
Arini dan Leon tengah berkumpul dengan keluarga besar. Mereka mengadakan acara barbeque di rumah Hamdani. Ani dan Retno juga turut hadir di sini.
Di halaman belakang tampak Hamdani, Malvin dan Mutiara sedang ngobrol sambil tertawa. Mutiara sendiri sedang menggendong Yusuf, karena bayi laki-laki tersebut belum ingin tidur meskipun sudah malam. Cahaya bintang di atas langit membuat keadaan semakin semarak.
Sementara itu Arini dan Leon duduk di pinggir kolam renang sambil melihat sekeliling. Sayang sekali Aldi sedang bertugas, sehingga tidak bisa mengikuti acara kecil-kecilan ini.
"Sampai kapan ya keadaan akan seperti ini terus? Kasihan Jasmine," ucap Arini sambil menatap Jasmine yang berada dalam gendongan Retno.
Retno, Ani dan asisten rumah tangga Hamdani sedang duduk-duduk di dapur sambil menikmati ayam bakar madu. Ketiganya asik ngobrol tentang pekerjaan lama mereka. Yang mana Ani adalah mantan TKI di Arab Saudi. Ani menceritakan semua pengalamannya selama bekerja di negara orang.
"Sstt... Sudah. Jangan terlalu di pikirkan. Aku yakin, suatu saat Mama dan Papa pasti bisa menerima Jasmine," ucap Leon sambil memeluk Arini erat. Ia ingin menenangkan istrinya itu. Biar bagaimanapun, semua kekacauan ini Leon lah penyebabnya. Oleh karena itu, ia harus bertanggung jawab.
"Lepas, Leon! Tidak enak, kita dilihatin," ujar Arini sambil menunjuk kelompok baby sitter dan asisten rumah tangga yang sedang bergosip entah apa sambil menatap ke arah mereka.
Leon pun melepaskan pelukannya sambil memandang balik ke arah mereka bertiga. Ia jadi teringat akan kejadian beberapa hari lalu, dimana Retno dan Ani sedang asik menggosipkan dirinya. Leon yakin, saat inipun pasti ketiganya sedang menggosipkan dirinya kembali. Perempuan kalau sudah berkumpul memang menyebalkan. Selalu saja bergosip ria. Seperti tidak ada pekerjaan lain saja.
"Mau berenang, tidak?" tanya Leon sambil mencelupkan kakinya ke kolam renang. "Bbrr dingin." Leon langsung mengangkat kakinya begitu menyadari betapa dinginnya air kolam renang pada malam hari.
Arini menggeleng. "Dingin."
Sementara itu di meja pojokan, tepatnya di tempat para orang tua. Mereka sedang membicarakan Arini dan Leon.
"Saya itu belum bisa menerima Jasmine, loh, Mas," kata Malvin. "Istri saya juga belum bisa," lanjutnya.
Hamdani dan Malvin adalah kakak dan adik tingkat ketika SMA. Keduanya sudah akrab sejak masih sekolah. Dan sekarang ketika mereka menjadi besan, alangkah bahagianya mereka berdua. Ternyata anak-anak mereka berjodoh.
Hamdani tersenyum lebar. "Kalau saya, tidak mau ikut campur urusan anak, Vin. Saya sudah menganggap Jasmine sebagai cucu saya. Masa lalu ibunya sudah saya lupakan," kata Hamdani. Ia lalu menyeruput kopinya yang sudah hangat. Ya, meskipun dulu Hamdani pernah marah pada Leon dan istri-istrinya yang lain, tapi sekarang Hamdani sudah memaafkan itu. Apalagi saat ini Diana dan Becca sudah meninggal dunia, sedangkan Leon danĀ Calina sudah bercerai. Rasanya tidak baik terus mendendam pada orang yang sudah meninggal.
"Saya tidak bisa begitu, Mas. Kalau sudah tidak suka, susah mau melupakan," sahut Mutiara.
"Apalagi saya." Malvin menimpali.
Hamdani tak habis pikir. Kalau di pikir-pikir, harusnya ia yang kesal dan marah. Karena anak perempuan satu-satunya di permainan oleh laki-laki yang menjadi suaminya.
__ADS_1
Tapi ini malah posisinya terbalik, orang tua Leon malah yang kesal setengah mati kepada Leon. Bahkan sampai bayi yang tak bersalah pun mereka musuhi.
