Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Menikah Lagi


__ADS_3

Pukul delapan pagi, Leon sudah berangkat ke Masjid At-taqwa untuk melaksanakan pernikahan ketiganya.


Kali ini Leon datang seorang diri. Tidak membawa siapapun. Ketika sudah berada di halaman masjid, ia menghembuskan nafas pelan untuk menenangkan diri. Walaupun ini pernikahan ketiganya, tetap saja ia merasa gugup.


Setelah sedikit tenang, Leon langsung melangkah masuk ke dalam masjid. Disana sudah ada Calina dan kedua orang tuanya, imam masjid dan tiga orang laki-laki sebagai saksi.


Leon dan kedua orang tua Calina sudah saling kenal. Karena dulu Leon sering bertamu ke rumah Calina.


"Apakah ijab qabulnya bisa dilaksanakan sekarang?" tanya sang imam. Semuanya menjawab siap.


Sekali lagi Leon menghembuskan nafas pelan. Setelah itu, acara langsung dilaksanakan.


Ketika terdengar suara "SAH", Leon menarik nafas lega. Akhirnya acara berjalan lancar.


Tak lama satu persatu orang pergi meninggalkan masjid. Tinggallah Calina dan kedua orang tuanya serta Leon saja.


Calina mengambil dua buah kamera yang tadi ia pasang menggunakan tripod sebagai dokumentasi pribadi. Katanya tidak akan ia upload ke sosial media.


"Kalian sudah menjadi sepasang suami istri. Mama harap kalian bisa hidup bahagia," kata Clarista--- mama Calina. "Walaupun Mama dan Papa tidak setuju dengan pernikahan siri ini. Mama dan Papa maunya kalian menikah secara resmi tercatat di negara, tapi Calina tidak mau. Ya sudah, mau bagaimana lagi. Kami tidak bisa berbuat banyak. Satu pesan dari Mama dan Papa, jangan main-main dengan pernikahan," lanjutnya.


"Iya, Ma. Calina ngerti."


"Ya sudah, Mama dan Papa mau langsung pulang," kata Clarista dan diangguki oleh Calina dan Leon.


Tinggallah mereka berdua saja di dalam masjid. "Kenapa Papa diam saja? Apa Papa tidak setuju dengan pernikahan ini?" tanya Leon. Mereka sedang berjalan menuju parkiran.


"Tentu saja setuju. Papa diam bukan karena marah atau apa, tapi memang begitulah sifatnya. Tidak banyak bicara. Kamu kayak baru kenal Papa saja," kata Calina sambil membuka pintu mobil Leon.


"Syukurlah kalau kedua orang tua kamu setuju," balas Leon. Iapun langsung menuju pintu sebelah kanan dan membukanya.


Tadi saat berangkat, Calina menumpang di mobil orang tuanya. Oleh karena itu, sekarang ia pulang bersama Leon.


"Kita ke apartemen kamu?" tanya Leon ditengah perjalanan.


Calina mengangguk. "Iya," jawabnya.


Sebelumnya Leon telah bertandang ke apartemen Calina sebanyak dua kali. Jadi sekarang ia telah tahu dimana letak hunian istrinya itu.


"Via tidak ikut?" tanya Leon. Ia ingat, waktu pertama kali bertamu ke apartemen Calina, disana ada Via yang diperkenalkan Calina sebagai manajer, sahabat sekaligus kakak.


"Via sedang ada urusan keluarga. Jadi tidak bisa hadir," jawab Calina.

__ADS_1


Leon ber-oohh panjang.


Tak lama keduanya sampai di tempat tujuan. Mereka langsung menyerbu masuk ke dalam apartemen.


"Kita sudah halal, bukan?" goda Calina sambil mengerling nakal.


"Kau menggodaku, hm?" Tanpa ba bi dan bu, keduanya lalu melakukan hubungan suami istri di ruang tamu.


Untung saja Via sedang di luar kota. Kalau tidak, bisa bahaya. Soalnya selama ini, Via sering masuk apartemen Calina tanpa permisi.


Kan lucu kalau aksi mereka berdua kepergok Via. Kasihan Vianya yang jomblo.


Sementara itu di lain tempat, Becca dan Arini berencana untuk bertemu di sebuah restoran.


