
Beberapa hari ini Leon tidak bisa tenang, ia terfikirkan istri-istrinya. Bahkan sudah dua hari ini Leon tinggal di rumah orang tuanya yang kosong, karena orang tuanya masih di luar negeri.
Diana sudah berhenti bekerja dari kantor, namun bukan berarti Leon bisa tenang. Karena Diana mengancam akan menyebarkan aib mereka berdua jika Leon tidak segera menikahinya.
Diana memberinya waktu satu minggu terhitung dua hari yang lalu untuk mempersiapkan seluruh keperluan pernikahan.
Selama di kantor juga Leon dan Becca tidak pernah bertegur sapa. Becca masih sangat marah padanya, wajar jika ia didiamkan seperti sekarang ini.
Leon mondar-mandir di kamarnya seperti orang bingung. Beberapa hari ini selera makannya berkurang. Membuat tubuhnya kurang begitu fit karena kekurangan asupan makanan.
Puas mondar-mandir, Leon menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Matanya meneliti ke seluruh ruangan.
Masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Kamar lamanya ini tidak berubah sama sekali.
Ah, mengapa Leon jadi memikirkan kamar. Harusnya ia memikirkan nasib pernikahannya yang sudah diujung tanduk.
Tok tok.
Suara pintu di ketuk membuat Leon melihat ke arah pintu kamarnya.
"Mas Leon, ada tamu di bawah," kata Ayu--- sang asisten rumah tangganya.
"Iya, Mbak. Saya turun," sahut Leon dari dalam kamar. Ia lalu keluar kamar dan menemui tamunya. Leon tidak memiliki bayangan siapa yang akan mengunjunginya, karena saat ini hubungannya dengan para istri tidak baik, jadi tidak mungkin mereka mau mengunjungi Leon.
"Diana," gumam Leon saat melihat siapa yang datang.
Ya, perempuan sialan itu duduk di sofa tunggal dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kirinya. Ia tersenyum miring saat melihat kehadiran Leon.
"Selamat malam, Leon," sapanya. "Aku datang hanya untuk mengingatkanmu. Pernikahan kita harus dilaksanakan sebentar lagi. Jangan sampai diundur terus, nanti perutku semakin besar," lanjutnya.
Leon duduk di sofa depan Diana. Jujur ia kesal dengan Diana. Ia juga tidak yakin apakah anak yang dikandung perempuan itu adalah anaknya atau bukan. Pasalnya Leon sudah meminta untuk dilakukan tes DNA, tapi Diana menolak dengan dalih tidak baik untuk kehamilannya yang masih muda.
Mau tak mau Leon harus menikahi Diana. Lalu setelah anak itu lahir, barulah Leon akan melakukan tes tersebut.
"Aku pasti menikahimu. Sekarang pergilah! Aku sedang ingin sendiri untuk menenangkan diri," usir Leon. Ia tidak suka akan kehadiran Diana, karena dengan hadirnya Diana hanya akan membuat pikirannya semakin pusing.
"Kau terlihat sangat membenciku," kata Diana sinis. "Lihat saja, aku akan membuatmu jatuh cinta setengah mati padaku," katanya lagi dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Leon tersenyum miring menatap Diana. Namun ia tak mengatakan apa-apa, karena menurutnya percuma menanggapi omong kosong Diana.
Sia-sia belaka.
"Baiklah aku akan pergi. Toh sebentar lagi kita akan menikah, jadi tidak ada salahnya aku memberimu waktu untuk sendiri beberapa hari ini. Nanti juga kau akan menjadi milikku," kata Diana sambil berdiri. Sebelum pergi, perempuan itu mencium singkat pipi Leon.
Leon menatap tajam ke arah Diana. Ia mengelap pipinya yang di cium perempuan tersebut.
Bukannya marah, Diana hanya tersenyum miring sambil mengedikkan bahunya. Kemudian berlalu.
"Mbak Ayu!" panggil Leon.
Perempuan 45 tahun tersebut lari tergopoh-gopoh dari arah dapur. "Ada apa, Mas?" tanya Ayu heran.
