
"Sayang... Aku minta maaf. Tapi sungguh, aku hanya ingat Frans, bukan Calina," ujar Leon dengan suar rendah. Ia menggenggam tangan Arini dengan erat.
Arini masih diam saja sambil terus menatap lurus ke depan. Ia tak mau mengatakan apa-apa. Biasanya jika sedang marah, ia memang sering ngomel-ngomel. Tapi tak jarang ia juga marah dengan cara diam saja.
Leon mendekatkan dirinya pada Arini, kemudian ia memeluk istrinya itu dengan erat. "Aku mohon, jangan marah lama-lama, ya?! Aku benar-benar tidak ada niat untuk menyakiti hatimu," lirihnya.
Tanpa sengaja, air mata Leon jatuh membasahi pundak Arini. Ia benar-benar tidak ada niat untuk membuat istri tercintanya ini sakit hati.
"Sayang... Ngomong, dong! Aku sedih kalau kamu hanya diam saja," ujar Leon seraya melepaskan pelukannya. Ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi Arini.
Arini melepaskan tangan Leon yang ada di pipinya. "Aku mau sendiri dulu. Kita bicara lagi kalau aku sudah membaik," ujar Arini seraya berdiri. Ia lalu kembali ke villa untuk bermain dengan anak-anaknya.
Niat hati Arini ingin jalan-jalan menikmati udara segar, tapi ia malah harus kecewa dengan pernyataan Leon. Memang ini bukan sepenuhnya salah Leon. Mungkin emosi yang meledak-ledak ini diakibatkan oleh dirinya yang sedang PMS.
"Mama dari mana?" tanya Jasmine yang sedang menikmati apel sambil menonton video melukis melalui tablet.
"Dari lihat-lihat sekeliling," jawab Arini seraya mengambil duduk di sebelah Jasmine. "Adik kamu mana?" tanyanya dengan suara lembut.
"Di kamar mandi, Ma. Pipis," jawab Jasmine sambil menatap ibunya.
Arini menganggukkan kepalanya paham. Ia menyuruh Jasmine untuk melanjutkan tontonannya lagi.
"Mas Leon mana, Mbak?" tanya David yang baru saja muncul dari dapur. Tangan kanan laki-laki itu menggenggam sebuah apel merah. Sama persis seperti yang dimakan Jasmine.
"Masih di luar. Sana kalau kamu mau menyusul. Sekalian cuci mata, siapa tahu dapat jodoh orang sini," ujar Arini sambil tertawa kecil.
Tanpa disuruh dua kali, David langsung saja pergi keluar menyusul Leon. Ia memang paling tidak bisa jika harus disuruh duduk manis di rumah saja.
"Mama...," teriak Yusuf saat melihat ibunya sudah pulang. Bocah laki-laki cilik itu langsung naik ke pangkuan ibunya.
__ADS_1
Arini mencium pipi gembul Yusuf dengan gemas. Saat sedang badmood, mood booster Arini adalah anak-anaknya. Hanya dengan melihat anak-anaknya saja, emosi Arini bisa turun.
"Saya kok lapar ya, Bu?!" Ani cengir-cengir dengan posisi yang masih berdiri. "Saya mau masak mie boleh kan, Bu?" tanyanya dengan ekspresi polos.
Arini tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Bude ada-ada saja, deh. Kalau lapar ya makan. Apa yang bisa dimakan ya dimakan aja. Tidak perlu pakai laporan," ujarnya.
Ani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia lalu berlalu ke dapur untuk masak mie instan yang sengaja Arini bawa dari rumah.
Pasalnya mie instan ini adalah teman yang pas saat lapar malam hari. Arini sendirian kadang-kadang sering lapar pada saat tengah malam. Tapi intensitasnya tidak sesering Ani. Kalau Ani memang sering kelaparan.
Sementara itu di tempat lain, Leon sedang duduk di atas sebuah batu besar sambil menatap pemandangan hijaunya alam. Ia masih memikirkan Arini, tapi ia tak ingin menemui istrinya sekarang. Tadi Arini meminta ingin sendiri dulu, jadi Leon akan memberikan waktu pada istrinya itu.
