
Setelah vakum cukup lama. Kali ini Calina kembali ke dunia hiburan. Ia merilis sebuah lagu baru yang terinspirasi dari Arjuna. Sang buah hati tercinta.
Namun lagu baru tersebut tidak terlalu booming. Mungkin sebagian orang sudah melupakan Calina akibat ia terlalu lama menghilang. Hanya tinggal beberapa fans sejatinya saja yang masih setia pada Calina.
Tapi Calina tidak mengambil pusing hal tersebut. Baginya baik sedikit atau banyak yang menyukai lagunya, ia akan tetap berkarya. Siapa tahu sekarang memang tidak booming, setahun atau beberapa tahun lagi kita tidak pernah tahu, bukan? Yang penting berkarya saja dengan tulus.
"Aku sedang mendengarkan lagu baru kamu. Lagunya nyaman di telinga aku," kata Leon melalui sambungan telepon. "Nanti malam aku pulang," lanjutnya.
"Terimakasih. Oke aku tunggu."
Sambungan telepon pun langsung diputuskan, karena Calina dan Leon memang selalu bicara singkat jika sedang di telepon.
"Leon?" tanya Via.
Calina mengangguk.
"Kok lagu kamu tidak se-hits yang dulu, ya? Apa ada yang salah, ya?" Via yang masih belum bisa terima terus saja mengeluh. Dari kemarin ia selalu membahas tentang lagu tersebut. Ya, lagu tersebut memang baru kemarin di rilis diberbagai platform digital.
"Sstt..." Calina menarik Via yang berjalan lambat sambil mengeluh agak kuat. Saat ini keduanya sedang berada disebuah pusat perbelanjaan. "Jangan bicara keras-keras. Ini tempat umum."
"Ups... Maaf." Via meringis sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya. Peace.
"Kamu mau beli apa? Ayo segera beli. Kasihan Juna kalau kita lama dan tidak segera pulang." Arjuna memang saat ini hanya berdua saja bersama baby sitter. Calina yang terlalu over protective memasang banyak CCTV di apartemennya, guna untuk memantau keadaan sang anak.
Untungnya sang baby sitter yang tidak tahu akan adanya CCTV tersebut tetap bekerja dengan baik dan tidak curang. CCTV tersebut sangat kecil dan tersamarkan dengan perabotan lainnya, sehingga tidak membuat orang sadar jika ada CCTV-nya.
"Calina... Sport bra. Di sebelah sana. Ayo let's go!" Via langsung menarik tangan Calina yang hendak menuju mainan anak.
Mau tidak mau akhirnya Calina mengikuti Via juga. Karena sebelumnya ia sudah janji akan menemani sahabat sekaligus manajernya itu belanja.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang menjual sport bra, Via langsung memilih sesuai seleranya. Sementara itu, Calina memutuskan untuk duduk di kursi tunggu sambil menonton aktifitas Arjuna di CCTV yang tersambung pada ponselnya.
"Parah kamu. Bagaimana kalau Bu Julia tahu kamu pasang CCTV untuk memata-matai dia? Pasti dia akan marah." Tiba-tiba saja Via sudah berada di sebelah Calina dan ikut menonton Arjuna.
"Aku bukan memata-matai Bu Julia. Aku hanya ingin tahu apa aktifitas Juna. Itu saja." Calina yang tidak mau kalah pun berkelit.
"Ya ya ya. Terserahlah. Ayo pulang!"
"Sudah selesai belanjanya?" Calina bertanya karena Via tak menenteng sesuatu. Baik itu plastik ataupun papar bag.
"Sudah," jawab Via.
"Mana? Kok aku tidak lihat apa-apa."
Via lalu membuka tasnya. "Ada di sini. Aku ini pendukung go green. Mengurangi sampah plastik."
***
"Arjuna... Anak gentengnya Papa. Duuhh... Lucunya kamu." Leon yang baru saja selesai mandi langsung mengambil alih Arjuna dari gendongan Calina.
