
Kebetulan sekali taman sedang sepi. Jadi seperti taman milik mereka bertiga saja. Arini duduk di kursi panjang sambil memangku Jasmine. Sementara itu Leon sibuk memotret keduanya menggunakan kamera ponsel.
"Mau es krim?" Leon menawarkan es krim karena Arini suka sekali dengan es krim. Dan kebetulan sekali di seberang taman ada minimarket yang menjual es krim.
"Boleh. Tapi aku dan Jasmine nunggu di sini saja, ya? Kamu sendirian saja yang pergi."
"Oke. Tunggu sebentar."
Leon pun langsung bergegas menuju minimarket yang ada di seberang taman. Sesampainya di sana ia sibuk memilih rasa. Sebenarnya, sih, Arini suka rasa apa saja, tapi sepertinya Leon ingin mencoba rasa yang belum pernah ia nikmati.
"Leon..."
Merasa ada yang memanggil, Leon pun langsung menoleh. Namun sepertinya kali ini ia terlalu percaya diri. Leon yang dimaksud bukanlah dirinya, melainkan seorang anak kecil laki-laki berbadan gempal.
"Leon! Ayo kita pulang," kata sang ayah yang sepertinya sudah selesai berbelanja.
"Mau es krim, Yah. Boleh, ya?" rengek Leon si bocah kecil sambil menunjuk lemari pendingin yang berisi banyak macam es krim.
"Kamu ini makan es krim terus, kalau Bunda tahu bisa marah." Sang ayah mengomeli si gempal Leon. Tapi ia tetap membelikan apa yang dimau Leon. Setelah itu mereka bergegas ke kasir.
Leon yang sedang tadi bengong dan melihat si kecil Leon langsung buru-buru mengambil dua mangkuk es krim rasa nanas.
"Ternyata namaku sangat pasaran." Leon menggumam sambil berjalan menuju meja kasir.
Untung saja ia tadi tidak langsung menyahut dan memilih untuk menoleh terlebih dahulu. Kalau main asal sahut kan bisa malu dirinya. Orang lain yang di panggil, dia yang menyahuti.
***
Leon menyodorkan semangkuk es krim nanas di depan Arini.
"Nanas?" Arini melihat wadah es krim sambil membacanya. "Aku belum pernah makan yang rasa nanas. Tahu sekali kamu ini kalau aku suka mencicipi segala rasa es krim."
"Siapa dulu... Leon." Leon menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah Arini. "Jasmine sayang.... Kamu masih bayi, belum boleh makan es krim. Sabar, ya, Sayang." Leon mencium pipi kanan Jasmine karena gemas. Bayi tersebut sedang melihat Arini seperti ingin meminta es krim yang tengah di makan Arini.
"Hehe... Kasihan, ya. Aku jadi tidak tega." Arini menaruh es krimnya di samping tempat ia duduk.
"Biar aku gendong Jasmine. Kamu habiskan saja dulu es krim-mu. Kalau sudah habis, nanti kita gantian," usul Leon dan disetujui Arini.
__ADS_1
Kini Jasmine sudah berpindah gendongan kepada Leon. Walaupun bayi, tetap saja ia bisa tahu, kalau memasukkan sesuatu ke mulut itu tandanya makan. Dan ekspresi polos Jasmine yang mengecap-ngecapkan bibirnya sambil menonton Arini makan es krim, membuat Arini jadi tidak tega.
"Tadi waktu di minimarket, ada anak kecil yang namanya Leon juga. Dan saat dia di panggil ayahnya, hampir saja aku yang menyahuti. Ternyata namaku sangat pasaran," tutur Leon dan sontak saja membuat Arini tertawa.
"Kalau kamu yang nyahut, pasti seru, deh."
"Apa serunya. Yang ada akunya malu." Leon sewot sendiri. Ia berdiri cukup jauh dari Jasmine supaya bayi tersebut tidak dapat melihat Arini makan es krim. Kasihan kalau sampai Jasmine ngiler gara-gara es krim.
