Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Traktiran


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu. Selama itu pula Arini dan Becca belum tahu kalau Leon telah menikah lagi dengan artis Caca Calina.


Leon terlalu pandai menyembunyikan hal tersebut. Ralat. Calina terlalu santai dan tidak pernah menuntut Leon untuk selalu tinggal bersamanya. Calina juga tidak pernah meminta hal aneh-aneh terhadap Leon. Oleh karena itu, kedua istri Leon tidak menaruh curiga karena Leon tidak pernah terlihat berbeda.


Beberapa hari yang lalu, Leon mengantarkan Becca untuk periksa kandungan. Kata dokter, kandungan Becca baik-baik saja. Janinnya juga sehat dan tidak kurang suatu apapun.


"Mas... Jalan-jalan, yuk!" rengek Becca sambil bergelayut manja di pundak Leon. "Mumpung masih pagi, udara masih segar," lanjutnya.


"Oke setuju. Ayo kita siap-siap," sahut Leon.


Keduanya lalu bersiap-siap dan tak lama mereka telah berada di dalam mobil.


"Mas... Makan siang di Restoran Jepang, yuk! Aku lagi pingin makan makanan Jepang," rengek Becca saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Oke, Honey. Let's go! Kita meluncur ke sana," kata Leon penuh semangat. Ia lalu melajukan mobilnya ke Restoran Jepang yang sangat terkenal.


Sekarang adalah hari Minggu. Oleh karena itu, Leon dan Becca bisa bersantai berdua karena mereka sedang libur kerja.


Arini sedang bekerja, Calina sedang ada perfom di luar kota. Jadilah Leon memiliki banyak waktu dengan Becca dan tanpa takut mencemaskan kedua istrinya yang lain.


"Mas..." panggil Becca sambil tersenyum manis ke arah Leon.


"Apa, Honey?" tanya Leon sambil melirik sekilas ke arah Becca, lalu kemudian melihat ke depan lagi.


"Aku bahagia. Terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidupku. I love you," ucap Becca dengan manja.


"I love you too," balas Leon sambil memberikan ciuman jarak jauh. Karena posisi duduk Becca cukup juah darinya, oleh karena itu ia tak dapat mencium Becca secara sungguhan.


Becca tertawa renyah. Kedua matanya sampai menyipit efek dari ia ketawa terlalu senang. Ya, entah mengapa akhir-akhir ini Becca sangat bahagia bila berada di dekat Leon. Bawaannya ingin bermanjaan setiap saat.


"Mbak Arini lagi terbang ya, Mas?" tanya Becca. Tiba-tiba saja ia teringat akan Arini. Rasanya ia merasa bersalah karena akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu berdua saja dengan Leon.


"Iya. Aku senang kalau kamu dan Arini akrab seperti sekarang ini. Awalnya aku kira kalian akan saling musuhan. Ternyata tidak," kata Leon sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kamu lucu, Mas. Kayak baru kenal aku dan Mbak Arini saja. Kami berdua adalah tipe perempuan baik hati dan tidak suka berkelahi," kata Becca.


Leon hanya tersenyum saja dan mengusap pipi kanan Becca.


***


Tanpa sengaja Calina berpapasan dengan Arini di bandara. Calina sudah tahu kalau Arini sang penolongnya beberapa waktu lalu adalah istri tua Leon. Karena Leon sudah pernah bercerita kepada Calina siapa saja istrinya, dan Calina juga telah melihat foto istri-istri Leon.


"Ririn...," panggil Calina. Ia sengaja memanggil Ririn, karena waktu itu Arini memperkenalkan dirinya bernama Ririn. Bukan Arini.


"Hai, Calina," balas Arini sambil tersenyum ramah.


"Kau pilot, ternyata!" Calina berdecak kagum. Ia memang belum tahu kalau istri pertama Leon adalah seorang pilot, karena Leon belum pernah menceritakan hal itu.


"Iya. Kau dari mana mau kemana?" tanya Arini.


"Dari kerja diluar kota. Mau pulang ke rumah," jawab Calina. "Oh iya, perkenalkan. Ini teman, sahabat, kakak sekaligus manajerku. Namanya Via," kata Calina. Ia memperkenalkan Via yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.


