
Leon dan Arini menuju rumah orang tua Leon dengan menggunakan taksi online. Mereka hanya berempat saja. Tidak mengajak serta baby sitter.
Malvin dan Mutiara sudah pulang dari luar negeri. Keduanya sengaja pulang untuk bertemu dengan cucu mereka tercinta. Yusuf.
"Aku takut," ujar Arini. "Bagaimana kalau ternyata Mama dan Papa belum bisa menerima Jasmine," lirihnya. Ia melihat cemas ke arah Jasmine yang tertidur di pangkuan Leon. Malang sekali nasib Jasmine, si batita yang terkena imbas dari perbuatan orang tuanya.
Leon mengelus pundak Arini. "Kamu yang tenang, ya? Aku yakin pelan-pelan pasti Mama dan Papa bisa menerima Jasmine. Jasmine tidak bersalah apa-apa. Dia tidak layak untuk dibenci. Akulah yang harusnya dibenci. Bukan Jasmine," sahut Leon.
Sedari tadi Arini mencemaskan hal tersebut. Ia takut jika anak pertama Leon tersebut tidak mendapatkan tempat di hati ayah dan ibu mertuanya.
Sekaligus memang masih bayi, tapi bagaimana jika kebencian tersebut berlanjut hingga Jasmine dewasa? Apa yang harus Arini lakukan?
"Sudah sampai, Pak, Bu."
Suara supir taksi membuyarkan monolog di kepala Arini. Ia dan Leon pun bergegas keluar dari mobil.
Arini diam terpaku di depan pagar rumah mertuanya. Ia takut untuk melangkahkan kaki ke dalam.
"Jangan takut," ucap Leon sambil menggandeng tangan Arini masuk ke rumah orang tuanya.
Leon memencet bel. Dan tak lama muncul wanita paruh baya yang masih cantik. Dia adalah Mutiara-- ibu kandung dari Leon. Leon dan Arini langsung menyalami Mutiara dengan takzim.
"Yusuf... sayangnya Oma. Sama Oma, yuk!" Mutiara langsung mengambil Yusuf dari gendongan Arini dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Yusuf adalah tipe bayi yang mudah lengket pada semua orang. Terkadang Arini merasakan was-was, bagaimana jika Yusuf diculik? Pasalnya bayi tersebut tidak takut pada orang baru.
Arini dan Leon saling pandang. Bagaimana dengan Jasmine?
Leon tahu kalau Arini sedang galau, oleh karena itu ia menggenggam lagi tangan Arini dan menuntun Arini masuk ke dalam rumah.
"Papa mana, Mana?" tanya Leon sambil mendaratkan bokongnya di sofa tunggal. Ia masih menggendong Jasmine.
"Sedang mandi," jawab Mutiara. Ia mengambil duduk di seberang Leon.
Sementara itu, Arini menuju dapur untuk menyajikan martabak telur dan brownis yang ia bawa. Ia sengaja membuat sendiri martabak dan brownis tersebut. Tidak membelinya.
__ADS_1
Tak lama Arini kembali muncul dengan membawa dua piring yang berisi martabak telur dan brownis. "Ini buatan Rini sendiri, Ma," ujar Arini sambil menaruh kedua piring tersebut di atas meja.
"Kamu ngurusin dua anak dan kerja di luar, masih sempat masak?" tanya Mutiara kagum. Sungguh luar biasa menantunya ini.
Arini mengangguk. "Rini kan dibantu dua baby sitter, Ma," jawab Arini. Ia mengambil duduk di sebelah Mutiara.
"Ma..." panggil Leon.
"Apa?" jawab Mutiara tanpa menoleh ke arah Leon. Ia sedang asik mengajak Yusuf bicara. "Yusuf tinggal di rumah Oma mau, tidak?" tanya Mutiara seolah-olah Yusuf sudah bisa diajak bicara.
"Loh... Kalian sudah datang?" Malvin menuruni anak tangga dan menuju ke arah sofa.
Arini dan Leon langsung berdiri dan menyalami ayahnya itu.
Lagi-lagi hal yang tidak diinginkan terjadi. Malvin mengabaikan kehadiran Jasmine. Malvin malah langsung menuju ke arah Yusuf.
Sebagai orang tua, tentu saja hati Arini dan Leon teriris-iris. Orang tua mana yang tega melihat anaknya tidak diterima oleh keluarga besar?