David yang melihat punggung Leon dari kejauhan, lantas berlari kecil untuk mendekati majikannya itu.
Leon yang mendengar suara langkah kaki, menoleh ke belakang. "Mau jalan-jalan, Vid?" tanya Leon saat David sudah di dekatnya.
"Iya," jawab Leon singkat padat dan jelas.
David menoleh ke arah Leon. "Mas kenapa? Sepertinya sedang tidak baik-baik saja, ya?" terka David. Sudah lumayan lama bersama Leon, David jadi paham tentang Leon. Jika Leon bicara singkat dengan raut wajah malas, pasti bosnya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu memang tahu tentang saya," ujar Leon sambil terkekeh. "Tahu saja kalau saya sedang tidak baik-baik saja," lanjutnya seraya memukul pelan pundak David.
"Soal apa, Mas? Perusahaan? Rumah tangga? Uang?"
"Privasi, Vid," jawab Leon sambil memainkan batu kecil yang ada di dekatnya. Ia menimbang-nimbang batu tersebut lalu kemudian melemparkannya ke semak belukar.
David menganggukkan kepalanya paham. Bagaimanapun juga ia masih tahu batasan. Jika Leon tidak ingin menceritakan masalahnya pada dirinya, maka ia tak akan memaksa. Biara bagaimana pun setiap orang memang membutuhkan privasi.
Langit yang semula cerah, tiba-tiba saja mendukung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
__ADS_1
"Kita pulang yuk, Mas!" ajak David saat melihat langit yang mendukung. "Mendungnya sangat tebal," ujarnya.
Leon mengangguk. Ia jalan dengan langkah pelan sekali. Meskipun ia sudah bisa jalan sendiri, tapi ia belum bisa jalan dengan tegap karena rasa kesemuanya masih ada sedikit.
Sesampainya mereka di villa, hujan turun dengan derasnya. Kilat menyambar-nyambar di udara. Leon melihat Arini yang sedang menenangkan dua buah hatinya.
Begitu melihat Leon pulang, Arini lantas mengajak kedua anaknya untuk masuk kamar. Yusuf yang takut guntur, sudah hampir menangis sejak tadi.
Leon lalu menyusul Arini dan anak-anaknya ke kamar. Sesampainya di kamar, ia mengambil duduk di atas ranjang. Istri dan kedua anaknya duduk di sofa dengan berpelukan.
Leon merasa sangat canggung sekali. Ia ingin menegur Arini, tapi takut Arini akan semakin marah.
Leon menggenggam erat seprai dengan perasaan bersalahnya. Membuat Arini marah dan kecewa adalah penyesalan terdalam bagi Leon.
Dulu ia sudah sering melukai hati Arini. Oleh karena itu, saat ini ia tak ingin melukai hati istrinya lagi. Apalagi kalau itu menyangkut soal masa lalu Leon.
"Atut, Ma..." Yusuf menangis di dalam pelukan Arini.
Melihat anaknya menangis, Leon pindah duduk di sofa dan memeluk anak serta istrinya dengan erat.
"Papa..." Yusuf menangis sambil memanggil Leon.
Leon lalu melepaskan pelukannya. Ia mengambil Yusuf dari pelukan Arini. Ia lalu memeluk anak laki-lakinya itu dengan erat. "Jangan takut, ya?! Ada Mama Papa dan juga Kak Jasmine di sini," lirih Leon dan di-angguki oleh Yusuf.
Dan syukurlah, kilat dan Guntur tersebut tidak berlangsung lama. Hanya lima menit saja, setelah itu hujan biasa tanpa disertai kilat dan suara gemuruh.
Hari sudah sore. Matahari sudah mulai terbenam di ufuk timur. Hujan masih rintik-rintik. Leon berjalan mendekati jendela. Ia melihat titik-titik air yang jatuh membasahi tanah.
Bau basah.
__ADS_1