Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Jual Rumah


__ADS_3

"Maaf, Sayang." Leon hanya bisa menyesali perbuatannya dan terus-terusan mengucapkan maaf.


Arini tidak menjawab apa-apa. Dirinya menunduk sambil menghembuskan nafasnya frustasi. Kalau sudah seperti ini, dirinya harus bagaimana? Marahpun tidak akan merubah keadaan.


"Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama dua kali," ucap Arini dengan nada rendah. Tak butuh waktu lama dirinya sudah bisa mengambil keputusan. Ya, dirinya telah memaafkan Leon sepenuhnya.


"Kamu tidak marah lagi?" tanya Leon dengan mata yang berbinar-binar karena bahagia.


Arini mengangguk. "Iya. Asalkan kamu janji satu hal."


"Apa?"


"Perbolehkan aku melunasi semua hutang rumah."


Leon tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak. Kalau uang Arini dipakai untuk melunasi hutang, lalu jika terjadi apa-apa dengan ekonomi keluarga mereka, mereka pasti akan sangat jatuh. Karena sisa hutang tersebut jumlahnya cukup banyak.


Atau ia harus mendengarkan saran ibunya saja? Sebaiknya mereka pindah ke rumah Mutiara dan Malvin. Toh selama kedua orang tua Leon itu bekerja di luar negeri, rumah tersebut selalu kosong.


Asisten rumah tangga dan satpam yang dulunya bekerja selama keadaan rumah kosong, sekarang mereka sudah berhenti kerja dan pulang ke kampung halaman. Dua-duanya berhenti bersamaan karena mereka berdua adalah suami istri.


Leon sendiri hanya datang sesekali untuk mengisi pulsa PLN atau melihat sekilas saja. Tidak pernah tinggal di sana.


Sepertinya Malvin dan Mutiara sudah sangat betah tinggal di luar negeri. Sehingga meskipun ada kesempatan pulang, mereka jarang mau pulang. Atau bahkan mereka malah melakukan traveling keliling dunia. Jadi rumah tersebut seperti terbengkalai.


Kalau pindah ke rumah Becca atau apartemen Arini, tidak mungkin. Karena rumah dan apartemen tersebut saat ini sudah di sewakan. Dan sedang ada penyewa yang menyewa selama satu tahun.


Jadi jalan satu-satunya hanya rumah Malvin dan Mutiara.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Arini sambil menatap Leon lekat-lekat. "Tidak setuju?" tanyanya lagi.


"Bagaimana kalau rumah itu kita jual saja. Lalu kita pindah ke rumah Papa Mama. Sayang rumahnya kosong lama. Daripada di huni setan, lebih baik kita saja yang menempati," usul Leon dengan suara yang ragu-ragu. Pasalnya ia takut ide ini akan membuat Arini emosi. Karena rumah mereka itu belum ada satu tahun ditempati. Masa iya sudah mau di jual?


Arini menghembusnya nafasnya kasar. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya ini. Bisa-bisa melakukan hal gegabah seperti ini.

__ADS_1


"Terserah kamu saja," ucap Arini dengan nada frustasi. Percuma, mau seperti apa Arini memberikan usul, selalu usul Leon yang akan di pakai.


"Artinya kamu setuju? Kalau begitu aku akan segera membuat iklannya di website." Leon tampak semangat sambil mengetik di keyboard komputernya. Dia sedang mencari-cari website jual beli rumah yang paling bagus.


Arini hanya diam saja sambil menghembuskan nafasnya kasar. Jika ia tahu sejak awal kalau setengah dari biaya pembelian rumah hasil dari berhutang, lebih baik mereka tidak usah membeli rumah saja. Toh mereka masih bisa tinggal di rumah Becca atau apartemen Arini.


"Aku mau pulang dulu. Mau jemput Jasmine di sekolah," ujar Arini sambil mencangklongkan sling bag-nya.


Leon mengalihkan perhatiannya dari layar komputer ke wajah Arini. "Hati-hati," kata Leon.


"Iya," jawab Arini sambil berdiri dari tempat duduknya. Dirinya lalu bergegas meninggalkan kantor Leon menuju sekolah Jasmine.


