Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Hutang


__ADS_3

Leon mendapatkan sebuah email notifikasi jatuh tempo cicilan hutang dari sebuah Bank. Itu adalah biaya cicilan rumahnya.


Dia frustasi bukan main. Sekarang dirinya sedang tidak ada uang, mau bayar pakai apa?


Leon menaruh  kepalanya dia atas meja. Dia sangat frustasi.


Berkasnya di pengadilan belum ada perkembangan. Satu minggu lagi baru pihak yang berwajib akan memanggil Reza kembali.


"Oke, ini pasti akan segera berakhir." Tiba-tiba saja Leon mendapatkan kekuatan untuk kembali menjadi hidup.


Dirinya lalu bergegas keluar kantor dan menemui salah satu calon client yang akan melakukan kerja sama. Hari ini dirinya memang memiliki jadwal meeting dengan salah satu calon client.


"Aku nggak boleh seperti ini terus. Harus semangat," ujar Leon sambil membetulkan penampilannya.


Sesampainya di tempat yang di janjikan, Leon dan calon client-nya itu bertemu. Mereka membahas berbagai macam hal. Hingga akhirnya calon client-nya itu merasa yakin dan memutuskan untuk berkerja sama dengan perusahaan Leon.


"Syukurlah semuanya berjalan lancar," ucap Leon saat dirinya sudah berada di dalam mobil. Dia baru saja mendapatkan seorang client. Dan sekarang tujuannya adalah kembali ke kantor.


***


Arini sedang mendongengkan anak-anaknya cerita penghantar tidur. Keduanya memang biasa di dongengkan. Kalau belum di dongengkan, mereka belum mau tidur.


"Mau cerita harimau dan kucing, dong, Ma!" Jasmine request cerita apa yang ia inginkan.


"Ya ya ya. Cing dan limau," ujar Yusuf menyetujui kakaknya.


Mereka memang seperti itu. Sering request cerita yang mereka ingin dengar. Jarang sekali mau mendengar cerita yang ada di buku. Padahal mereka memiliki banyak buku.


Tak jarang cerita yang mereka request ada di dalam buku, jadi Arini atau Ani tinggal membaca buku saja.

__ADS_1


Tapi berhubung kisah kucing dan harimau tidak ada di buku dongeng, akhirnya Arini pun mengarang bebas.


"Pada zaman dahulu, kucing dan harimau hidup berdampingan. Harimau dan kucing sama-sama tinggal di pemukiman warga. Mereka sangat rukun dan damai." Arini menjeda sejenak sambil memasangkan selimut pada anak-anaknya.


"Telus, Ma?" Yusuf menginterupsi karena Arini diam sejenak.


"Lalu dewa binatang membuat peraturan, kalau harimu harus tinggal di hutan dan jangan pernah ke perkampungan lagi. Sedangkan kucing tetap di perkampungan dan jangan pernah masuk ke dalam hutan. Mereka hidup damai karena tidak ada yang melanggarnya," tutur Arini.


Tepat saat Arini menyudahi dongengnya, Leon pulang.


"Papa..." Teriak anak-anaknya secara bersamaan. Keduanya lalu bangun dari tempat tidur dan berlari mendekati Leon.


"Kalian belum tidur? Ini sudah malam, loh. Kamu, Jasmine. Besok kamu sekolah," ujar Leon sambil berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan mereka.


Melihat interaksi anak dan ayah tersebut, Arini mengulas senyum kecil. Pasalnya sudah satu bulan lebih Leon selalu pulang larut, dan kalau sudah begitu, tentu saja mereka bertiga tidak pernah bertemu saat malam. Tapi hari ini Leon pulang cepat. Pukul delapan dia sudah pulang.


***


"Apa ini?" tanya Arini sambil menyodorkan laptopnya ke hadapan Leon.


Arini menyodorkan email pemberitahuan telat bayar dari sebuah Bank. Sebenarnya Arini tidak tahu password email Leon. Akan tetapi Leon pernah meminjam laptop Arini untuk membuka email, dan email tersebut belum dikeluarkan oleh Leon.


