
Setelah selesai dari coffe shop, Malvin dan Mutiara pulang ke rumah mereka. Sedangkan Leon kembali ke kantornya untuk melanjutkan kerja.
"Yusuf mana, Lan?" tanya Mutiara pada Wulan. Mutiara langsung menanyakan dimana Yusuf karena begitu dirinya sampai rumah, tidak melihat cucu laki-lakinya itu. Yang ada hanya Jasmine saja.
"Lagi di kamar, Oma. Lagi dibacakan dongeng sama Bude Ani," jawab Wulan sopan. "Oma butuh sesuatu?" tanya Wulan begitu melihat kedua orang tua majikannya baru saja pulang dari bepergian. Siapa tahu kedua orang tua tersebut membutuhkan sesuatu.
"Tidak," jawab Mutiara sambil berlalu ke arah dapur.
Sementara itu Malvin juga langsung bergegas meninggalkan ruang tengah dan menuju kamarnya yang ada di lantai tiga.
"Jasmine takut, Aunty," bisik Jasmine saat Kakek dan neneknya sudah berlalu.
Bocah perempuan cilik itu memang sangat takut dengan aura permusuhan yang dikobarkan oleh kedua orang tua ayahnya itu. Meskipun masih kecil, namun Jasmine bisa tahu kalau seseorang tidak menyukainya.
"Sstt... Jangan keras-keras. Aunty juga takut. Tapi percaya sama Aunty, sebenarnya Oma Tiara dan Opa Malvin itu baik," balas Wulan sambil berbisik juga. Karena dirinya takut pembicaraan ini di dengar oleh sang empunya nama.
"Apa iya, Aunty?" tanya Jasmine sambil menatap Wulan lurus.
"Iya. Percaya sama Aunty," sahut Wulan yakin. Dirinya lalu mengalihkannya pembicaraan agar Jasmine tidak membahas hal itu lagi. "Kita lanjut gambar lagi, yuk!" ajaknya.
"Ayuk!" sahut Jasmine bersemangat.
Mereka lalu melanjutkan melukis pantai dengan bukit batu yang tinggi. Lukisan mereka tampak hidup sekali. Terkadang Jasmine membuat kesalahan kecil, namun Wulan bisa memperbaikinya.
Jasmine dan Yusuf memang memiliki kegemaran yang berbeda. Yusuf suka sekali dibacakan dongeng. Sedangkan Jasmine suka sekali dengan melukis dan menggambar.
Sebenarnya Jasmine suka juga dibacakan dongeng, tapi hanya saat dirinya akan tidur saja. Sedangkan Yusuf setiap saat inginnya dibacakan dongeng.
"Aunty, Jasmine mau cerita," ucap Jasmine sambil fokus mewarnai batu. Sedangkan Wulan hanya memberikan arahan dan memperbaiki kesalahan saja.
"Apa? Cerita aja!" sahut Wulan.
"Di sekolah ada Ibu Guru jahat. Namanya Bunda Sinta. Jasmine selalu di bully sama teman-teman karena Bunda Sinta. Kata Bunda Sinta, Jasmine anak tiri, ayah Jasmine banyak istri." Jasmine berbicara sambil fokus pada kertas gambarnya. Mereka menggambar di buku gambar dan mewarnainya menggunakan krayon. Kata Jasmine, dirinya sedang ingin menggambar di buku, bukan melukis di kanvas.
Jasmine memang bukan tipe anak yang suka memendam masalahnya. Dia akan menceritakan setiap masalahnya pada orang yang lebih dewasa. Kecuali ayah dan ibunya. Karena bocah tersebut tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih.
__ADS_1
Wulan tidak langsung menjawab, ia memandang Jasmine cukup lama. Sebenarnya Ani sudah pernah menceritakan hal ini kepadanya. Namun saat ia mendengarkan langsung dari Jasmine, rasanya lebih menyesakkan.
Anak sekecil Jasmine di bully oleh guru dan teman-temannya. Sungguh pendidikan di sekolah Jasmine sangat bobrok sekali. Ingin rasanya Wulan menjadi guru di sana dan memberikan pencerahan kepada anak-anak salah kaprah itu.
Karena sedari tadi tak ada jawaban, Jasmine mendongak dan melihat Wulan yang tengah melamun.
"Aunty... Kenapa Aunty melamun?" Jasmine melambai-lambaikan tangannya di hadapan Wulan.
"Oh, eh. Maaf." Wulan gelagapan karena ketahuan melamun. "Mereka pernah melakukan kekerasan fisik, tidak?" tanya Wulan. Dirinya mengembalikan ke topik semula.
