Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Lembek


__ADS_3

Leon mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Kau sudah bangun, sayang?" Diana yang sudah bangun lebih dulu tersenyum manis kepada Leon. Ia duduk di sisi ranjang sambil memainkan ponselnya.


Leon diam saja. Tidak berniat menjawab kata-kata Diana sama sekali. Ia masih kesal pada perempuan tersebut.


Perempuan sialan itu telah membuat hubungannya dengan Arini serta Becca renggang. Perempuan tersebut juga yang membuat mood-nya sangat buruk.


"Aku suka permainanmu tadi malam, kau memang luar biasa." Lagi-lagi Diana berbicara entah apa. "Aku semakin ingin berlama-lama denganmu. Bagaimana kalau kita menetap di sini selamanya? Kau setuju?" tanya Diana sambil tersenyum manis ke arah Leon.


"Jangan macam-macam!" kata Leon geram. Leon langsung bangkit dari tidur dan menuju kamar mandi.


Jarum jam sudah menunjukkan angka delapan pagi. Entah mengapa dia bisa kesiangan bangun seperti sekarang ini. Bahkan ia melupakan ibadah shalat subuh.


Leon sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi. Ia berendam air busa hangat untuk mengembalikan kesegarannya.


Leon terkekeh sendiri. Selama ini ia selalu menyalahkan Diana. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Seharusnya yang harus ia lakukan adalah menyalahkan dirinya sendiri.


Salah sendiri tergoda dengan Diana. Salah Leon juga yang memiliki iman lemah sehingga mudah tergoda dengan Diana.


"Harusnya aku menyalahkan diriku sendiri. Bukan malah sibuk menyalahkan orang lain," geram Leon sambil menjambak pelan rambutnya.


"Kau mandi atau bersemedi di dalam sana, eh?" teriak Diana dari luar kamar mandi. Teriakan Diana sangat nyaring sekali. Sehingga membuat Leon menghembuskan nafasnya kasar, karena terganggu dengan suara nyaring tersebut.


"Jangan teriak-teriak, Diana! Kau membuat kepalaku sakit," geram Leon.

__ADS_1


"Apa? Aku tidak mendengarmu, Leon. Cepatlah keluar supaya kita bisa ngobrol banyak," balas Diana sambil mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata terkunci.


Leon tersenyum kecut ke arah pintu yang bergerak. Entah mengapa saat ia ingin tenang, Diana malah mengacaukannya.


Setelah selesai mandi, Leon berniat hendak jalan-jalan sekitar resort. Tapi Diana melarangnya.


Perempuan itu melarang Leon keluar kamar. Seperti beberapa hari yang lalu, ia menahan Leon supaya tetap di dalam kamar. Alasannya ia masih ingin bermanja-manja dengan Leon.


"Percuma saja kita bulan madu kalau ujung-ujungnya hanya diam di dalam kamar saja. Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik kita tetap di rumah saja. Tidak usah kemana-mana," gerutu Leon kesal. Ia menjatuhkan dirinya di atas kasur sambil memainkan rubik pemberian Arini.


Beruntung Leon membawa rubik itu kemana-mana, jadi ia bisa mempunyai hiburan dari benda persegi dan berwarna-warni itu. Ya, Leon memang selalu membawa rubik itu kemana-mana, karena rubik tersebut ia jadikan sebagai gantungan kunci tas pinggangnya.


"Kau bisa bermain rubik? Ah, tunggu! Mengapa rubikmu kecil sekali? Apa matamu tidak sakit melihatnya? Itu sangat kecil dari ukuran biasanya, Leon! Mataku saja sampai sakit melihatnya."


Leon tidak menjawab apa-apa. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada perut Diana yang sedikit membuncit. Diana sungguh benar-benar hamil. Dan Leon gugup untuk menyambut kelahiran bayi dari perut Diana. Itu anaknya atau bukan? Pasalnya saat Leon berhubungan dengan Diana, Diana sudah tidak pera*an lagi. Artinya ada pria lain yang sudah tidur dengannya.


