
Becca duduk termenung di atas kursi roda. Pandangannya kosong. Seperti tidak ada gairah untuk hidup. Semenjak kecelakaan itu, Becca memang berubah 180 derajat. Ia menjadi sangat pendiam dan tertutup.
Tak jauh dari tempatnya duduk, ada Jasmine dan Retno yang sedang bermain di ruang keluarga. Bayi tersebut tertawa sangat senang.
Melihat Jasmine yang sedang tertawa bersama Retno membuat hati Becca sakit. Harusnya Jasmine tertawa bersamanya. Harusnya ia bisa menimang-nimang Jasmine dan memberinya ASI.
Harusnya... pelaku tabrak lari tersebut sudah ditemukan dan di jebloskan ke dalam penjara.
Ponsel Becca yang berada di atas meja depan tv berdering. Baru saja Becca hendak mendekat dan mengambilnya, Retno sudah lebih dulu mengambilkan untuknya.
"Ada telepon, Bu," kata Retno sambil memberikan ponsel Becca yang berdering.
"Terimakasih, Bude," ucap Becca pelan. Ia lalu mengamati sebentar ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Dan setelah itu, barulah ia menerima panggilan telepon yang ternyata dari Leon.
"Honey... Aku punya kabar penting," kata Leon setelah Becca mengangkat teleponnya.
"Ada apa?" tanya Becca pelan dan terkesan dingin.
"Pelaku tabrak lari tersebut Diana. Diana pelakunya, honey. Sekarang aku lagi mengumpulkan bukti-bukti dan mencari pengacara..." Leon hendak melanjutkan ucapannya tapi tidak jadi karena mendengar suara benda terjatuh dari seberang sana.
Kabar tersebut sangat mengagetkan Becca, hingga tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Halo... Halo... Honey..." Leon terus memanggil-manggil dari seberang sana. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Becca.
Retno yang sedang mengajak Jasmine bermain dengan sigap langsung mengambil ponsel Becca yang terjatuh dan memberikannya pada Becca.
"Terimakasih, Bude," ucap Becca sambil mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Retno.
"Sama-sama, Bu," jawab Retno sopan. Ia lalu kembali lagi bermain dengan Jasmine dalam jarak yang cukup jauh. Karena ia sadar, tidak baik menguping pembicaraan orang lain.
"Maaf, tadi ponselnya jatuh," kata Becca.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Leon cemas.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," jawab Becca.
"Syukurlah. Nanti aku kabari lagi perkembangan kasus ini. Semoga Diana di hukum seadil-adilnya."
Becca langsung menghembuskan nafas berat setelah sambungan telepon terputus. Ia menaruh ponselnya di pangkuan dengan tangan gemetar.
Becca sungguh tidak menyangka Diana akan berbuat sedemikian kejinya. Pasalnya ia dan Diana bersahabat bukan baru sehari atau dua hari saja, tapi sudah bertahun-tahun.
"Diana...," gumam Becca.
Kau telah membuat aku lumpuh dan Mama meninggal. Kuharap kau akan membusuk di penjara. Ucap Becca dalam hati.
Mungkin sampai kapanpun Becca tidak akan pernah bisa memaafkan Diana. Rania-- salah satu orang yang Becca cintai meninggal akibat perbuatan Diana. Bagaimana Becca bisa memaafkan itu?
Tanpa sadar air mata Becca menetes. Ia rindu akan sosok Rania. Satu yang membuat Becca sedih, ia tidak bisa hadir pada saat pemakaman ibunya.
Dengan cepat Becca menghapus air matanya menggunakan punggung tangan. Beruntung Retno sedang asik dengan Jasmine, sehingga baby sitter tersebut tidak mengetahui kalau Becca baru saja menangis.
Arini dan Calina sudah tahu kalau pelaku tabrak lari tersebut ada Diana. Sehingga sekarang mereka berdua sedang sibuk membantu Leon mengurus segala macamnya.
Mengingat untuk menjebloskan seseorang ke penjara tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, mereka bertiga terus bekerja keras mengumpulkan bukti di bantu dengan seorang pengacara.
