Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Menanam Modal


__ADS_3

"Leon, kalau Papa mau menanam modal di perusahaan kamu, boleh atau tidak?" tanya Hamdani pada Leon. Ia menatap menantunya itu lekat-lekat.


Saat ini Hamdani sedang berkunjung ke rumah Leon. Kebetulan sekali ia sedang tidak memiliki agenda mendaki, jadi ia memutuskan untuk menemui cucu-cucunya. Namun sayang, sang cucu sedang tidur siang.


"Boleh, Pa. Boleh sekali," sahut LeonĀ  berbinar-binar. Ia pasti tidak akan menolak jika mertuanya ini akan menanamkan modal. Kalau modalnya semakin banyak, artinya perusahaan bisa berkembang lagi.


"Ada apa, sih? Sepertinya ada yang seru," ujar Arini yang baru datang sambil membawa dua buah jus jeruk. "Diminum, Pa!" Arini menaruh gelas yang ia bawa di atas meja.


Tanpa menunggu disuruh dua kali, Hamdani menyeruput jus buatan anaknya itu. "Jadi begini, Rin. Papa berniat menanam modal di perusahaan Leon," ujar Hamdani sambil menatap anak perempuannya itu.


Arini menganggukkan kepalanya. Ia tidak bicara dulu karena ingin mendengar kelanjutan ucapan ayahnya. Sepertinya Hamdani masih ingin melanjutkan kata-katanya.


"Sebenarnya Papa sudah pingin sejak kemarin-kemarin. Tapi kamu sendiri kan tahu, Papa baru saja pensiun. Jadi Papa harus hemat uang. Uang pesangon harus dipakai untuk kebutuhan pokok. Sedangkan uang tabungan yang dulu-dulu, semuanya sudah masuk ke dalam reksadana, deposito dan tabungan pensiun. Nah, kemarin ini, deposito Papa sudah bisa di tarik. Jadi Papa sudah punya uang buat nanam modal di perusahaan Leon," ujar Hamdani sambil memindai pandang dari Arini ke Leon.


Arini dan Leon mengangguk paham. Mereka bisa mengerti apa yang dirasakan Hamdani. Orang yang sudah pensiun memang tidak boleh gegabah menggunakan uangnya. Apalagi uang pesangon. Itu adalah uang yang harus digunakan dengan bijak supaya kedepannya tetap bisa bertahan hidup.


"Kami senang kalau bisa mendapatkan tambahan modal dari Papa. Kita bisa mengembangkan lagi perusahaan kita nantinya," ujar Leon penuh semangat.


Sekarang adalah hari Minggu. Jam menunjukkan pukul dua siang. Saat Hamdani datang, Jasmine dan Yusuf sedang tidur siang. Jadi mereka belum bisa bertemu sekarang.


"Besok Senin papa ke kantor kamu, ya?!" ujar Hamdani dan di-angguki antusias oleh anak dan menantunya itu.


"Papa tidak mau menginap di sini saja?" tanya Arini. "Besok pagi kita bisa ke kantor bersama," lanjutnya.


"Papa harus pulang, Rin. Kasihan Aldi di rumah sendiri. Walaupun dia sudah dewasa, tapi tetap saja Papa tidak tega meninggalkan dia sendirian di rumah," ujar Hamdani sambil mengambil gelas jus lalu meminumnya kembali.

__ADS_1


Arini mengangguk paham. Sejak dulu, ayahnya memang selalu memperlakukan Aldi sebagai anak kecil saja. Meskipun Aldi selalu menolak dan ingin diperlakukan biasa saja, tapi ayahnya tidak pernah mau mendengarkan protes anaknya itu.


Tapi hal itu juga yang membuat Aldi tidak pernah menginap di luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Aldi hanya mau menginap di luar jika itu adalah urusan pekerjaan. Ia tidak tega meninggalkan ayahnya sendirian di rumah.


Sebenarnya bukan hanya pada Aldi saja Hamdani seperti itu. Dulu, sebelum Arini menikah, Hamdani juga selalu memperlakukan Arini seperti gadis kecil. Tapi setelah Arini menikah, Hamdani mulai bisa menerima kalau anak perempuannya itu sudah dewasa.


"Ini buat anak-anak." Hamdani mengeluarkan dua buah buku dongeng mancanegara dari dalam tasnya. Satu dongeng dari Jepang, dan satu lagi dari Eropa.


