
Setibanya di kantor, Leon dan Becca banyak mendapat godaan dari para rekannya.
"Pak Leon dan Bu Becca, sudah pulang dari honey moon ternyata."
"Pulang dari honey moon, Pak Leon dan Bu Becca tambah cakep, deh."
"Pak Leon dan Bu Becca serasi."
Suara bersahut-sahutan tidak digubris oleh Leon dan Becca. Keduanya langsung masuk ke ruangan masing-masing.
Leon menjabat sebagai manager pemasaran. Sedangkan Becca sebagai manager produksi.
Mereka bekerja di sebuah perusahaan minuman kaleng. Dan memiliki jabatan yang sama.
Setelah sampai di ruangannya, Leon langsung memeriksa semua pekerjaan yang ia tinggalkan selama dua minggu.
Suara ketokan di pintu membuat Leon mengangkat kepalanya dari keyboard komputer.
Diana-- karyawan baru bagian administrasi yang konon katanya sahabat Becca menyembul dari balik pintu.
"Selamat pagi, Pak Leon. Saya ke sini mau mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada Bapak." Diana mengulurkan tangannya dan di terima oleh Leon.
Namun Diana tidak mau melepaskan jabatan tangan tersebut. Ia tersenyum menggoda kepada Leon. "Bapak tambah cakep. Saya suka," kata Diana.
Leon yang dasarnya suka perempuan cantik, tidak berniat melakukan apa pun. Ia diam saja menunggu apa yang akan dilakukan Diana selanjutnya.
Tanpa aba-aba, Dia bangkit dan berdiri di sebelah Leon. Tangan mereka berdua masih berjabatan.
Diana mendekatkan bibirnya di telinga Leon. Ia berbisik. "Saya suka sama Bapak sejak pandangan pertama. Tapi sayang, Bapak sudah punya istri. Dua malahan. Saya jadi sedih."
Diana kini mendekatkan wajahnya di hadapan Leon. "Tapi kalau Bapak mau mencari istri lagi, saya mau kok jadi yang ketiga," katanya sambil tersenyum menggoda.
Leon diam saja. Ia sedang mengikuti arah permainan Diana. Ia tahu Diana adalah teman baik Becca. Lalu mengapa Diana berani bersikap demikian?
Pelan tapi pasti, Diana menempelkan bibirnya di bibir Leon. Ia mulai mencium Leon dengan ganas. Seperti orang yang kekurangan belaian.
Mendapatkan perlakuan demikian, Leon jadi terpancing. Ia membalas perlakuan Diana dengan tak kalah ganasnya.
Tangan kokok Leon menarik Diana ke dalam dekapannya. Ia menekan bo*ong Diana agar menempel pada pangkal pahanya.
__ADS_1
Suara ketukan di pintu membuat aktifitas keduanya terhenti. Dengan gerakan cepat, Diana merapikan penampilannya lalu berjalan keluar.
Sial. Siapa yang berani mengganggu? Shit! Maki Leon dalam hati.
Baru dua langkah Dia berjalan, pintu sudah terbuka. Dan tampaklah sosok Becca sambil tersenyum manis.
"Hai Diana? Apa kabar?" Becca dan Diana lalu cipika-cipiki. Mereka sudah dua minggu tidak bertemu.
"Kabar baik. Kau pulang dari honey moon tambah cantik," puji Diana setelah pelukan mereka terlepas.
Entah ilmu apa yang digunakan Diana. Ia tampak sangat tenang dan santai.
Berbeda dengan Leon. Wajahnya memucat begitu melihat Becca masuk ruangannya. Ia juga menyesal telah merutuki siapa pengganggu aksi ciumannya dengan Diana. Andai saja Leon tahu kalau yang akan datang adalah Becca, ia tak akan merutuki meski hanya dalam hati.
Satu hal lagi, Leon sangat beruntung karena Becca tergolong orang yang sopan. Meskipun masuk ke ruangan suaminya sendiri, ia tetap akan mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kamu habis ngapain? Rambutmu kok berantakan?" Becca merapikan rambut Diana yang sedikit berantakan.