Begitu mengetahui ada email tersebut, Arini langsung bergegas menuju kantor Leon. Perasaannya tidak enak. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Leon dari dirinya.


"Kenapa bisa sampai telat bayar?" Arini bertanya sambil menatap Leon lekat-lekat. Ia sedang mencari tahu apakah suaminya itu akan memberikan jawaban bohong atau jawaban benar. "Terus ini hutang apa? Kamu punya hutang sebanyak ini untuk apa? Mengapa aku tidak tahu? Aku ini istri kamu atau bukan? Kamu sebenarnya menganggap aku ada atau tidak, sih?"


Leon menunduk sambil meremas jari tangan kirinya yang ada di kolong meja. Dia bingung harus mengatakan semuanya dari mana.


Ini salah Leon juga, karena dirinya tidak memberitahu Arini kalau setengah dari biaya membeli rumah baru adalah hasil dari berhutang.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Aku belum jujur." Leon menjawab sambil menatap Arini. "Rumah baru kita, setengah dari uang-nya adalah hasil meminjam di Bank. Dan keadaan ekonomi kantor sedang buruk. Om Reza korupsi," ujar Leon pelan. Suaranya terdengar frustasi.


Arini memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Bisa-bisanya Leon menyimpan rahasia sebesar itu dari dirinya.


"Maaf, Sayang. Aku tidak sanggup menceritakan ini dari awal, aku tidak mau membuat kamu terbebani."


"Beban kata kamu? Kamu anggap aku apa, sih sebenarnya?" Arini mulai terpancing emosi. Tapi dirinya masih dapat mengendalikan itu dengan baik. Meskipun dia marah, dia tetap tidak berteriak.


"Maaf, Sayang," ucap Leon lirih. Ia merasa bersalah sekali pada istrinya itu.


"Biar aku lunasi semua hutang rumah, kamu fokus saja dengan urusan korupsi. Lagian itu riba, kamu tahu tidak, sih?"


"Bukan riba, Sayang. Ini Bank Syariah. Ini transaksi barang dengan uang, bukan uang dengan uang. Bank tersebut membeli rumah kita, lalu kita akan membayar kekurangan sisa tagihan setiap bulan ke bank. Bukan aku meminjam uang tunai untuk membeli rumah." Leon meluruskan kesalahpahaman sang istri.


Arini dan Leon pernah membaca sebuah artikel tentang riba di internet. Mereka tahu, kalau transaksi antara barang dan uang itu diperbolehkan.


Contohnya: Bank memberikan barang berupa rumah, lalu nasabah akan membayar rumah tersebut secara kredit. Ini adalah transaksi antara barang dengan uang. Bank memberikan barang kepada nasabah, nasabah memberikan uang kepada Bank. Jadi transaksi ini adalah barang dengan uang.


Sedangkan transaksi antara uang dengan uang itu yang tidak diperbolehkan.


Contohnya: Si Fulan meminjam uang di Bank untuk membeli rumah.  Dan setiap bulannya Si Fulan harus membayar hutangnya tersebut sesuai dengan kesepakatan dengan pihak Bank. Maka transaksi ini namanya uang dengan uang.


"Ada lagi yang mau kamu ceritakan ke aku? Jangan sampai aku tahu dengan sendirinya," ujar Arini memecah kesunyian di antara mereka.


"Om Reza korupsi banyak sekali. Termasuk uang gaji karyawan juga dia ambil. Dan aku membayar karyawan dengan berhutang," tutur Leon pelan.


"Itu bukan riba?" Arini bertanya sambil menatap wajah Leon lekat-lekat. Dirinya tahu bagaimana riba itu sangat dilarang. Dan sebisa mungkin ia pasti akan menghindarinya.


"Maaf, Sayang. Aku tidak punya pilihan lain."

__ADS_1


"Ya sudah. Terserah kamu aja. Kalau kamu menganggap aku memang ada, pasti kamu tidak akan melupakan aku dalam hal mengambil tindakan," ucap Arini sinis.


"Maaf, Sayang." Leon hanya bisa menyesali perbuatannya dan terus-terusan mengucapkan maaf.


__ADS_2