Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Kecewa


__ADS_3

Setelah berhenti kerja dari perusahaan lamanya, sekarang Becca disibukkan dengan pekerjaan barunya. Yaitu sebagai manajer di salah satu kafe milik ibunya.


Sementara Leon, ia sedang sibuk mengurus perizinan usaha rumah potong hewan. Ia sudah mendapatkan lokasi yang strategis untuk usahanya tersebut. Alat-alat dan tenaga kerja juga sudah ia dapatkan. Tinggal urusan izin usaha saja yang belum selesai.


Memang sih, Leon tidak sendiri dalam hal ini. Ia banyak mendapatkan bantuan dari sang ayah yang kebetulan memiliki relasi yang luas.


"Bagaimana kafe hari ini? Apakah ramai?" tanya Leon melalui sambungan telepon. Sudah empat hari Leon dan Becca tidak bertemu dan hanya berkomunikasi melalui chatting, video call atau telepon saja.


"Cukup ramai. Sekarang aku sedang istirahat makan siang di ruanganku," jawab Becca sambil menyadarkan punggungnya di sandaran kursi karena pegal.


"Jangan lupa jaga kesehatan, Honey. Aku masih ada pekerjaan. Nanti aku telepon lagi. I love you."


"I love you too," balas Becca. Ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja setelah sambungan telepon terputus.


Becca melihat makanan di atas mejanya yang tinggal separo. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sangat kenyang. Ia lalu membuang sisa makanan tersebut ke dalam tong sampah. Daripada dipaksa dan muntah, lebih baik dibuang saja.


Becca meraba perutnya yang semakin membesar. Perkiraan dokter tiga minggu lagi ia akan melahirkan.


Suara pintu di ketuk membuat Becca mengalihkan pandangannya ke pintu. Tak lama seorang karyawan perempuan masuk dan memberitahu kalau di luar ada seorang perempuan yang mencari Becca.


"Siapa? Mama atau Mbak Arini?" tanya Becca. Ya, Arini pernah beberapa kali berkunjung ke kafe Becca atas undangan Becca sendiri. Dan sudah banyak karyawan yang mengenal Arini.


"Bukan, Bu. Ciri-ciri perempuan tersebut sedang hamil," beritahu sang karyawan.


Becca mengerutkan keningnya sejenak. Namun tak lama ia memutuskan untuk menemui sang tamu.


Ternyata tamu yang dimaksud adalah Diana. Perempuan tersebut sedang duduk manis di salah satu meja sambil menunduk dan mengaduk es teh lemon yang ada di atas mejanya.


Becca menghembuskan nafas kasar sambil mencoba menenangkan dirinya sendiri. Jangan marah, Bec. Santai. Ucap Becca dalam hati.


"Ada apa mencariku?" tanya Becca sambil menarik kursi di depan Diana untuk ia duduki.

__ADS_1


Diana mendongakkan kepalanya menatap Becca. Ia tersenyum manis ke arah mantan sahabatnya itu. "Aku hanya rindu pada kebersamaan kita," kata Diana. Ia menyeruput es teh lemonnya sedikit lalu fokus menatap Becca. "Kemana suami kita? Dari kemarin teleponku tidak ditanggapinya."


"Sedang mengurus izin usaha," ucap Becca pelan. Entah mengapa Becca sangat tidak suka saat Diana mengucapkan "sumi kita". Itu sangatlah mengganggu pendengaran Becca.


"Apakah kau sudah tahu kalau suami kita memiliki empat orang istri?" tanya Diana sambil tersenyum manis.


Becca tidak langsung menjawab, ia menatap wajah Diana cukup lama. Mencari kebenaran disana. Apakah yang dikatakan Diana adalah suatu kebenaran atau sebuah omong kosong.


"Sepertinya kau belum tahu," cibir Diana sambil tersenyum miring. "Kasihan sekali kau sebagai istri tidak dianggap." Diana tertawa cukup keras sambil mengelus perutnya yang besar.


Jantung Becca langsung berdetak tak karuan. Pantas saja selama ini ia merasa ada yang tidak beres. Pasalnya selama satu minggu Leon hanya dua hari saja bersamanya dan Arini.


