
Arini duduk di sisi ranjang sambil melihat sampul buku yang ada di pangkuannya. Buku tersebut berwarna biru langit. Sepertinya buku tersebut adalah diary milik Becca-- istri kedua Leon yang sudah meninggal dunia.
Arini menemukan buku tersebut dari tumpukan kardus yang berisi pakaian dan barang-barang Becca. Pakaian Becca Memeng belum sempat di susun dalam lemari. Jadi masih di dalam kardus.
Baca? Atau tidak?
Jujur saja Arini penasaran apa yang ditulis Becca. Tapi di satu sisi ia takut tidak sopan karena membaca buku harian orang lain.
Karena rasa penasaran yang begitu tinggi, akhirnya Arini memutuskan untuk membuka buku tersebut dan membacanya.
Diary Becca
Awalnya aku tidak pernah berpikir untuk menikah dengan suami orang. Aku cukup belajar dari pengalaman Mama. Dulunya Mama juga sama seperti Mbak Arini. Di poligami Papa.
Namun akhirnya Mama memilih mundur dan membiarkan Papa menjalani kehidupan dengan istri mudanya. Mama tidak sanggup berbagai kasih dengan wanita lain.
Ah... Papa... Aku jadi ingat tentangnya.
Entah di mana sekarang sosok laki-laki itu. Kabarnya sudah tidak pernah aku dengar lagi sejak Mama memutuskan untuk kembali tinggal di Indonesia.
Mama dan Papa kenal pada saat Papa berkuliah di Indonesia. Hingga benih-benih cinta muncul di antara mereka. Dan akhirnya mereka menikah lalu tinggal di Arab-- tanah kelahiran Papa.
Namun kebersamaan mereka hanya berlangsung selama 16 tahun saja.
Arini tidak langsung membuka halaman berikutnya. Ia termenung cukup lama. Sekarang ia baru tahu, ternyata seperti itu kisah hidup Becca.
Setelah termenung cukup lama, Arini lalu membuka halaman berikutnya.
Diary Becca
Aku dan Mas Leon sedang menuju Turki untuk honeymoon. Namun sesuatu hal yang tak kuduga terjadi.
Ternyata Mbak Arini adalah pilot yang mengantarkan kami honeymoon.
Aku sungguh merasa berdosa sekali. Aku tahu, pasti hati Mbak Arini sakit sekali melihat aku dan suaminya. Aku jadi merasa bersalah. Ingin rasanya aku hilang dari muka bumi ini.
"Cukup, Rin! Jangan dilanjutkan!" Arini bermonolog sambil menyimpan diary Becca ke dalam lemari. Ia tidak ingin melanjutkan bacaannya. Setidaknya untuk saat ini. Tapi mungkin nanti ia akan membacanya lagi.
__ADS_1
Arini tak habis pikir, ternyata Becca masih memikirkan perasannya juga. Walaupun posisi Becca bisa dibilang sebagai Pelakor atau Perebut Laki Orang, tetapi Becca tak sepenuhnya jahat. Ia masih sedikit memikirkan perasaan Arini.
Cinta memang selalu begitu. Terkadang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Ia tidak pandang bulu.
Tapi meskipun demikian, cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah orang dan waktunya.
***
"Sendirian saja, Mas Leon?" Yuna yang kebetulan berpapasan dengan Leon di menimarket menegurnya.
Leon tahu kalau yang menegur adalah tetangga depan rumahnya, tetapi ia belum tahu namanya. "Iya. Maaf Nama Ibu siapapun, ya? Saya dan istri belum sempat berkenalan," ucap Leon ramah.
"Yuna," jawab Yuna sambil memasukkan shampo ke dalam keranjang belanjanya. "Mas Leon kerja di mana?" Yuna tidak dapat menahan rasa penasarannya. Ia sangat penasaran setelah mendengar cerita dari Sinta sehari yang lalu. Sebenarnya Leon ini bekerja apa? Kok sampai-sampai bisa memiliki banyak istri. Apalagi istrinya bukan orang sembarangan. Arini pilot, sedangkan Calina artis terkenal. Biasanya sih perempuan itu mau di Poligami karena laki-laki tersebut kaya. Kalau miskin, mana mungkin mereka mau.