"Arjuna tidak kamu ajak?" tanya Leon saat melihat Calina hanya datang sendirian saja. Dia sudah rindu pada anak laki-lakinya itu, pasalnya sudah tiga hari mereka tidak bertemu.
"Tidak. Dia bersama Mama," jawab Calina. Kebetulan sekali ibu Calina baru datang dari luar kota, sehingga ia bisa menitipkan Arjuna pada ibunya. Rasanya tidak nyaman sekali membawa bayi pada pertemuan seperti ini. "Bagaimana bukti-buktinya?" tanya Calina.
"Aman. Semuanya sudah terkumpul," jawab Leon penuh kelegaan.
"Syukurlah, aku sudah tidak sabar ingin melihat Diana membusuk di penjara," geram Calina sambil mengepalkan tangannya karena sangat kesal atas perbuatan Diana. "Oh iya, Arini mana?" tanya Calina sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Arini.
"Sedang di toilet. Sebentar lagi pasti muncul, dia bukan tipe orang yang lama di dalam toilet," jawab Leon.
Baru saja Leon menjawab, Arini sudah muncul.
__ADS_1
"Arjuna tidak ikut?" tanya Arini saat hanya melihat Calina sendirian saja. Ia sangat ingin bertemu dengan bayi laki-laki tersebut.
"Tidak. Dia bersama Mama," jawab Calina.
Arini langsung memasang wajah kecewanya. Namun sedetik kemudian ia menormalkan raut wajahnya. Bukan keputusan yang baik juga membawa Arjuna pada saat sekarang ini.
Mereka bertiga melakukan pertemuan di cafe Becca. Sekaligus Leon mengecek operasional cafe yang sudah cukup lama tidak Becca datangi.
"Sejauh ini bagaimana kondisi Becca? Apakah sudah sedikit membaik?" tanya Calina.
"Masih sama. Belum membaik," jawab Leon sambil menerawang ke langit-langit ruangan. Leon tidak tega melihat kondisi Becca yang seperti ini. Ia lebih memilih Becca yang suka marah dari pada Becca yang suka melamun seperti sekarang ini.
"Bagaimana kalau aku tinggal bersama kalian," tawar Arini. "Sepertinya Becca butuh teman bicara," lanjutnya.
Leon tidak langsung menjawab, ia terdiam cukup lama. Jauh di lubuk hatinya, Leon keberatan jika harus tinggal bersama dua orang istri sekaligus. Bukan apa-apa, Leon hanya tidak ingin membuat salah satu dari mereka harus menahan sakit hati jika tanpa sengaja melihat ia sedang bersama dengan yang lainnya.
"Kau yakin, Rin? Kalau aku sih, sedikit kurang setuju," sahut Calina. "Maksudku, aku hanya tidak ingin kau sakit hati jika melihat Leon sedang bersama Becca, atau sebaliknya."
"Aku tidak akan sakit hati. Percayalah, bentengku sudah sangat kokoh, tidak akan goyah hanya dengan godaan kecil seperti itu," jawab Arini penuh keyakinan.
"Lalu bagaimana dengan Becca? Aku tidak yakin dia akan kuat."
Arini tidak menjawab apa-apa, dalam hati ia membenarkan kata-kata Calina. Dirinya memang kuat, tapi bagaimana dengan Becca? Bagaimana reaksi Becca jika melihat Leon sedang bersama dirinya?
"Leon, menurutmu bagaimana?" tanya Calina yang melihat Leon hanya diam saja dan tak memberikan tanggapan apa-apa.
"Aku masih belum bisa memutuskan sekarang," jawab Leon. Ini perlu diskusi panjang," lanjutnya.
"Bagaimana kalau kita membahas kasus Diana saja. Niat baik Arini tadi kita bahas nanti saja," usul Calina. Karena tujuan awal mereka berkumpul adalah untuk membahas kasus Diana. Jadi Calina hanya mencoba untuk meluruskan ke topik semula.
"Setuju," jawab Arini.
Ketiganya lalu membahas perihal kasus yang menimpa Diana dan Becca. Bukti-bukti 99 persen sudah terkumpul. Saksi pun sudah ada. Harapan mereka bertiga supaya Diana di hukum seadil-adilnya.
__ADS_1