Dan malam tadi Leon tidak bersama Arini karena saat Becca tanya kepada Arini, Arini menjawab kalau ia sedang sendirian. Tadi malam memang Becca mengira kalau Leon bersama Diana. Tapi baru saja Diana mengatakan kalau ia kehilangan kontak dengan Leon sejak kemari. Fix, tadi malam Leon bersama istrinya yang lain.


"Kau tahu artis Caca Calina?" tanya Diana dan tidak direspon apa-apa oleh Becca. "Dia istri ketiga Leon."


Sumpah demi apapun Becca ingin sekali menyumpal mulut Diana agar tidak banyak bicara. Pasalnya perkataan Diana membuat Becca menjadi bad mood.


"Aku banyak pekerjaan," ujar Becca. Ia lalu kembali menuju ruangannya dan meninggalkan Diana begitu saja.


Tanpa berfikir dua kali, Becca langsung menelepon Arini.


"Ada apa, Bec?" tanya Arini setelah sebelumnya mengucapkan salam dan dijawab oleh Becca.


"Mbak Arini kenal Caca Calina?" tanya Becca langsung pada intinya.


"Oh... Artis yang sedang naik daun itu? Iya tahu, ada apa, Bec?" tanya Arini dari seberang sana.


"Mbak Arini tahu kalau dia istri ketiga Leon?" Suara Becca bergetar saat menanyakan itu. Ia ingin sekali menangis, tapi tidak untuk sekarang.


Arini diam saja, ia tidak tahu harus menjawab bagaimana.

__ADS_1


"Mbak Arini tahu?" tanya Becca sekali lagi.


Terdengar hembusan nafas berat dari seberang sana. "Iya, tahu. Tapi tahu sendiri. Bukan Leon yang memberitahu."


Tanpa basa-basi Becca langsung memutuskan sambungan telepon dengan Arini. Dalam hati ia merasa kecewa dengan Arini.


Arini adalah sosok yang sudah dianggapnya sebagai kakak, namun dengan teganya menyembunyikan sebuah fakta dari dirinya.


Becca menelungkupkan wajahnya di meja. Air matanya mengalir deras. Saat ini hatinya benar-benar sakit. Ia kecewa pada semuanya.


Kecewa pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya menikah dengan seorang laki-laki beristri. Kecewa pada Leon yang menikah lagi tanpa sepengetahuannya. Juga pada Arini yang tidak memberitahukan informasi tersebut kepadanya.


Tiba-tiba saja perut Becca terasa sakit. Firasatnya, ia akan melahirkan. Segera Becca memanggil salah seorang karyawannya untuk membawa ia ke rumah sakit.


"Perlu saya hubungin Bapak, Bu?" tawar seoarang karyawan perempuan yang menemani Becca di jok belakang. Sementara seoarang karyawan laki-laki mengendarai mobil Becca.


"Jangan! Kabari Mama saja. Tolong bilang ke Mama supaya merahasiakan ini dari Leon."


Karyawan perempuan tersebut menurut. Ia menelepon Rania dan mengatakan jangan memberitahu hal ini kepada Leon.


Perjalanan menuju rumah sakit cukup drama. Pasalnya Becca yang merasa kesakitan tanpa sadar melukai karyawan perempuannya.


Tangan kanan karyawan tersebut lecet akibat tanpa sengaja terkena kuku Becca yang memang panjang. Sebagai karyawan yang baik dan tahu bahwa bosnya tidak sengaja, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Perempuan tersebut hanya meringis sebentar namun kemudian kembali fokus menenangkan Becca sebisa mungkin.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit. Becca langsung di bawa ke ruang bersalin.


"Becca di mana?" tanya Rania pada kedua karyawannya.


"Ada di dalam, Bu," beritahu salah satu dari mereka.


Rania yang memang sudah panik sejak awal, langsung masuk ke ruang bersalin Becca. Bagaimana Rania tidak panik, Becca mengatakan dia tidak ingin Leon tahu kalau dirinya akan melahirkan. Sebagai orang tua, Rania tahu kalau hubungan anaknya dan menantu sedang tidak baik.

__ADS_1


***


BTW mentemen mau happy ending atau sad ending?


__ADS_2