Leon hendak menjawab, tapi ponsel di saku celananya berdering. "Maaf, Bu Yuna. Istri saya telepon." Leon lalu menjauh dari Yuna dan mengangkat telepon dari Arini.
Di tempat tadi, Yuna memasang wajah masam. Ia gagal mendapatkan informasi.
"Halo, Sayang," ucap Leon setelah ia mengangkat teleponnya.
"Iya, masih. Ada apa?"
"Tolong belikan pembalut, ya? Ternyata stok di rumah habis. Aku lagi dapat."
"Oke, Sayang. Obat herbal untuk datang bulan sekalian, tidak?" Leon menawarkan obat yang biasanya di beli oleh Calina pada saat datang bulan. Ya, meskipun Leon tahu Arini tidak pernah meminum obat apapun ketika datang bulan, tetapi ia tetap mencoba menawarkannya. Siapa tahu sekarang Arini mau.
"Tidak usah," jawab Arini. Arini memang tidak pernah meminum obat apapun pada saat datang bulan. Memang ia merasakan sakit seperti wanita pada umumnya, tapi ia masih bisa menahannya. Tidak perlu minum obat.
"Oke, Sayang. Di tunggu. Sebentar lagi aku pulang."
Leon langsung memutuskan panggilan teleponnya setelah mendapatkan jawaban "iya" dari Arini.
Ia mengambil pesanan Arini lalu membayarnya ke kasir. Setelah itu pulang.
Di dalam minimarket yang berdinding kaca itu, Yuna masih memperhatikan Leon sampai Leon hilang dari pandangan.
Sial sekali! Harusnya ia hampir saja mendapatkan informasi untuk bahan gosipnya. Namun sayang, istri Leon malah menelepon.
__ADS_1
***
Wulan sedang membaca komik di ponselnya sambil tiduran. Malam-malam begini memang itu rutinitasnya. Membaca komik. Wulan memang pecinta komik.
"Tadi saya ketemu gurunya Nona Jasmine di minimarket," kata Anis pada Retno. Anis pernah sekali menjemput Jasmine di sekolah. Dan pada saat itulah ia berkenalan dengan gurunya Jasmine yang ternyata adalah tetangganya.
"Terus?" tanya Retno penasaran.
"Dia bertanya, apakah Bapak kepingin poligami lagi atau tidak? Kalau iya, dia punya teman yang jomblo."
"Terus kamu respon bagaimana?"
"Aku jawab, tidak, dong! La wong aku lihat sepertinya Bapak sudah bertaubat, kok."
"Bagus kamu," ucap Retno.
Mereka berdua memang dapat melihat kalau majikan laki-lakinya sudah tidak ingin lagi berpoligami.
Sementara itu, Wulan yang sedang berbaring di atas kasur, menengok sebentar ke arah Ani dan Retno yang sedang mengobrol di sofa. Kemudian ia kembali membaca komik.
Mereka bertiga tinggal dalam satu kamar yang sama. Dan kamar yang mereka bertiga tempati sama luasnya seperti kamar utama. Jadi bukan seperti kamar ART pada umumnya, yang hanya seukuran petak koset dan terletak di paling belakang.
Arini tidak mau memperlakukan ART-nya seperti itu. Oleh karena itu, ia memberikan kamar untuk ART-nya senyaman mungkin.
Di kamar tersebut dilengkapi dengan dua buah kasur, yang satu besar dan satu lagi kecil. Juga ada sofa, AC dan televisi. Sehingga membuat mereka bertiga betah bekerja di sini.
"Wulan..." Retno memanggil Wulan yang asik membaca komik sambil rebahan.
"Iya, Bude?" jawab Wulan sambil menoleh ke arah Retno.
"Kalau ada yang menggosipkan Bapak atau Ibu, kamu langsung pergi saja, ya! Tidak usah di ladeni," ucap Retno memberikan nasihat.
"Siap, Bude!" jawab Wulan dengan yakin.
Pasalnya Wulan ini masih sangat muda, Retno takut Wulan akan terpengaruh dengan gosip-gosip murahan yang beredar.
Satu yang Retno belum tahu, kalau Wulan ini bukan tipe orang yang suka bergosip. Buktinya ketika dua rekannya sedang bergosip, ia lebih memilih untuk tidak mendengar dan fokus membaca saja.
__ADS_1