Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Orang Tua Leon


__ADS_3

"Mama sama Papa tumben pulang tidak bilang-bilang," kata Leon sambil menatap ayah dan ibunya secara bergantian. Biasanya kalau akan pulang, pasti orang tuanya ini akan mengabarinya terlebih dahulu.


Mutiara menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menatap anaknya dengan tatapan tak terbaca. "Bagaimana rasanya punya banyak istri? Enak?" Bukannya menjawab pertanyaan Leon, Mutiara malah menyerang Leon dengan pertanyaan.


Mutiara sangat kesal dengan keputusan Leon untuk berpoligami. Tapi mau bagaimana lagi, Leon susah sekali untuk di nasehati. Semua keputusannya sulit untuk diubah.


Leon hanya diam saja tidak menjawab apa-apa. Ia tahu dirinya salah, oleh karena itu ia hanya bisa menyesali semua perbuatannya. Kalau bisa kembali ke masa lalu, Leon tidak akan pernah melakukan poligami. Ia akan hidup bersama Arini saja.


"Poligami itu bukan soal gampang, Leon!" Kini Malvin pun ikut bersuara. "Semenjak kamu banyak istri, tidak pernah ada waktu untuk Mama dan Papa."


"Sudah berapa banyak istrimu?" tanya Mutiara sambil menatap Leon frustasi. Ingin rasanya ia mengembalikan Leon ke dalam perutnya, agar anaknya ini tidak berbuat sembrono seperti sekarang ini.


"Dua, Ma. Duanya lagi sudah meninggal," jawab Leon pelan. Sejujurnya kabar meninggalnya Diana dan Becca kedua orang tuanya ini sudah tahu, tapi mengapa sekarang bertanya lagi?


"Mau nambah lagi?" tanya Mutiara dengan tatapan membunuh. Seolah-olah ia mengatakan "awas kalau sampai nambah lagi!".


Leon menggeleng pelan. "Tidak, Ma." Melihat raut garang ibunya membuat Leon takut. Ibunya memang garang, lebih garang dari ayahnya.


"Anakmu sudah berapa?" tanya Malvin sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Dua mau tiga, Pa." Lagi-lagi orang tuanya bertanya hal yang sudah pernah Leon beritahu. Leon jadi berpikir, sebenarnya kedua orang tuanya ini lupa atau sedang melontarkan pertanyaan basa-basi?


Bicara dengan orang tuanya seperti sekarang ini membuat Leon merasa seperti di interogasi polisi. Menegangkan. Leon memang belum pernah diinterogasi polisi, tapi berdasarkan film yang ia tonton, kurang lebih suasananya seperti ini.


Tadi siang saat jam istirahat kantor, tiba-tiba saja Mutiara mengabari kalau ia sudah pulang ke Indonesia.


Mengetahui orang tuanya pulang, begitu jam pulang kantor, Leon pun langsung menuju rumah orang tuanya. Ia hendak mengajak Arini, namun Arini masih bekerja. Tiga Minggu lagi baru Arini akan cuti.


"Sebenarnya Mama dan Papa bukan tidak suka sama istri kedua sampai ke empat-mu itu. Hanya saja... Mama tidak kuat untuk bertemu mereka. Memangnya apa yang ada di pikiran mereka sampai mau menjadi istri laki-laki yang sudah beristri. Mama tidak habis pikir. Kamu juga, serakah! Sudah punya Arini masih mencari yang lain." Mutiara mengomeli Leon panjang lebar. Tipe-tipe ibu-ibu kebanyakan. Bicaranya banyak.


Lagi-lagi Leon hanya bisa diam karena ia memang merasa bersalah.


"Ya sudah, sana pulang! Nanti istrimu nyari.  Jatah siapa malam ini?" Mutiara bertanya dengan nada tidak sukanya. Ia adalah orang yang paling tidak suka Leon melakukan poligami.


"Arini, Ma," jawab Leon pelan.


"Arini, ya? Arini masih kerja. Berarti kamu bebas malam ini." Kini giliran Malvin kembali bicara. "Keluar gih sana! Cari istri baru!" sindirnya.


"Papa!" Sontak saja Malvin mendapat pelototan dari Mutiara. "Mumpung malam ini kamu free, mending tidur sini saja. Dari pada keluyuran di luar sana. Besok Mama dan Papa sudah harus pergi lagi."

