Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Uang


__ADS_3

Setelah pertemuan Arini dan Aldi waktu itu, Arini jadi sering mengunjungi ayahnya. Minimal seminggu sekali.


Jika Leon sibuk, maka ia hanya akan datang bersama Jasmine dan Yusuf saja. Tapi jika Leon tidak sibuk, mereka akan datang ber-empat.


Seperti hari ini, Arini dan kedua anaknya sedang berada di rumah Hamdani. Leon sendiri sedang bekerja.


Akhir-akhir ini Leon sangat sibuk sekali. Sering lembur. Bahkan terkadang Sabtu Minggu dia tetap masuk kerja.


"Leon masih sibuk, Rin?" tanya Hamdani saat melihat anak perempuannya hanya datang bersama dua cucunya. Suami dari anaknya tidak ikut serta.


"Iya, Pa. Perusahaan Leon sedang di ambang kebangkrutan. Jadi dia harus bekerja dengan ekstra," ujar Arini. Perempuan itu lalu mencium punggung tangan ayahnya dengan takzim.


Lalu diikuti oleh Jasmine dan Yusuf mencium punggung tangan Hamdani juga.


"Aldi mana, Pa?" tanya Arini saat tak melihat keberadaan adiknya di rumah.


"Pacaran. Biasa, lagi kasmaran dia," kekeh Hamdani sambil mendaratkan bokongnya di sofa tunggal yang ada di ruang keluarga.


Arini dan kedua anaknya juga ikut duduk di sofa tersebut. "Pacar baru, ya?" tanya Arini. Pasalnya sudah hampir satu tahun terakhir ini adiknya itu jomblo.


"Iya. Pramugari di maskapai kamu," jawab Hamdani sambil memangku Yusuf yang tiba-tiba saja berjalan mendekatinya.


"Pacal itu apa, Ma?" tanya Yusuf dengan polosnya.


Sontak saja Arini dan Hamdani saling berpandangan dan tertawa sambil geleng-geleng kepala.


Mereka baru menyadari satu hal, jangan bicara sembarangan di depan anak-anak. Rasa ingin tahu mereka tinggi.


"Nanti kalau Yusuf sudah besar tahu sendiri." Hamdani yang menjawab. Laki-laki paruh baya tersebut mencium pipi tembam sang cucu yang ada di pangkuannya.


***


Waktu terus berlalu. Saat ini Leon di pusingkan oleh angsuran di bank. Pasalnya kemarin adalah jatuh temponya, tapi dia belum juga membayar.


Bukan Leon tidak mau membayar hutang, tapi penjualan bulan ini jelek sekali. Ditambah lagi, sapi milik perusahaan mati dua ekor.


Sepertinya Leon benar-benar sedang diuji oleh Tuhan. Kalau dulu hidupnya enak dan bisa berfoya-foya dengan banyak perempuan. Sekarang ia sedang kesusahan.


Leon mengacak rambutnya frustasi. E-mail jatuh tempo dari bank masih terpampang di komputer meja kerjanya. Leon menatap layar komputer sambil terus berfikir.


"Bagaimana cara membayarnya?" gumam Leon nyaris tanpa suara.

__ADS_1


Sebenarnya kalau membayar setengah, uang perusahaan masih bisa di pakai. Tapi kalau full, uang perusahaan tidak cukup. Ini Bank, bukan rentenir. Jadi tidak bisa di cicil.


Sedangkan untuk uang pribadi? Ah, Leon mana punya. Dia sudah tidak memiliki uang pribadi lagi. Semenjak uang perusahaan di korupsi Reza, pendapatan Leon setiap bulannya hanya sedikit. Dan itu hanya habis untuk beli bensin dan kuota internet.


Sedangkan untuk tabungan masa lalunya, sudah ia pakai untuk membeli rumah. Sekarang ia benar-benar tidak punya uang lagi. Untuk belanja keperluan pokok saja pakai uang Arini.


Rasanya Leon malu sekali. Jadi suami tapi tidak berguna. Barang memberi nafkah saja tidak mampu.


Selain itu, biaya untuk membayar pengacara bukanlah murah. Dan jika ia tidak menyewa pengacara, alangkah enaknya nasib Reza.


"Ah, sepertinya telat satu bulan tidak masalah," gumam Leon.