"Nanti kita kasih nama anak kita yang unik. Biar tidak pasaran," kata Arini sambil terus menikmati es krimnya. "Kalau Jasmine dan Juna sudah terlanjur. Mau di apakan lagi?"
"Buat bubur merah lagi. Aku tidak mau tahu, pokoknya Jasmine dan Juna harus ganti nama yang unik dan tidak pasaran." Leon sewot seperti anak kecil saja.
Sementara itu Arini hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Leon tidak sedang sungguh-sungguh kok. Ya, mana mungkin ia mengganti nama yang telah diberikan oleh Becca dan Calina.
***
Tiba-tiba saja Aldi-- adik Arini datang ke rumah kakaknya. Entah ada angin apa yang membawa Aldi datang menemui Arini.
"Ada apa?" tanya Arini sambil menatap Aldi yang duduk di sofa tunggal.
Satu yang Adil tidak tahu, setiap hari Arini pasti mengirimkan chat atau telepon atau video call pada ayahnya. Minimal sehari sekali. Tidak pernah absen.
Tapi sepertinya Aldi yang memang tidak suka pada Leon memanfaatkan kesempatan ini untuk memojokkan Arini dan Leon.
"Sekarang Papa di mana?" tanya Leon panik. Ia merasa bersalah karena jarang menemui mertuanya itu.
"Rumah Sakit Pelita," jawab Aldi dengan raut wajah datarnya.
"Ayo kita siap-siap! Berangkat sekarang juga." Arini langsung menarik tangan Leon untuk berdiri.
"Aku pamit." Aldi langsung berlalu begitu saja. Membuat Arini hanya bisa mematung memandangi punggung adiknya itu.
Sebenarnya dulu hubungan Arini dan Aldi baik-baik saja. Sangat baik malahan. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini Aldi sering bersikap ketus padanya. Mungkin karena ia jarang mengunjungi ayah mereka.
Papa... Maafkan Rini yang tidak tahu diri ini. Ujar Arini dalam hati.
Leon menepuk bahu Arini pelan. "Ayo siap-siap."
__ADS_1
Arini mengangguk. "Bude, titip Jasmine, ya? Saya dan Leon sedang ada urusan," kata Arini saat keduanya berpapasan di tangga.
"Baik, Bu," jawab Retno.
***
"Papa sakit apa?" tanya Arini pelan. "Kok Papa tidak bilang-bilang?"
Hamdani mengelus kepala Arini dengan sayang. "Papa demam biasa, kemarin hujan-hujanan di gunung," jawab Hamdani sambil tersenyum. Hamdani memang anak gunung. Kalau sedang tidak ada jadwal terbang, ia pasti akan naik gunung bersama teman-temannya yang sesama pecinta alam.
"Sekarang bagaimana kondisi Papa?" Leon yang duduk di sebelah Arini bertanya.
Keduanya duduk di lantai agar dapat mensejajarkan dengan Hamdani yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Sudah membaik. Kata dokter, besok pagi sudah boleh pulang."
"Syukurlah." Leon menghembuskan nafas lega.
"Kalau ada apa-apa lagi, Papa harus segera kabari Rini. Kalau Papa tidak mau mengabari Rini, Papa harus mau tinggal di rumah Rini, supaya Rini bisa tahu keadaan Papa."
Hamdani mengangguk. "Iya."
Arini memandangi ayahnya yang terbaring. Sepertinya sudah baikan, ayahnya tidak pucat dan terlihat fit.
"Kalian berdua saja? Mana Jasmani?" Hamdani bertanya saat hanya melihat Arini dan Leon berdua saja.
"Di rumah, Pa. Tadi pas Rini dan Leon pergi, dia lagi tidur." Arini tidak bohong, memang tadi Jasmine sedang tidur.
"Kapan-kapan ajak Jasmine main ke rumah."
"Jangan lupa siapkan makanan yang banyak, Pa," kata Arini sambil tertawa.
"Jasmine sudah bisa makan?" tanya Hamdani tak percaya.
"Bukan buat Jasmine. Tapi buat Rini, Pa." Leon yang menjawab.
Sontak saja itu membuat Hamdani geleng-geleng kepala.
__ADS_1