"Ma... Pa..." panggil Leon.
"Hmm..." Hanya disahuti gumaman oleh Malvin, sementara Mutiara hanya diam saja.
Seketika Mutiara langsung menatap ke arah Leon. Ia berkata, "Sekarang belum. Tidak tahu nanti."
"Papa tahu Jasmine tidak bersalah, tapi entah mengapa rasanya sulit sekali untuk menerimanya," sahut Malvin.
Arini yang duduk di sebelah Mutiara hanya bisa tertunduk. Ia menggigit bibir bawahnya. Walaupun Jasmine bukan anak kandungnya, tapi Arini tetap menyayangi Jasmine seperti anak kandungnya sendiri. Bagi Arini tidak ada perbedaan yang spesial antara Yusuf dan Jasmine. Dan perlakuan kedua mertuanya membuat hati Arini hancur. Anaknya tidak diterima.
"Maaf, Ma, Pa. Ini semua salah Leon," ujar Leon pelan. Ia melepaskan gendongan Jasmine dan memangkunya.
Malvin hanya mengangkat bahunya, sementara Mutiara diam saja tidak menyahuti apa-apa.
Malvin dan Mutiara sudah tahu semua hal tentang anaknya. Mereka sudah mengetahui kalau Leon sudah bercerai dengan artis Caca Calina. Tentu saja mereka sangat senang. Mereka juga tahu kalau Arjuna bukan anak kandung Leon.
Semua itu Calina sendiri yang memberitahu melalui pesan email. Sekaligus Calina mengucapkan salam perpisahan kepala mertuanya, dan juga meminta maaf telah merusak rumah tangga putra mereka.
__ADS_1
Tentu saja email tersebut hanya di baca dan tidak dibalas oleh Malvin dan Mutiara. Mereka tidak sudi untuk membalasnya.
Walaupun mereka bahagia akan kabar perpisahan anaknya dan artis Caca Calina, tapi mereka menyimpan kebahagiaannya berdua saja. Tidak diperlihatkan di depan Leon dan Arini.
"Papa kamu sudah pensiun, ya?" tanya Malvin sambil menatap ke arah Arini.
"Iya, Pa. Kok Papa tahu?" jawab Arini.
"Papa kamu chat Papa. Katanya sekarang dia sudah pensiun. Rencananya besok kami berdua mau ke rumah Papa kamu. Mau silaturahmi. Kalian ikut, saja!" Itu Mutiara yang berkata.
Arini pun menyetujuinya.
"Jasmine ngantuk. Leon ke kamar dulu, Pa, Ma," kata Leon sambil menggendong Jasmine yang matanya sudah lima watt.
"Hmm..." Lagi-lagi Malvin hanya menyahuti dengan deheman.
"Kamu kok mau-maunya ngurusin anaknya Becca, sih," kata Mutiara saat Leon sudah masuk ke dalam kamarnya.
Memangnya harus diurus siapa? Panti asuhan? Masih punya ayah dan ibu kok ditaruh pantai. Pikir Arini.
Arini hanya tersenyum saja. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Mama ini bagaimana, kalau bukan Rini, siapa yang mau ngurus? Nenek dan ibunya sudah meninggal," sahut Malvin.
"Kan bisa ditaruh pantai asuhan, Pa," ujar Mutiara sambil menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Yusuf sudah berpindah tangan pada Malvin.
"Mama ini sembarangan saja. Kalau Leon mendengar, dia pasti murka."
"Mama tidak peduli. Memangnya Leon berani marah pada kita? Bisa-bisa dia jadi anak durhaka."
Malvin dan Mutiara malah berdebat berdua. Arini hanya bisa menonton perdebatan keduanya dengan tersenyum masam.
"Memangnya Papa mau menerima si Jasmine?" tanya Mutiara ketus.
"Mungkin suatu hari nanti Papa bisa menerima Jasmine. Kalau sekarang sih memang belum."
__ADS_1
"Huh! Papa, menyebalkan!" Mutiara mengambil sepotong brownis lalu memakannya. "Umm... Ini enak, harusnya kamu buka bakery, Rin," kata Mutiara sambil mengunyah.
Arini hanya tersenyum kecil menanggapi ibu mertuanya. Pasalnya ia masih kesal pada mertuanya yang selalu memojokkan Jasmine.