"Mengapa kau kejam sekali pada Becca? Bukankah Becca itu sahabatmu?" tanya Leon tapi matanya tak lepas dari rubik. Sebenarnya Leon tidak bisa bermain rubik, ia hanya iseng saja untuk menghilangkan setres.


"Becca memang sahabatku. Dan aku tidak kejam." Diana menatap Leon sebentar lalu kembali menatap kayar ponsel.


Leon tidak berniat untuk melanjutkan percakapannya dengan Diana lagi. Sepertinya Leon tahu, kalau Diana memiliki gangguan pada otaknya. Ya, mana mungkin kalau orang waras mau melakukan tindakan jahat seperti dirinya.


***


Semenjak Leon menikah dengan Diana, Becca sering mengunjungi Arini ke apartemen pilot cantik tersebut. Baik sekedar untuk silaturahmi atau untuk curhat apa saja.

__ADS_1


Seperti hari ini, sepulang dari kantor, Becca tidak langsung pulang ke rumah. Ia malah melajukan kendaraannya ke apartemen Arini. Dan kebetulan juga Arini sedang tidak ada jadwal terbang.


"Mbak Rini, aku membawakanmu siomay. Apakah kau suka?" tanya Becca sambil menaruh sekotak wadah di atas meja makan.


"Tentu saja aku suka. Aku suka memakan apa saja," kekeh Arini. Ia membuka kotak tersebut dan langsung menyantap isinya.


Becca merasa senang karena makanannya dimakan dengan lahap oleh Arini. Walaupun bukan buatannya, tetap saja ia senang. Karena Arini sekarang sudah sangat hangat kepadanya. Tidak dingin seperti dulu.


"Kau mau makan? Aku membuat nasi goreng seafood," kata Arini menunjuk semangkuk nasi goreng yang ada di atas meja.


"Aku sudah makan, Mbak. Tadi sebelum pulang aku sudah makan di kantor. Kebetulan teman kantorku ada yang ulang tahun, jadi ia mentraktir kami makanan," tolak Becca dengan halus. Ia memang sudah makan. Dan ia mengatakan semuanya dengan jujur. Bahwa ia memang sudah makan dan itu dari traktiran teman kantornya.


Arini mengangguk saja. Ia tidak mau mendebat soal makanan. "Bagaimana kandunganmu?"


"Sehat, Mbak."


"Kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan sampai anakmu terkena imbas darimu. Emm... Maksudku, kau jangan setres, Becca. Jangan terlalu memikirkan Leon," kata Arini sambil menatap ke arah Becca.


Becca mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Aku bahkan sudah berkonsultasi dengan psikolog tentang hal ini," beritahunya.


Arini menghentikan kunyahannya, ia menatap prihatin ke arah Becca. Sungguh malang nasib perempuan itu. Lalu bagaimana jika Becca tahu bahwa sebenarnya istri Leon ada empat, bukan tiga. Arini yakin, pasti Becca akan tambah semakin setres.


"Aku pusing di rumah, Mbak. Mama selalu bertanya kemana perginya Leon? Mengapa tidak pernah pulang? Apakah kami sedang marahan? Aku bingung harus menjawab apa, Mbak. Aku tidak mungkin memberitahu yang sesungguhnya. Aku malu, Mbak." Becca menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Sudahlah, Becca. Jangan kau fikirkan itu terlalu dalam. Nanti sepulangnya Leon dari honey moon, aku akan membicarakan ini padanya. Leon harus tahu kalau dia itu sudah sangat keterlaluan. Tidak bisa adil terhadap istri-istrinya. Dan juga..." Jeda beberapa detik. "Leon terlalu lembek sebagai laki-laki. Harusnya dia bisa dengan tegas bicara pada Diana. Bukannya malah menuruti semua kata-kata Diana." Arini tampak sedikit emosi saat berkata. Tapi ia langsung mengatur nafasnya kembali supaya tidak terlihat seperti menggebu-gebu.

__ADS_1


Sementara itu, Becca hanya mengangguk setuju. Memang Leon sudah bertingkah kelewat batas. Ia terlalu lembek sebagai laki-laki.


__ADS_2