__ADS_1


"Secepat itu?" Leon memandang kedua orang tuanya tak percaya. Baru saja sampai sudah harus pergi lagi.


"Iya," jawab Mutiara tegas.


"Ya sudah, Leon mau istirahat dulu." Leon pun langsung bergegas menuju kamarnya yang sudah lama tidak ia tiduri.


***


"Rin..."


Punggung Arini ditepuk oleh seseorang. Setelah ia menoleh, ternyata itu Via.


"Hai, Vi. Sendirian saja?" tanya Arini sambil berjalan menarik ranselnya. Keduanya sedang berjalan keluar dari bandara.


"Iya. Aku baru pulang liburan dari Bali," jawab Via.


"Calina mana?" tanya Arini.


"Pulang kampung. Kangen Juna katanya."


Arini hanya mengangguk saja.


"Oh, iya. Hati-hati, Vi."


Keduanya lalu berpisah.


Sepeninggal Via, Arini terus berjalan mancari Leon. Karena hari ini suaminya itu menawarkan diri untuk menjemput dia pulang kerja.


"Pasti nyari aku."


Arini yang sudah hafal betul suara itu langsung menoleh dan berkata, "Tolong bawa ya, suamiku!" Arini menyerahkan kopernya pada Leon.


Tentu saja dengan senang hati Leon membawakannya.


"Maaf aku lama."


"Tidak masalah. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu Mama dan Papa," kata Arini dengan wajah murungnya. Ia sudah kangen mertuanya itu, tapi sayang belum bisa bertemu karena mereka sibuk.


Keduanya jalan bersisian menuju parkiran.

__ADS_1


"Maaf ya, mereka sibuk banget. Tapi ada oleh-oleh dari mereka. Buat kamu."


"Apa?"


"Belum aku buka. Kan buat kamu. Bukan buat aku. Masa aku yang buka."


Arini hanya diam saja dan tidak menanggapi apa-apa. Kalau Arini boleh GR, pasti yang dikasih oleh-oleh hanya dirinya. Calina tidak. Jasmine dan Juna juga tidak. Padahal Jasmine dan Juna masih bayi dan belum tahu apa-apa, tapi sudah di perangi seperti ini.


"Mereka hanya ngasih buat kamu. Tidak untuk yang lain," kata Leon masih terus berjalan. "Sepertinya Mama dan Papa belum bisa menerima yang lainnya."


Arini melirik ke wajah Leon yang sedih. Bagaimana tidak sedih, istri dan anaknya tidak disukai oleh orang tuanya.


***


"Jasmine yang cantik... Ayo kita jalan-jalan sama Mama Rini." Arini yang sudah siap dan berdandan rapi menggendong Jasmine menggunakan kain.


Sementara itu Leon yang masih merapikan rambutnya masih terus menatap cermin.


Hari ini hari Minggu. Mumpung Leon dan Arini sedang libur, keduanya memutuskan untuk jalan-jalan bersama. Tidak jauh-jauh, hanya ke mall saja.


Sebenarnya mereka ingin mengajak Retno juga. Namun pengasuh Jasmine itu sedang pulang kampung karena orang tuanya yang sudah sepuh sedang sakit.


"Kamu lama, deh. Kayak perempuan," cibir Arini saat melihat Leon tak kunjung selesai.


"Iya. Ini sudah kok. Yuk! Let's go!"


Keduanya lalu pergi menggunakan mobil. Dan tak lama, sampailah mereka di mall.


"Mau nonton?" Leon memberikan ide yang menurut Arini gila.


"Sembarangan! Kita bawa Jasmine, loh. Kasihan dia, bisa budek nanti," omel Arini tak tanggung-tanggung. Mana mau Arini mengajak Jasmine yang masih batita ini menonton bioskop. Apalagi saat ini mereka tidak membawa penyumpal telinga untuk bayi.


"Mau main?" Leon terus menawarkan Arini apa saja yang terlintas di benaknya.


Arini menggeleng. "Bagaimana kalau beli es krim. Setelah itu kita ke taman. Mumpung masih pagi."


"Oke." Leon pun setuju dengan usul Arini.


Keduanya lalu menghabiskan waktu cukup lama di kedai es krim. Dan setelah itu menuju taman yang tak jauh dari rumah Becca.

__ADS_1


__ADS_2