***


Tak butuh waktu lama, rumah baru Leon dan Arini sudah terjual. Yang membelinya adalah salah satu client Leon.


Leon dan Arini juga telah menceritakan semuanya pada Mutiara dan Malvin. Keduanya sangat senang melihat rumah mereka kembali berpenghuni. Pasalnya kabar yang sering beredar, bahwasanya kalau rumah dibiarkan kosong selama bertahun-tahun, pasti akan ada penghuninya.


Mutiara dan Malvin tidak mau rumahnya dihuni makhluk halus.


Dan sekarang, Leon dan sang pembeli sedang melakukan transaksi di notaris.


"Kita pindah rumah lagi, Ma?" Jasmine bertanya saat ibunya melakukan packing pakaian mereka.


"Iya, Sayang. Rumah ini sudah kita jual, sekarang kita akan pindah ke rumah Oma Tiara dan Opa Malvin," ujar Arini sambil memasukkan pakaian Jasmine dan Yusuf ke dalam koper besar.


Jasmine hanya mengangguk saja. Dirinya tidak bermasalah sama sekali jika harus kembali pindah rumah.


"Kamu tidak tidur siang? Tidur, gih! Tuh, lihat! Yusuf saja tidur siang," ucap Arini sambil menunjuk Yusuf yang sedang pulas di atas ranjang.


"Jasmine tidak ngantuk, Ma," jawab Jasmine sambil menggeleng.


Arini mengusap puncak kepala Jasmine sambil berdiri. Dirinya akan mengambil tas besar yang ada di tatanan lemari paling atas.

__ADS_1


Keluarga mereka ini sudah seperti kucing beranak saja. Selalu pindah-pindah rumah.


"Sayang, semuanya sudah selesai," ucap Leon yang tiba-tiba saja sudah muncul di dalam kamar.


Arini tidak menyadari kehadiran Leon karena pintu kamar tersebut memang tidak ditutup. Jadi tidak ada suara ketika Leon datang.


Arini melihat Leon sekilas, kemudian dirinya kembali fokus mengeluarkan semua isi lemari untuk dipindahkan ke dalam tas.


"Pak Adi memberikan kita waktu satu minggu untuk pindahan," ujar Leon sambil duduk di sebelah Jasmine. Dirinya memasukkan pakaian yang Arini keluarkan dari lemari ke dalam tas jinjing besar.


"Iya," sahut Arini masih terus mengeluarkan isi lemari.


Rencananya malam ini mereka sudah tinggal di rumah orang tua Leon. Dan untuk sisa-sisa barang yang masih tertinggal, akan mereka bereskan besok harinya.


Rumah orang tua Leon tersebut sudah di bersihkan oleh jasa cleaning servis online.


"Papa, mengapa kita harus pindah rumah?" tanya Jasmine sambil menatap ayahnya itu.


"Karena rumah ini sudah di jual, Nak."


"Mengapa di jual?"


"Karena Papa tidak suka tinggal di sini," ucap Leon asal.


"Terus, nanti Jasmine masih tetap sekolah di sekolah lama?" tanya Jasmine lagi.


Leon berpikir sejenak. Rumah orang tuanya dan sekolah Jasmine sangat jauh. Bagaimana ini? Apakah harus pindah sekolah?


Leon menatap Arini untuk meminta pendapat. Namun yang ditatap seolah-olah tidak sadar itu.


"Jasmine maunya bagaimana? Mau pindah atau masih betah di sekolah sekarang?" tanya Leon sambil memasang resleting tas, karena tas tersebut sudah penuh terisi pakaian dirinya dan Arini.


Jasmine bimbang. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi dia ingin pergi jauh dari sisi Sinta, tapi di sisi lainnya dia bingung, karena tidak lama lagi dirinya akan lulus dari sana.

__ADS_1


"Jasmine pikir-pikir aja dulu. Kalau sudah dapat jawabannya, kasih tahu Mama dan Papa," ucap Arini sambil menutup pintu lemari yang sudah kosong.


Jasmine mengangguk pelan.


__ADS_2