Pasalnya dulu ia pernah menunggak angsuran selama satu bulan. Dan pihak Bank bisa memaafkan hal itu. Tapi memang sih, itu di Bank yang berbeda. Bukan Bank yang sekarang ini Leon pinjami uang.


***


Leon duduk termenung di meja makan. Seperti biasa, menu meja makan masih enak. Ada sayur, lauk dan buah-buahan.


Rasanya Leon malu untuk menyantap semua ini. Ini semua dibeli menggunakan uang Arini.


"Hei. Makan! Kok malah ngelamun!" Arini melambaikan tangannya di depan wajah sang suami.


"Ah. Anu, apa, Sayang?" Leon tergagap.


Dengan canggung, Leon memakan sarapannya.


"Kenapa, Pa? Tidak enak, ya?" tanya Jasmine dengan ekspresi polosnya.


"Enak, kok. Ini kan makanan kesukaan Papa," jawab Leon sambil tersenyum getir.


"Kalau enak makannya yang semangat, dong, Pa. Jangan lemes seperti itu," protes Jasmine.


Leon hanya menyengir dan mengangguk saja.


Sementara itu, Arini yang duduk di sebelah Jasmine, mengusap puncak kepala gadis ciliknya itu dengan gemas.


Dulu Becca ngidam apa, sih? Kok anaknya bisa sepintar ini, batin Arini takjub.


"Au sayul lagi, Pa?!" rengek Yusuf yang duduk di sebelah Leon.


"Anak Papa mau sayur lagi, ya?" Leon lalu menambahkan sayur ke dalam piring Yusuf.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sih? Kalau ada apa-apa, hilang sama aku," ujar Arini karena melihat Leon yang tidak seperti biasanya.


"Ak-akku. Aku baik-baik saja, Sayang. Ayolah, aku hanya sedikit ngantuk," ujar Leon sambil cengar-cengir tidak jelas.


Arini mengerutkan keningnya samar. Dari cara bicara yang gagap, sepertinya memang ada yang di sembunyikan Leon.


Tapi berhubung di meja makan ini ada anak-anak, Arini hanya diam saja sambil melanjutkan makan.


***


Leon sedang terjebak di kemacetan. Di depan ada kecelakaan, sehingga jalanan macet panjang. Tanpa sengaja, pandangannya menangkap Reza jalan sendirian di zebra cross.


"Kok jalan kaki?" gumam Leon. "Apa aku salah lihat, ya?"


Leon pun langsung bergegas keluar dari mobil dan mengejar Reza.


"Tunggu, Om!"


Reza menoleh dengan satu alis terangkat. "Ada apa?" tanyanya datar. Tidak ada rasa bersalah sama sekali.


Wajah Leon menegang. Ia mengepalkan tangannya geram. Kurang ajar sekali laki-laki ini. Korupsi sebegitu banyak tapi tidak ada rasa bersalah sama sekali.


Tapi berhubung Leon masih bisa mengendalikan emosinya, ia lantas merubah raut wajahnya menjadi lebih ramah.


"Om mau kemana?" tanya Leon.


"Sana!" Reza menunjuk sebuah restoran mewah yang tak jauh dari lokasi macet.


"Mau ngapain?"


"Ya makan, lah! Masa ke restoran mau infus whitening," jawab Reza sinis.


Tiba-tiba saja mulut Leon seperti lengket dan tak bisa berkata apa-apa. Saking shock-nya Leon, ia sampai mematung beberapa saat.


Bagaimana tidak shock, orang yang berdiri di depan Leon ini membawa kabur uang perusahaan dan tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan ia masih sempat berfoya-foya.


Karena Leon hanya diam saja, akhirnya Reza kembali melanjutkan perjalanannya.


Leon disadarkan dengan bunyi klakson yang bersahutan. Ternyata kendaraan sudah bisa kembali melaju. Dengan cepat Leon bergegas masuk ke dalam mobilnya.


Sesampainya di dalam mobil, Leon melajukan mobilnya dengan tangan bergetar karena menahan emosi.

__ADS_1


Karena tidak ingin mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, Leon menepikan mobilnya di tempat yang tidak dilarang parkir. Setelah dirinya cukup baik, barulah ia kembali melanjutkan perjalanan.


__ADS_2