"Besok, kalau perempuan tadi datang lagi, jangan disuruh masuk!" kata Leon sambil berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Baik, Mas," sahut Ayu sambil terheran-heran. Bagaimana tidak heran, pasalnya tadi perempuan tersebut mengaku sebagai calon istri Leon. Lah, sekarang kok malah Leon melarangnya untuk datang.
Ayu mengedikkan bahunya lalu kembali lagi ke dapur.
***
"Ada. Hanya saja aku memang menolaknya untuk selalu di jenguk. Aku memikirkan nasib istri-istri tuanya," sahut Calina santai. Ia duduk di depan televisi sambil mengunyah pizza.
"Kau sedang hamil, tapi cemilanmu seperti itu. Cobalah ganti jadi salad atau makanan sehat lainnya," omel Via.
"Aku tidak sedang makan cemilan. Aku sedang makan makanan berat. Setelah ini aku tidak lagi makan," sahut Calina santai.
Via terkekeh geli. "Kau jangan membohongiku. Kita ini orang Indonesia. Makanan pokok kita nasi, mana mungkin kau kenyang hanya makan satu loyang pizza ukuran sekecil itu."
"Kau ini, banyak sekali aturan. Pusing kepalaku jadinya." Calina menyodorkan sepotong pizza ke mulut Via.
Seketika manajernya itu terdiam dan menikmati kunyahan pizza-nya. Kelemahan Via cuma satu. Yaitu makanan.
Via adalah tipe orang yang doyan makan. Akan tetapi sebanyak apapun ia makan, badannya tidak pernah mekar. Selalu saja langsing. Hal itu membuat Calina dan mungkin hampir semua orang di dunia ini iri kepadanya.
Sedangkan Calina? Ia hanya mencium aroma makanan saja berat badannya bisa naik. Apalagi makan banyak seperti Via.
__ADS_1
Akan tetapi untuk kasus sekarang ini Calina mencoba untuk tidak peduli. Karena semenjak hamil nafsu makannya semakin meningkat. Sebentar-sebentar lapar, Sebentar-sebentar lapar.
Memang benar apa yang dikatakan Via tadi, nanti Calina pasti akan makan lagi. Karena baginya kalau belum makan nasi maka belum afdol.
"Ca..."
"Hm."
Via menatap Calina serius. "Suami kamu, pernah tidak menjelek-jelekkan istrinya yang lain di depanmu?" tanya Via penasaran.
Calina menghentikan kunyahannya. Ia menatap Via sambil mengerutkan dahi. "Tidak pernah. Kenapa memangnya?"
"Baguslah kalau begitu. Sebab laki-laki yang menjelek-jelekkan pasangannya di depan orang lain atau pasangannya yang lain itu jempol ke bawah. Cemen," kata Via. "Untung kalau suamimu tidak seperti itu," lanjutnya.
Calina manggut-manggut sambil kembali melanjutkan kunyahannya. Dalam hati ia setuju pada Via.
Untung saja Leon tidak pernah menjelek-jelekkan istrinya yang lain di depan Calina.
Tapi....
Tunggu!
Bagaimana jika ternyata Leon malah menjelek-jelekkannya di depan Arini atau Becca? Duh, ya ampun! Tolong maafkan Calina yang sedang berburuk sangka ini, Ya Tuhan.
"Kau sudah cek kehamilan?" tanya Via di sela-sela kunyahannya.
"Sudah. Kemarin."
"Kau pergi sendiri?" tanya Via takjub.
"Iya," jawab Calina santai.
"Kau hebat. Padahal punya suami, tapi pergi cek kandungan sendiri. Persis janda saja," kekeh Diana dan disahuti kekehan juga oleh Calina.
"Ngomong-ngomong soal hami, apa, sih rasanya. Sakit? Hormon tidak stabil? Manja? Emosian?" tanya Via penasaran. "Jujur, sejak awal aku takut menikah. Takut hamil. Makanya aku masih betah sendiri di usia 34 tahun seperti sekarang ini," kata Via miris. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Calina.
"Kalau kau takut. Ya sudah, jangan lakukan."
__ADS_1
Via mendengus kesal. Bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan. Dasar Calina! Menyebalkan! Untung Via sayang. Kalau tidak, sudah Via buat perkedel ibu hamil tersebut.