Diana tertawa kecil. "Kau mirip Mamaku saja. Sangat perhatikan sama aku. Ya sudah, aku mau keluar dulu. Mau lanjut kerja," kata Diana dan diangguki oleh Becca.
"Hei. Ada apa?" tanya Becca setelah Diana berlalu. Ia duduk di kursi depan meja Leon. "Wajah kamu pucat, Mas."
Becca meraih tangan Leon yang ada di atas meja. "Mas sakit?" tanyanya cemas.
"Aku tidak sakit, honey. Memangnya wajahku terlihat seperti sedang sakit?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Ia sedang berusaha menghapus rasa cemasnya.
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Syukurlah. Aku datang kesini cuma mau melihatmu saja. Mas lanjut kerja, gih! Aku mau kembali ke ruanganku," kata Becca sambil berdiri. Sebelum ia pergi, ia mencium pipi Leon kanan dan kiri.
"Selamat bekerja," kata Becca dan diangguki oleh Leon. Ia lalu menghilang di balik pintu dan langsung menuju ruangannya untuk kembali bekerja.
Sepeninggal Becca, Leon menarik nafas lega. Untung tidak ketahuan. Kalau sampai ketahuan, tamatlah riwayatnya. Namanya di kantor pasti akan jelek. Becca dan Arini pasti akan kecewa atau bahkan marah.
Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang lemah iman jika melihat perempuan cantik.
Diana memang cantik. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih bersih. Bodinya bak gitar Spanyol.
__ADS_1
Leon buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mencoba menghapus pikiran-pikiran buruk di kepalanya.
Ia pun kembali melakukan pekerjaannya.
Sementara itu, di ruangan Becca. Ia kedatangan Diana. Bukan tanpa alasan Diana datang menemuinya, ia sedang mengantar surat untuk ditandatangani oleh Becca.
"Hei. Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Becca sambil menyerahkan surat yang sudah ia tanda tangani.
"Jatuh cinta," lirih Diana sambil tersenyum sendiri.
Becca menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Diana. Diana adalah sahabatnya sejak SMA. Diana mulai pacaran ketika kelas 1 SMA.
Selama SMA saja mantannya ada lima. Di bangku kuliah ada enam. Setelah kuliah Becca tidak tahu lagi karena ia bekerja ke luar kota dan baru kembali lagi baru-baru ini.
Diana adalah orang yang mudah jatuh cinta kepada pria tampan. Tidak peduli pria tersebut sudah punya pasangan atau belum. Tidak perduli juga pria tersebut kaya atau miskin. Yang penting tampan.
Pasalnya orang tua Diana adalah pengusaha sukses. Dan Diana adalah anak tunggal. Otomatis semua kekayaan akan menjadi milik Diana.
Diana memutuskan bekerja di perusahaan lain bukan karena membutuhkan uang atau apa. Ia hanya sedang berpetualang. Setelah nanti ia puas, ia akan resign dan kembali ke perusahaan orang tuanya.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Becca sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
"Ada, deh. Nanti juga kamu tahu sendiri," jawab Diana sambil tersenyum misterius.
Lagi-lagi Becca hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Semoga sampai ke pernikahan. Tapi ngomong-ngomong, sudah jadian atau belum?"
"Belum," jawab Diana sambil nyengir.
"Kalau begitu. Semoga kalian secepatnya jadian."
"Amin. Kau tahu bukan? Kalau aku adalah sosok yang sangat ambisius. Aku pasti bisa mendapatkan laki-laki itu. Ia adalah laki-laki yang lemah iman. Pasti akan sangat mudah untuk kutaklukkan," kata Diana dengan penuh percaya diri.
Becca tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia memang sudah tahu kalau Diana sangat ambisius. "Jangan lupa undang aku kalau kalian menikah."
Undang? Bagaimana bisa. Kau pasti akan pingsan kalau aku mengundangmu. Batin Diana sambil tertawa dalam hati.
"Tentu, Becca," kata Diana sambil tersenyum misterius.
Diana langsung berpamitan setelah pekerjaannya selesai.
__ADS_1
Sepeninggal Diana, Becca kembali melanjutkan pekerjaannya.