
Rezeki yang Tuhan berikan kepada kita sudah diatur sedemikian rupa. Beberapa waktu yang lalu lagu baru yang dikeluarkan Calina sangat sepi penikmat. Sekarang, setelah beberapa bulan tayang, lagu tersebut barulah menjadi viral.
Tentu saja hal ini membuat Via sangat antusias. Karena job manggung selalu berdatangan tanpa henti.
"Kamu masih kuat, kan? Nanti malam ada acara di TV Cahaya," kata Via sambil membereskan barang-barang Calina.
Saat ini mereka baru saja selesai mengisi acara di sebuah mall.
"Masih, dong," sahut Calina dengan santainya. Baginya ini adalah kesempatan emas untuk menimba uang. Siapa yang tahu karirnya beberapa waktu ke depan masih akan seperti ini atau malah redup digantikan oleh pendatang baru.
"Mau makan dulu?" Via bertanya sambil menatap Calina. Dalam hati ia menginginkan Calina menjawab "iya". Karenanya saat ini perut Via sudah sangat keroncongan.
"Boleh. Restoran Jepang biasa," sahut Calina.
Yang di maksud Restoran Jepang biasa adalah restoran yang ada di mall ini. Calina dan Via memang sering makan di Restoran Jepang yang ada di sini.
Setelah selesai membereskan sesuatunya, Calina dan Via langsung menuju restoran. Adik Via yang bekerja sebagai supir sedang ada perkuliahan, jadi untuk saat ini tidak bisa bekerja.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Selama acara tadi, Via tidak selera makan. Ia memang begitu, tidak selera makan saat melihat Calina masih sibuk bekerja menghibur penonton. Padahal Calinanya sendiri selalu menyempatkan mengunyah makanan saat sedang jeda sebentar. Bisa bahaya kan kalau penyanyinya kelaparan terus pingsan di atas panggung. Bakal heboh nantinya.
"Leon curiga atau tidak?" tanya Via saat mereka sudah sampai di tempat tujuan dan sedang duduk manis menunggu pesanan tiba.
"Soal apa? Kalau ngomong yang jelas," jawab Calina emosi. Bagaimana tidak emosi, Via bertanya tidak jelas sekali. Bagaimana ia bisa menjawab?
"Soal Arjuna yang masih di kampung dan belum pulang sampai saat ini." Via menatap Calina sebentar sebelum akhirnya menatap ponselnya yang ada di atas meja. Ia sedang melihat jadwal Calina untuk hari besok.
"Tidak. Aku ini sangat pandai memberikan keterangan yang logis dan masuk akal," jawab Calina penuh percaya diri.
Obrolan keduanya terjeda sejenak saat sang pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan.
"Memangnya kamu ngasih alasan apa?" Via bertanya. Ia yang memang sudah sangat lapar langsung menyantap sushi yang ada di atas meja.
"Ada deh. Rahasia," jawab Calina. Ia lalu menyantap sushi miliknya.
Via hanya bisa mendengus kesal. Calina memang begitu, sering sekali membuat ia kesal.
***
__ADS_1
Becca tengah duduk sendirian di depan televisi. Acara yang ditayangkan saat ini adalah sebuah talk show malam dengan Calina sebagai bintang tamunya.
Becca memandang Calina dengan takjub, pasalnya istri ke empat Leon itu sangat luwes sekali berada di depan kamera. Dan tadi saat Calina bernyanyi, suaranya sangat merdu.
Tidak dipungkiri kalau Becca pun termasuk penyuka lagu-lagu Calina. Wajar jika lagu-lagunya menjadi viral. Karena memang layak viral.
"Belum tidur, Bu?" Suara Retno dari arah belakang membuat Becca kaget.
"Bude ngagetin saya aja. Saya belum ngantuk. Bude saja duluan yang tidur, saya masih mau nonton," jawab Becca sambil memandang Retno.
Retno hanya mengangguk dan kemudian menuju ke kamarnya.
Becca terus saja menatap layar televisi. Biasanya Becca paling malas menonton televisi, tapi untuk saat ini adalah pengecualian.
