Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Dinner


__ADS_3

"Terimakasih untuk malam ini," ucap Leon sambil menggenggam tangan Arini yang ada di atas meja.


"Aku yang seharusnya berterimakasih. Kamu yang mempersiapkan semua ini," ucap Arini sambil menatap Leon.


Leon menundukkan kepalanya sejenak, lalu kemudian menatap Arini. "Aku bahagia." Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Leon.


Aku lebih bahagia. Ucap Arini dalam hati.


"Aku sudah terlalu banyak menyakitimu. Tapi kamu masih mau bertahan denganku. Rasanya aku malu sekali, Rin. Aku ini seperti laki-laki tidak berguna," lirih Leon sambil menatap piring yang sudah kotor karena isinya sudah habis mereka santap.


Suatu saat kamu akan tahu alasanku bertahan sejauh ini, Leon. Batin Arini.


"Hei... Kita ini sedang dinner romantis. Ayolah... Ceria. Lupakan saja yang sudah lalu," ucap Arini sambil menepuk bahu Leon pelan. "Coba lihat pemandangan di bawah sana. Keren, bukan?"


Leon mengikuti arah pandang Arini. Ia menatap keluar. Dari atas gedung pencakar langit. Terlihat jelas pemandangan malam kota yang bermandikan cahaya lampu.


Sangat indah.


"Aku harap kita bisa sering seperti ini," ucap Leon tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan malam.


Keduanya larut dalam bahagia. Hening sejenak dan tak ada suara apapun.


"Aku mau menjenguk Jasmine lagi. Boleh, ya?" rengek Arini. Tiga kali Arini menjenguk Jasmine dan mendapatkan hadiah diam dari Becca, hal tersebut membuat Leon melarang keras Arini untuk menjenguk Jasmine lagi.


Leon bukan bermaksud buruk, ia hanya tidak enak pada Arini dan Becca. Jika Arini ingin menjenguk Jasmine, nanti saja jika semuanya sudah membaik.


"Kamu tahu sendiri, kan, sayang, Becca seperti apa. Dia sedang tidak ingin berbicara pada kita. Sebaiknya tunda dulu sampai Becca menjadi lebih baik," ucap Leon dengan hati-hati.


Arini menghembuskan nafasnya berat. Sebenarnya ia memang tidak suka di diamkan oleh Becca, tapi di satu sisi ia ingin menjenguk Jasmine. Siapa tahu bisa menjadi pancingan supaya ia kembali hamil.


Arini sudah sangat lama menginginkan buah hati. Pernikahannya dengan Leon sudah berjalan 6 tahun, tapi hingga saat ini belum juga diberi momongan. Melihat Jasmine membuat Arini bersemangat. Tapi kalau Leon tidak mengizinkan ia bertemu Jasmine, Arini bisa apa?


"Ya sudah, lain kali saja aku menjenguk bayi cantik itu," ucap Arini pelan. "Kamu harus memperbaiki kekacauan ini, Leon! Sebelum semuanya menjadi rumit," lanjutnya masih dengan suara pelan.

__ADS_1


"Pasti, Rin. Aku pasti akan memperbaiki kekacauan ini," ucap Leon yakin. Biar bagaimanapun, kekacauan ini ia sendiri yang membuat. Sehingga ia pula yang harus membereskannya.


"Ngomong-ngomong masakannya enak. Tidak ada sisa lagi, ya?" ucap Arini sambil menatap piring kosong di atas meja.


"Ada. Mau lagi?" tawar Leon dan diangguki oleh Arini.


Leon langsung menuju dapur dan mengambil makanan yang masih tersisa. Mereka lalu menyantapnya bersama.


Hari ini nafsu makan Arini sedang baik. Sehingga ia makan cukup banyak.


***


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Leon pelan.


"Belum. Ada apa? Chat dari siapa itu?" tanya Arini dengan mata terpejam. Ia memang sudah mengantuk dan hendak tidur. Namun suara ponsel Leon membuat Arini kembali terjaga.


"Dari Diana. Biasa... Dia bicara omong kosong yang tidak penting. Maaf aku lupa merubah menjadi mode diam. Kamu pasti terganggu, ya?" ucap Leon sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Selamat malam, sayang," balas Leon.