Becca yang memang sangat antusias untuk bertemu dengan Arini, berangkat lebih awal. Mereka janjian pukul dua belas siang. Setengah dua belas Becca sudah di lokasi.


Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Jujur saja, ia merasa gugup untuk bertemu Arini. Biar bagaimana pun, status Arini adalah istri pertama, dan ia istri kedua.


Apalagi selama ini mereka belum pernah bertemu secara langsung. Ralat. Pernah sekali, waktu pernikahan Becca dengan Leon.


Ya, hanya itu saja. Selain itu belum pernah.


Suara kursi di tarik membuat Becca mengangkat kepalanya.


Arini datang.


"Sudah dari tadi?" tanya Arini dengan seulas senyum yang ia paksakan. "Maaf terlambat. Tadi ada sedikit urusan," lanjutnya.


"Ah, tidak. Mbak Arini tidak terlambat, kok. Aku yang sengaja datang lebih awal. Karena terlalu bersemangat," kata Becca sambil tersenyum lebar dan dibalas oleh senyum juga oleh Arini.


"Ada yang mau dibahas?" tanya Arini to the point.


"Mau ngobrolin hal-hal ringan aja, Mbak. Oh, iya. Mbak Arini mau pesan apa? Kita pesan makanan dulu baru lanjut ngobrol, ya?" kata Becca.


"Iya, boleh."


Becca pun memanggil seorang karyawan. Dan karyawan tersebut membawa sebuah daftar menu.


"Nasi goreng seafood dan jus mangga, Mbak," kata Arini.


"Kalau saya, mie goreng dan jus strawberry, Mbak," kata Becca.

__ADS_1


Sang pelayan langsung mencatat pesanan keduanya. Setelah itu ia berlalu menuju dapur.


"Mbak Arini apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu," kata Becca mencoba untuk berasa-basi.


"Alhamdulillah, baik," jawab Arini masih dengan senyum yang ia paksakan.


"Sejak kecil, Mbak Arini punya cita-cita jadi pilot, ya?"


Arini mengangguk.


"Kalau aku, pengen jadi artis. Biar masuk tv. Tapi malah tidak kesampaian," kata Becca sambil meringis. Menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


Obrolan keduanya harus terjeda sebentar karena pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Ayo kita makan dulu, Mbak. Nanti dilanjutkan lagi obrolannya," kata Becca dan diangguki oleh Arini.


Keduanya lalu menyantap makanan dengan tenang.


"Aku sengaja minta nomor Mbak Arini ke Mas Leon. Sejak lama pingin kenal Mbak Arini, tapi takut. Hehe." Becca meringis. Ia lalu menyeruput jusnya untuk membasahi tenggorokan.


"Mengapa harus takut? Memangnya aku menyeramkan?" tanya Arini sambil tertawa renyah.


"Bukan begitu maksudku, Mbak. Emm... Hehe. Yang jelas, aku senang bisa kenal Mbak Arini. Aku ingin belajar banyak hal."


"Aku bukan guru yang baik, Becca. Apa yang ingin kau pelajari?"


"Tentang makna hidup. Tentang keikhlasan. Tentang semuanya," kata Becca antusias.


Arini tersenyum kecil. Ia dapat melihat ketulusan di wajah Becca. Oleh karena itu, ia dengan cepat menyesuaikan diri dengan madunya itu.


Walaupun awalnya Arini sempat berfikiran buruk tentang Becca yang mendadak mengajaknya bertemu. Sekarang fikiran buruk tersebut hilang dengan sendirinya.


"Mbak Arini," panggil Becca.


"Hm, ada apa Becca?"


Becca tersenyum kikuk. "Emm... Terima kasih sudah menerimaku dengan baik. Tidak seperti istri tua yang sering aku lihat di sinetron. Mbak Arini begitu baik. Bolehkah aku menganggap Mbak Arini sebagai kakakku?" tanya Becca penuh harap.


Arini tersenyum manis. Kali ini bukan senyum yang dipaksakan. "Tentu saja. Kau boleh menganggapku sebagai kakakmu," katanya.


Becca tersenyum lebar sekali karena merasa senang. Sampai-sampai matanya menyipit. "Terima kasih, Mbak," kata Becca dan ditanggapi dengan senyuman manis oleh Arini.

__ADS_1


__ADS_2