Becca bebas menonton sendiri karena saat iniĀ Leon sedang bersama Arini. Kalau ada Leon bukannya tidak bebas, hanya saja ia merasa tidak nyaman menonton Calina jika ditemani suaminya itu.
***
Calina lari terbirit-birit tanpa melihat sekeliling. Hingga tanpa sengaja ia hampir tertabrak sebuah mobil.
Tanpa ba bi bu, Calina langsung masuk ke dalam mobil Leon. "Ayo jalan! Go go!" Calina menyuruh Leon jalan dengan semangat empat lima.
Leon pun menjalankan mobilnya dengan bingung. "Kamu kenapa lari-lari kayak di kejar setan?" tanya Leon bingung.
Memang aku lagi di kejar setan. Setan yang tampak wujud. Kata hati Calina.
"Aku di kejar anjing." Calina berbohong. Ia bukan dikejar anjing, melainkan dikejar si berengsek. Tidak mungkin ia cerita pada Leon. Ada hal yang harus ia simpan rapat-rapat dan jangan sampai orang lain tahu.
Leon memandang kasihan pada Calina, pasalnya saat ini wajah Calina sudah penuh dengan keringat. "Lap, dulu!" Leon menyodorkan kotak tisu pada Calina. Bukannya Leon tidak mau mengelap, tapi saat ini ia sedang menyetir. "Kok bisa di kejar anjing?"
"Dia kira aku bakal ngambil anaknya, padahal aku hanya numpang lewat." Lagi-lagi Calina mengarang bebas dan Leon percaya.
"Sekarang kamu mau ke mana?"
"Ikut kamu aja, deh. Kamu mau ke kantor, kan? Aku sedang suntuk bin gabut. Boleh, kan? Boleh, ya?" Calina merengek seperti anak merengek pada orang tuanya.
Leon mengangguk. "Boleh."
__ADS_1
"Yes!" Calina meninju udara saking bahagianya.
Tak lama mereka sampai di tempat tujuan. Banyak pasang mata melihat heran pada Calina. Mereka bingung, mengapa artis yang sekarang sedang naik daun ini bisa berada di sini.
Pernikahan Calina dan Leon sangat tertutup. Hanya segelintir orang saja yang tahu. Dan karyawan Leon tidak ada yang tahu satupun.
Leon dan Calina melangkah dengan cueknya menuju ruang kerja.
"Selamat siang, Pak." Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Leon menyapanya hormat.
"Siang." Leon menjawab dengan ekspresi datarnya.
"Selamat siang, Mbak Calina." Mereka tak lupa juga menyapa Calina.
"Siang juga. Yang semangat ya kerjanya." Calina berbicara dengan sangat ramah.
Kasak kusuk terus saja terdengar. Namun tidak jelas di telinga Calina dan Leon.
Setelah sampai di ruang kerja Leon, Calina langsung duduk di sofa panjang sambil melepas sepatu runcingnya.
Berlari menggunakan sepatu runcing membuat kakinya lecet.
"Huft, pedih." Calina meringis sambil menyentuh lukanya.
"Kamu luka?" tanya Leon sambil berjongkok di depan Calina. "Tunggu sebentar, aku ambil kotak P3K."
Leon langsung bergegas keluar dan tak lama ia telah kembar lagi dengan kotak P3K di tangan kanannya.
Dengan telaten Leon membersihkan luka Calina menggunakan alkohol, lalu setelah itu memberinya obat merah. Dan terkahir tak lupa luka tersebut ia tutup dengan kain kasa.
"Lain kali hati-hati. Kalau lihat anjing, langsung menyingkir," kata Leon seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya.
"Iya. Sudah kapok, kok," jawab Calina sambil merebahkan tubuhnya di sofa. "Boleh tidur, kan?" tanyanya.
"Boleh," jawab Leon. Ia lalu duduk di meja kerjanya dan tenggelam dalam pekerjaan.
Sementara itu Calina yang tidak benar-benar mengantuk menatap dengan kosong ke langit-langit ruangan.
__ADS_1