Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Penagih Hutang


__ADS_3

Arini sedang duduk di depan meja komputer di ruang kerja Leon. Jari perempuan tersebut lincah menari-nari di atas keyboard.


Karena Arini masih hijau di dunia bisnis, ia masih sangat lamban dalam bekerja. Bukan apa-apa, pasalnya ia harus berfikir lama sekali sebelum memutuskan sesuatu. Takut tindakan yang ia ambil akan merugikan perusahaan.


Tok tok tok


Tiba-tiba saja pintu ruangannya di ketuk secara kasat dari luar.


"Masuk!" teriak Arini.


Dari balik pintu muncul seorang laki-laki dengan perawatan tinggi besar dan seram. Laki-laki tersebut lantas duduk di depan Arini. Padahal belum di persilahkan, sudah main duduk-duduk saja.


Tak lupa ada sekretarisnya juga di belakang laki-laki itu. "Maaf, Bu, saya sudah melarang Si Mas masuk, tapi masanya maksa," ujar sang sekretaris dengan rasa bersalahnya.


"Tidak apa-apa. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu," ujar Arini.


"Baik, Bu," sang sekretaris lantas keluar dari ruangan Arini untuk kembali melanjutkan kerja.


"Maaf, Mas ini siap, ya? Ada keperluan apa?" tanya Arini ramah dan takut-takut. Terang saja Arini takut, tampang Si Mas, sangat gahar.


"Saya penagih hutang dari Bank X ingin bertemu dengan Bapak Leon. Apa Bapak Leon ada?" tanya Si laki-laki tersebut dengan suara bass dan wajah tanpa ekspresi .


Dep colector, batin Arini.


"Bapak Leon sedang sakit. Saya istrinya," terang Arini.


Si laki-laki lantas menaruh sebuah kertas di hadapan Arini. "Itu surat telat bayar dari Bank," tutur sang penagih hutang tersebut.


Arini lantas membaca surat tersebut baik-baik. Ternyata Leon sudah menunggak tiga bulan.


Ah, apa? Tiga bulan? Arini tersentak. Kening wanita itu terkerut dalam. Bagaimana mungkin Leon menunggak angsuran selama tiga bulan? Apalagi suaminya itu tidak pernah bilang apa-apa padanya.


Karena Arini baru terjun di dunia bisnis, selain itu ia juga sangat sibuk karena memiliki pekerjaan tetap sendiri, akhirnya Arini tidak sadar dan tidak sempat mengecek hal-hal lain seperti hutang ini.


"Saya akan bayar sekarang," ujar Arini tanpa ragu. Perempuan tersebut lantas membuka laci meja kerjanya. Kemudian mengeluarkan sebuah buku tabungan.


Leon pernah memberitahu Bank mana yang ia pinjami uang, dan rekening mana yang ia pakai untuk membayar angsuran.

__ADS_1


Dengan cekatan, Arini lantas mengetik di ponselnya. Mentransfer melalui M-banking. Ia mentransfer dari rekening pribadi ke rekening perusahaan.


Arini tidak mau memberikan uang cash pada si penagih hutang. Bukan apa-apa, takut saja jika si penagih hutang tersebut melakukan hal-hal curang. Seperti tidak amanah misalnya. Bukan Arini berburuk sangka. Ia hanya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Toh ini Bank resmi, bukan rentenir. Cara bayar yang paling simpel adalah mengisi saldo di buku tabungan. Lalu pihak Bank yang akan mengambil uang dari tabungan kita tersebut jika sudah jatuh tempo.


"Sudah saya bayar," ujar Arini sambil menunjukkan bukti bayar.


Laki-laki di penagih hutang yang gahar tersebut mengangguk puas. Ia lantas pamit pulang.


Sepeninggal si penagih hutang tersebut, Arini menghembuskan nafas lega. Untunglah si penagih hutang tersebut tidak banyak bicara.


Jika si penagih hutang tersebut banyak bicara, apalagi berbicara kasar, mungkin ia akan setres dan tidak bisa memikirkan apapun itu.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Arini mengeluarkan uang pribadi. Uang perusahaan tidak cukup untuk membayar hutang tersebut.