Jasmine menggeleng cepat. "Tidak sih, Aunty. Tapi kuping Jasmine panas dibuatnya," ucap Jasmine sambil kembali melanjutkan mewarnai.
"Kalau tidak pernah main fisik, tahan dulu, ya? Jangan di lawan. Kalau kita diam saja, pasti mereka capek sendiri," kata Wulan sambil mengusap puncak kepala Jasmine dengan sayang.
Wulan sudah menganggap Jasmine sebagai adiknya sendiri. Sebenarnya dia ingin dipanggil "Mbak" saja. Akan tetapi Arini tidak setuju, karena perbedaan usia yang sangat jauh diantara Jasmine dan dirinya. Menurut Arini dan Leon, Jasmine lebih cocok menjadi keponakannya.
"Jasmine tidak boleh melawan?" tanya Jasmine sambil menghentikan kegiatannya sebentar sambil menatap Wulan lekat-lekat.
"Melawan yang paling ampuh, adalah diam. Kalau di ladeni, akan tambah parah." Wulan mencoba menasehati Jasmine supaya tidak salah kaprah seperti teman-temannya.
Ponsel Wulan yang sedang di cas di atas meja kecil di pojok ruangan berdering. Dirinya segera mengambil benda pipih tersebut dan melihat telepon dari siapa. Dan ternyata itu dari Arini.
"Halo, Lan? Jasmine sudah pulang belum?" tanya Arini dari seberang sana. Arini sedang melakukan penerbangan ke luar negeri. Dan sekarang sedang istirahat di kamar hotel.
"Sudah, Bu. Ibu mau bicara?" tanya Wulan sambil melihat Jasmine yang sedang menatap ke arahnya.
"Iya," jawab Arini sambil menguap.
"Mama." Wulan bicara pada Jasmine tanpa suara.
Jasmine lalu mengambil ponsel Wulan kemudian berbicara dengan ibunya. "Halo, Ma. Mama kapan pulang?" tanya Jasmine hendak menangis. Bagaimana tidak ingin menangis? Kalau sekarang dirinya ini sedang takut dengan kakek dan neneknya. Biasanya kalau ada sang ibu, dirinya tidak akan setakut ini.
"Lusa Mama pulang, Nak. Kamu kenapa? Kamu nangis?" tanya Arini saat menyadari suara Jasmine bergetar.
"Jasmine takut sama Oma dan Opa," bisik Jasmine.
__ADS_1
"Jangan takut, ya? Oma dan Opa bukan orang jahat. Sekarang Jasmine sedang apa?" tanya Arini.
"Melukis, Ma. Melukis pantai," beritahu Jasmine dengan girang. "Sekali belajar Jasmine langsung bisa." Jasmine berbicara dengan bangganya. Siapa yang tidak bangga jika pekerjaan yang mereka lakukan berhasil?
"Waahh... Hebat," puji Arini tulus.
"Terimakasih, Ma."
"Ya sudah. Kamu baik-baik di rumah, ya?"
"Iya, Ma."
"I love you, Sayang."
"I love you too, Ma."
Jasmine mengembalikan ponsel Wulan setelah telepon dengan ibunya terputus.
Arini tadi sudah menelepon Ani, dan kata Ani, dirinya sedang berdua saja dengan Yusuf di perpustakaan. Sedangkan Jasmine sedang menggambar di lantai bawah. Oleh karena itu, Arini menelepon Wulan untuk bisa bicara dengan Jasmine.
Sementara itu, tanpa Jasmine dan Wulan sadari. Sedari tadi Malvin mendengarkan semua yang dibicarakan keduanya. Meskipun ada yang tidak jelas beberapa kata. Tapi tetap bisa di mengerti.
Tadi niatnya, Malvin hendak menuju dapur mengambil air mineral. Namun tanpa sengaja dirinya mendengarkan perbicangan samar-samar dari ruang tengah.
Setelah Malvin mendekat, ternyata Jasmine sedang bercerita tentang keresahannya.
Dan di sinilah Malvin sekarang. Meja ruang makan.
Dirinya duduk sambil melamun. Dalam hati Malvin merasa bersalah pada Jasmine. Anak itu tidak salah apa-apa. Tapi mengapa dirinya sangat membencinya?
Sepertinya aku harus segera berdamai dengan keadaan, ucap Malvin dalam hati.
"Opa butuh sesuatu?" Tiba-tiba saja Wulan muncul di dapur diikuti dengan Jasmine di belakangnya.
"Tidak," jawab Malvin singkat.
__ADS_1
Mengetahui kalau majikannya tidak membutuhkan sesuatu, Wulan menunduk hormat lalu berjalan menuju toilet. Dirinya dan Jasmani hendak mencuci tangan yang terkena krayon.