minum susu dulu, ya..." Dengan telaten dan penuh kasih sayang, Arini memberikan minum kepada Jasmani.


Retno yang melihat hal itu menjadi terharu.  Ia tidak tahu, bagaimana bisa seorang istri tua bisa dengan ikhlas mengurus madu dan anak dari madunya. Kalau Retno sih, mungkin tidak akan sanggup.


__ADS_2