Hari ini Leon pulang cepat karena memang pekerjaan hari ini tidak berat. Pukul enam sore ia sudah berada di rumah. Kalau biasanya bisa sampai pukul satu atau dua dini hari baru sampai rumah.
"Aku siapkan makan malam, ya?" Calina menawarkan diri karena ia tahu, Leon pasti sudah lapar. Tadi tak sengaja ia mendengar bunyi perut Leon.
Leon mengangguk. Ia tengah asyik bermain dengan Arjuna sehingga hanya menjawab Calina dengan seadanya saja.
Calina pun lalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Julia tidak menginap di apartemen Calina. Karena perempuan itu pun memiliki anak yang masih sekolah dasar dan membutuhkan dirinya. Rumah Julia sendiri tidak jauh dari apartemen Calina. Tidak sampai satu kilometer, berjalan kaki saja cepat sampai. Jadi jika sewaktu-waktu Calina membutuhkan bantuannya, ia bisa segera datang.
Calina menyiapkan makan malam rice bowl. Menu yang ia pesan melalui aplikasi daring satu jam yang lalu. Leon sendiri tahu kalau Calina sibuk dan tidak sempat memasak. Dan Leon tak pernah mempermasalahkan itu. Jika bisa beli mengapa harus memaksa istri untuk masak? Istri bukan pembantu, bukan?
__ADS_1
"Leon... Juna... Ayo kita makan!" Calina berteriak merdu. Penyanyi memang begitu, teriak saja bisa merdu.
Leon yang mendengar teriakan Calina langsung turun sambil menggendong Arjuna. Untuk satu orang ini Leon tidak pernah merasa risih jika harus diteriaki. Malah kalau boleh request, ia ingin sering-sering diteriaki oleh Calina. Soalnya teriakan Calina merdu.
"Aku suka teriakan kamu. Sering-sering teriak ya kalau ada aku." Leon berseloroh sambil tertawa kecil. Ia masih menggendong Arjuna.
"Enak saja. Aku hanya akan teriak kalau ada budget-nya."
"Tapi tadi tidak ada budget-nya dan kamu mau teriak," kata Leon. Ia mulai makan. Sebelumnya Leon memang tidak pernah makan sambil menggendong bayi. Takut sang jabang bayi terkena percikan makanan. Tapi berhubung malam ini makanannya tidak berkuah, Leon pun memutuskan untuk menggendong Arjuna sambil makan.
"Habisnya aku sedang malas naik turun tangga. Teriak lebih efisien. Kalau satu kasus ini dalam pengecualian." Calina yang jago ngeles membuat Leon tidak bisa menyanggah lagi.
Keduanya lalu makan bersama dengan tenang. Selama Leon berumah tangga dengan Calina, belum pernah satu kali pun Calina marah. Padahal dulu jaman mereka pacaran, Calina adalah perempuan yang suka marah.
"Calina..." Leon memanggil saat mereka telah selesai makan.
"Ada apa?" Calina menyahut sambil membereskan meja. Ia membuang bowl bekas rice bowl ke dalam tong sampah.
"Mengapa kamu tidak pernah marah terhadapku? Padahal dulu waktu kita pacaran, kamu sering sekali marah." Leon bicara sambil memandang lekat-lekat pada Calina. Ia ingin tahu apa jawaban Calina.
Calina kembali duduk di depan Leon. "Aku sudah pernah di fase marah-marah, dan itu tidak menyenangkan. Capek." Calina bicara dengan serius.
"Capek?" tanya Leon bingung.
Calina mengangguk. "Iya, capek. Marah-marah itu menguras energi. Aku ingin hidup bahagia, tidak ingin marah-marah lagi."
"Ya sudah. Lupakan pertanyaan tadi. Ayo sekarang kita ke kamar. Kasihan Juna, sepertinya ia sudah sangat mengantuk." Leon lalu menuju kamar terlebih dahulu, lalu disusul Calina di belakangnya.
Sebenarnya Calina bukan tidak ingin marah-marah. Ia masih normal dan sangat bisa marah-marah, akan tetapi ia sadar siapa dia dalam kehidupan Leon. Hanya istri ketiga.
__ADS_1