"Tapi mungkin suatu saat kami bisa menerima Jasmine. Memang kasihan juga bayi yang tidak bersalah itu di musuhi," kata Malvin sambil menatap Arini dan Leon yang duduk di tepi kolam renang.
"Ya, mudah-mudahan saja begitu," sahut Hamdani.
Memang, terkadang kita membutuhkan waktu untuk memaafkan seseorang. Tidak bisa begitu saja memaafkannya.
"Sepertinya Yusuf sudah mulai mengantuk. Saya mau bawa Yusuf ke kamar dulu, Mas," kata Mutiara sambil berdiri.
"Iya iya. Langsung ke kamar saja," kata Hamdani.
Tinggallah Malvin dan Hamdani saja. Keduanya lalu bernostalgia pada kisah masa lalu.
Dulunya Hamdani yang suka pada Mutiara, tapi malah Malvin yang di sukai oleh Mutiara. Memang sih, Hamdani tidak pernah mengutarakan isi hatinya pada Mutiara secara langsung, ia hanya memendamnya dalam hati saja. Oleh karena itu Mutiara tidak tahu akan isi hati Hamdani. Hingga sampai detik inipun baik Mutiara dan Malvin tidak ada yang tahu. Karena Hamdani pandai menyembunyikan rahasia.
Mutiara sendiri seangkatan dengan Hamdani, hanya saja beda sekolah. Jadi, Malvin adalah brondongnya Mutiara. Kalau sudah jodoh mau dikata apa?
Arini bersama Leon dan kedua anak serta baby sitter-nya menginap di rumah Hamdani. Sementara ayah dan ibu mertuanya sudah pulang malam tadi.
"Saya boleh berenang tidak, Bu?" tanya Ani. Ani sendiri sejak pertama kali datang ke rumah Hamdani sudah langsung ingin mencoba kolam renangnya. Dulu saat masih muda Ani adalah atlit renang tingkat kabupaten.
"Boleh, Bude. Ajak Bude Retno juga boleh," sahut Arini. Ia sedang menjemur Yusuf dan Jasmine.
"Mbak Retno tidak bisa berenang, Bu. Dia kalau berenang pakai gaya batu. Tenggelam dan tidak pernah timbul," ucap Ani sambil tertawa.
Arini hanya geleng-geleng kepala.
Ani lalu bergegas berenang sendirian. Mungkin kalau di rumah Becca ada kolam renangnya, pasti Ani akan berenang setiap hari.
"Jasmine, Sayang. Sini, Nak!" Arini memanggil Jasmine untuk mendekat, pasalnya bayi perempuan tersebut sudah berada jauh dari Arini.
Jasmine yang tahu dirinya dipanggil, langsung berlari menuju ke arah Arini. Namun naas, dirinya terjatuh karena terlalu semangat berlari.
__ADS_1
Baru saja Arini hendak menolong, Jasmine sudah bangun dengan sendirinya. Ia tidak menangis.
"Anak pintar," puji Arini saat Jasmani sudah berada di dekatnya.
Leon yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya mendekati Arini. "Sayang, aku berangkat, ya?" ucap Leon berpamitan pada Arini.
"Iya. Hati-hati," pesan Arini.
Sebenarnya hari ini Leon ingin libur. Akan tetapi dirinya memiliki jadwal meeting dengan salah satu client penting. Jadi tidak bisa libur.
"Iya," jawab Leon. Ia lalu bergegas pergi menuju kantornya.
"Rin..."
Arini menoleh ke belakang, dimana ada sosok ayahnya di sana.
"Ada apa, Pa?" tanya Arini sambil menatap heran pada penampilan ayahnya yang rapi. Hendak kemana ayahnya pagi-pagi begini?
"Papa mau ke makam Mama. Titip rumah, ya?" kata Hamdani sambil memasang kancing pada lengan tangannya.
Arini mengangguk. "Hati-hati, Pa," kata Arini.
"Iya," sahut Hamdani sambil berlalu.
Arini memandangi punggung ayahnya yang semakin lama semakin hilang. Minimal sebulan sekali Arini pasti akan mengunjungi makam ibunya. Tiba-tiba saja ia jadi rindu akan sosok ibunya.
Plak!
Wajah Arini di tabok oleh si kecil Jasmine. Mungkin bayi tersebut kesal karena melihat ibunya hanya melamun.
"Jasmine berani pukul Mama, ya? Hm?" Arini menggelitiki perut Jasmine dan membuat bayi tersebut tertawa terbahak-bahak.
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1