Tak lama Arini sudah tertidur. Dapat dilihat dari nafasnya yang mulai teratur. Namun begitu Leon masih belum dapat tidur. ia terngiang-ngiang pesan dari Diana yang baru saja masuk.


Leon, kau berani mempermainkan aku. Lihat saja kejutan yang akan kuberikan.


Itulah pesan yang dikirimkan oleh Diana. Entah kejutan seperti apa yang dijanjikan Diana. Tapi Leon dapat mencium aroma-aroma hal tidak baik yang akan dilakukan Diana.


***


Jasmine, peri kecil yang selalu menjadi alasan Leon untuk tetap sabar menghadapi Becca. Malam ini ia pulang ke rumah Becca, karena memang sekarang waktunya ia tidur di sana.


"Jasmine... Anak Papa yang cantik, lagi tidur ternyata," Leon mencium kilat pipi Jasmine yang sedang terbaring di dalam boks bayi.


Melihat hal itu, Becca hanya diam saja. Ia tiduran di ranjang sambil memainkan ponselnya. Leon sudah biasa mendapatkan hal seperti itu. Sehingga ia tidak kaget lagi. Didiami oleh Becca bukanlah hal baru bagi Leon.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Leon sambil duduk di sisi ranjang. "Mau sampai kapan hubungan kita seperti ini, Bec?" Leon menatap Becca lekat-lekat. Ia selalu menunggu kata-kata keluar dari mulut Becca.


Hening.


Tidak ada jawaban apapun dari Becca.


"Apa yang kamu mau? Katakan, aku harus bagaimana supaya kamu mau memaafkankanku?" tanya Leon sekali lagi. Ia tidak pernah berhenti mengajak Becca untuk bicara. Meskipun tidak pernah di respon oleh Becca.


Becca menaruh ponselnya di atas nakas dan mulai berbaring untuk tidur. "Aku bosan, Mas. Kamu bahkan tidak bisa adil sebagai suami." Akhirnya Becca buka suara.


"Aku minta maaf, tapi aku janji akan memperbaiki kekacauan ini," ucap Leon sungguh-sungguh. "Tolong maafkan aku, Bec," ucapnya sekali lagi.


Suara tangis Jasmine membuat keduanya melupakan sejenak percakapan mereka. Dengan sigap Leon mengecek kondisi Jasmine. "Sepertinya lapar," ucapnya.


Tanpa berkata apa-apa, Becca langsung menggendong Jasmine dan memberinya ASI eksklusif.


"Oh, iya. Aku melupakan sesuatu," ucap Leon. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Buat Jasmine. Dari Arini." Leon menyodorkan sebuah boneka keropi yang sedang memeluk bunga melati. Boneka tersebut sangat kecil, hanya sekepalan tangan orang dewasa.


Memang Jasmine belum boleh main boneka seperti itu. Takut nanti akan di makan oleh si bayi merah tersebut. Tapi boneka tersebut bisa disimpan untuk diberikan ketika Jasmine besar, bukan?


Becca mengambil boneka tersebut dan meletakkannya di dalam lemari Jasmine. "Terimakasih," ucapnya dingin.


Setidaknya dingin lebih baik daripada diam. Batin Leon.


Sebuah kemajuan yang cukup baik mendapati Becca sudi bicara. Walaupun itu dengan nada dan ekspresi yang sangat dingin.


Setelah Jasmine kenyang, Becca menidurkan kembali putrinya tersebut ke dalam boks bayi yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya. Becca tidak menidurkan Jasmine di ranjang bersamanya. Takut tertindih. Maklumlah, Becca ini sedikit lasak saat tidur.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku," ucap Leon lagi saat Becca sudah berbaring di sebelahnya.


"Tidurlah. Sudah malam." Becca menyelimuti dirinya sebatas dada kemudian memunggungi Leon.


Leon hanya bisa mengelus dadanya supaya bersabar. Ia tidak akan pernah menyerah untuk membuat Becca bicara.

__ADS_1


__ADS_2