Arini sangat ramah dan friendly, tapi bagaimana jika ia tahu kalau aku adalah istri ketiga Leon? Apakah ia akan tetap seramah ini? Batin Calina.


"Kau sibuk tidak?" tanya Calina.


"Tidak. Ada apa?"


"Bagaimana kalau kita makan siang di Restoran Korea tak jauh dari sini. Aku ingin mentraktirmu sebagai rasa terima kasih kau telah menolongku waktu aku kecelakaan," kata Calina. "Oh iya, Vi. Ririn ini adalah penolongku waktu aku kecelakaan beberapa waktu lalu," kata Calina kepada Via.


"Waahh... Aku bertemu dengan penolong sahabatku. Bagaimana kalau kita makan siang bersama, Rin? Kau setuju?" tanya Via antusias. "Oh Tuhan. Aku melupakan satu hal. Aku belum menanyakan apakah kau suka makanan Korea atau tidak." Via meringis merasa tak enak hati.


"Aku suka makanan Korea," sahut Arini.


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang," kata Calina. "Apakah kau membawa kendaraan, Rin? Jika tidak, pergilah bersama kami. Supirku sudah menunggu di depan," lanjutnya.


"Aku membawa mobil. Kita ketemuan di lokasi saja," kata Arini dan diangguki oleh Calina dan Via.

__ADS_1


Mereka lalu menuju mobil masing-masing untuk menuju lokasi yang dituju.


Di dalam mobil, Calina memberitahu Via kalau perempuan yang mereka ajak makan tersebut adalah istri tua suaminya. Informasi tersebut sontak membuat Via shock.


"Kau serius, Ca? Ini tidak bercanda? Katakan ini serius, Ca! Katakan!" kata Via heboh. Ia mengguncang-guncang pundak Arini kuat-kuat.


Arini mendengus kesal. Ia menepis tangan Via yang ada di pundaknya. "Iya, aku serius. Tolong tanganmu ini dikondisikan!" ucap Calina kesal karena Via mengguncangnya kuat.


Vino yang berada di depan, hanya bisa mengerutkan dahi mendengar obrolan keduanya. Ia tidak tahu apa yang mereka bahas karena tadi Calina menulisnya di ponsel. Tidak dibicarakan secara langsung.


"Sepertinya dia perempuan baik," gumam Calina. "Aku tidak tega melihatnya menangis jika tahu kalau aku adalah perempuan yang sudah merebut kebahagiaannya," sesalnya.


Entah mengapa semenjak melihat Arini, Calina merasa nyaman. Dalam artian ia ingin berteman dengan Arini. Tapi apakah Arini mau menerimanya sebagai teman?


"Udah sampai, Ca. Ayo turun!" ajak Via.


Kata-kata Via mengagetkan Calina yang sedang melamun. Ia langsung turun dan masuk ke dalam restoran. Di sana sudah ada Arini yang duduk dengan manis.


"Maaf kami terlambat," ucap Calina tidak enak hati.


"Kalian tidak terlambat, aku baru juga sampai," kata Arini dengan ramah.


Mereka bertiga lalu memesan menu tokkpoki pedas. Lalu menyantapnya dan sesekali diselingi obrolan ringan.


Vino sendiri memilih menunggu di dalam mobil karena ia sedang mengerjakan tugas kuliahnya yang menumpuk. Kalau biasanya, sih, ia selalu ikut turun dan makan. Karena Calina bukan tipe bos yang culas dan tidak memperhatikan karyawannya.


"Sudah lama menjadi pilot, Rin?" tanya Via.


"Sudah. Kurang lebih delapan tahun," jawab Arini. Mendengar jawaban Arini, Via manggut-manggut takjub.


"Terima kasih kau sudah mau menerima ajakanku untuk makan bersama. Aku senang sekali," kata Calina sambil tersenyum manis.


"Aku yang berterima kasih. Karena sudah kau ajak," balas Arini dengan senyum tak kalah manisnya.

__ADS_1


__ADS_2