Arini menerima pemberian ayahnya dengan raut yang berbinar-binar. Yusuf dan Jasmine memang sangat suka sekali membaca. Hadiah sederhana seperti ini saja sudah bisa membuat kedua anaknya itu bahagia. Arini setuju sekali dengan pepatah: bahagia itu sederhana.


"Papa harus pulang sekarang," ujar Hamdani. Ia lalu kembali menghabiskan jus yang tersisa.


"Loh, kok buru-buru, Pa?" ujar Leon. "Tidak menunggu anak-anak bangun?" lanjutnya.


"Hari ini ada rapat pemenang saham di Hotel Abadi," beritahu Hamdani.


"Iya. Papa ikut sajalah apa kata perusahaan. Lagian waktu Papa juga fleksibel. Papa kan sudah jadi pengangguran. Jadi kapanpun itu, tidak masalah," ujar Hamdani sambil terkekeh. "Besok siang Papa main lagi ke sini. Kasih tau anak-anak, supaya nungguin kakeknya," lanjutnya.


Arini dan Leon lalu bersalaman dengan Hamdani. Hamdani sendiri, setelah berpamitan pada anak dan menantunya, lantas pergi menuju Hotel Abadi.


***


"Aku senang Papa mau menginvestasikan uangnya di perusahaan kita," ujar Leon sambil mengetik sesuatu di laptop.


"Ya, aku juga," sahut Arini yang sedang memakai krim malam.

__ADS_1


Saat ini sudah pukul sepuluh malam, Jasmine dan Yusuf sudah tertidur pulas di atas ranjang. Sedangkan Leon masih sibuk berkerja di samping Yusuf. Ia duduk sambil memangku laptop dan bersandar pada sandaran tempat tidur.


Sedangkan Arini, ia sedang memakai skincare sebelum tidur. Arini suka sekali merawat tubuhnya. Salah satunya ya dengan memakai skincare seperti ini.


Karena anak-anaknya sudah tidur, jadi mereka berbicara dengan suara pelan sekali. Mereka takut mengganggu tidur malam sang buah hati.


"Kamu lagi ngerjain apa?" tanya Arini tanpa menoleh ke arah suaminya itu.


"Aku sedang mengirim e-mail laporan keuangan untuk Papa. Supaya bisa dipelajari oleh Papa. Kan lucu kalau Papa mau menanamkan modal di perusahaan kita, tapi Papa tidak tahu apa-apa tentang keuangan perusahaan," jawab Leon sambil menatap istrinya dari cermin.


"Papa bisa baca laporan keuangan, ya?" tanya Arini sambil menoleh ke arah Leon.


Leon terkekeh. "Kamu meragukan Papa? Papa itu investor handal, loh. Sudah pasti beliau bisa baca laporan keuangan," ujarnya.


Arini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi kan Papa pakai reksadana. Kalau reksadana kan semua urusan ditangani oleh pihak ketiga. Papa tinggal terima beres saja. Yang baca laporan keuangan perusahaan kan pihak ketiga. Bukan Papa," ujar Arini masih mencoba membela diri.


"Iya, Sayang. Memang benar Papa pakai reksadana. Tapi kan sebelumnya Papa pakai saham individu. Papa belajar semuanya dari seminar-seminar. Termasuk cara membaca laporan keuangan," terang Leon.


"Kok kamu lebih tahu soal Papa daripada aku," ujar Arini sambil berjalan mendekati ranjang. Setelah sampai, ia merebahkan dirinya di sambut Jasmine.


"Hehe. Biasa, sesama lelaki memang lebih terbuka," kekeh Leon sambil menyimpan laptopnya di laci nakas. Nakas itu terletak persis di sebelah tempat tidur Leon, jadi ia tak perlu merangkak untuk menjangkaunya.


"Hmm... Okelah. Selamat tidur," ujar Arini sambil mematikan lampu. Dan sekarang penerangan di kamar hanya menggunakan lampu tidur saja.


"Selamat tidur, Sayang. Jangan lupa do'a sebelum tidur," gumam Leon.

__ADS_1


"Iya," sahut Arini.


Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Tak lama setelah itu, keduanya sudah terlelap ke alam mimpi. Dengkur nafas halus menandakan mereka benar-benar sudah tertidur pulas.


__ADS_2