Tapi tiba-tiba saja otak Arini berpikir, ia akan menjual beberapa aset perusahaan yang memang bisa di jual dan sebenarnya fungsi dari aset tersebut tidak terlalu di butuhkan. Nanti uangnya akan ia pakai untuk mengganti uang pribadinya tadi.


Konsep dari bisnis begitu, bukan? Tidak mencampur atau menggunakan uang pribadi untuk keperluan bisnis.


Ingatkan Arini untuk ngomel panjang lebar pada Leon!


***


Leon dan David sedang duduk-duduk di pinggir kolam renang. Tentu saja Leon duduk di atas kursi rodanya, sedangkan David duduk di ubin pinggiran kolam renang.


"Mas Leon mau berenang, tidak?" tanya David dengan tampang polosnya.


"Hah?!" Leon terbelalak kaget. Apa David lupa kalau ia ini tengah lumpuh? Ada-ada saja kelakuan perawatnya ini.


David menyengir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Saya jamin Mas Leon akan baik-baik saja," ujarnya yakin.


Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya Leon menyetujui tawaran David tersebut. Toh perawatnya itu memang sangat absurd. Ada-ada saja tingkah di luar nalarnya.


Kali ini Leon menerima ajakan David karena ia percaya pada remaja tersebut. Percaya kalau dirinya akan baik-baik saja.


"Ayo kita berenang sekarang," ujar Leon semangat.

__ADS_1


"Mas Leon setuju?" tanya David tak percaya.


Leon mengangguk yakin.


"Tunggu sebentar, Mas." David lantas berlari masuk ke dalam rumah.


Tak lama perawat Leon itu datang dengan sebuah rompi renang. David sendiri membeli itu kemarin, melalui e-commerce.


Karena kondisi Leon yang tidak memungkinkan, jadi David tidak berani mengajak Leon berenang jika tanpa persiapan yang matang.


Leon memandang takjub pada David. "Kamu sudah persiapkan semua ini?" tanyanya.


"Iya," jawab David sambil memakaikan rompi tersebut pada Leon. "Saat melihat kolam renang yang menganggur, jiwa adrenalin saya langsung memberontak. Saya pingin ngajak Mas Leon untuk berenang."


"Kamu ajaib, deh."


"Hehe... Titisan Gatot Kaca," sahut David sambil terkekeh.


Setelah semuanya siap, David lantas menggendong Leon dan memasukkan majikannya itu ke dalam kolam renang.


"Bbbrrr... Dingin." Leon mengapung di air sambil menahan dingin.


"Awalnya memang dingin, Mas. Tapi nanti lama-lama tidak dingin lagi," ujar David yang berdiri di samping Leon. Ia mengawasi Leon dengan sangat baik, karena ia tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Leon.


Bisa mampus dirinya nanti kalau sampai Leon tenggelam. Pasti Arini dan seisi rumah akan menghukumnya.


Oleh karena itu, David yang sebenarnya ingin berenang, lantas menahan keinginannya itu. Ia hanya jalan-jalan di sekitar Leon saja.


"Bagaimana, Mas?"


"Ini seru, David. Saya bisa mengambang di atas air dalam keadaan kaki dan tubuh lemas seperti ini. Terimakasih sudah memberikan eksperience ini," ujar Leon sambil tertawa bahagia.


David menyiratkan sedikit air ke wajah Leon. Laki-laki itu kaget dan lantas membalas perbuatan Davis tersebut sambil tertawa riang.


Sementara itu, di dalam rumah, Ani dan Wulan saling berpandangan heran.


"David itu ektrem, ya, Lan?" ujar Ani sambil bergidik menatap Wulan.

__ADS_1


"Iya. Tapi biarlah, Bude. Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk membahagiakan orang lain. Tuh lihat, Bapak sebahagia itu bermain air," ujar Wulan sambil menunjuk Leon dan David menggunakan spatula.


Ani mengangguk setuju.


__ADS_2