Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
Arini Hamil


__ADS_3

Beberapa hari terakhir, Arini merasa kondisi tubuhnya lemah. Ia sering pusing dan lemas. Karena Arini adalah seorang pilot, maka ia tidak seperti orang lainnya yang mengabaikan kondisi tubuhnya tersebut.


Begitu merasa tubuhnya sedikit aneh, ia langsung memeriksakan dirinya ke dokter. Kalau ia sampai sakit, mana bisa ia kerja. Kalau ia tidak kerja, dirinya juga yang rugi.


Hari ini Arini memeriksakan dirinya sendiri. Leon sedang bekerja, Becca, Retno dan Jasmine sedang berziarah ke makam Rania.


Klinik yang ia datangi terbilang sepi, hanya ada enam orang saja. Mungkin karena masih terlalu pagi. Baru setengah delapan. Arini adalah orang yang antri urutan ke enam.


Sambil menunggu Arini memainkan ponselnya. Ia menggambar di sana. Beberapa hari terakhir ini Arini sedang hobi menggambar, ia mendownload aplikasi menggambar di ponselnya. Ya, meskipun gambarnya tidak bagus. Tapi namanya juga hiburan, tidak apa-apa, kan?


"Nyonya Arini..." Seorang perawat memanggil nama Arini. Sontak saja ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu bergegas masuk ke ruangan dokter.


Di ruangan tersebut ia menceritakan semua keluhannya dengan rinci. Lalu setelah menganalisa dan memeriksa, sang dokter perempuan berkepala tiga tersebut memberikan kabar yang membuat Arini ingin salto karena saking bahagianya.


"Kondisi seperti ini lumrah pada masa kehamilan muda. Ibu tidak perlu cem..."


Belum selesai sang dokter berkata, Arini tanpa sadar memotongnya. "Say... Saya... Ham... il, dok?" tanyanya terbata-bata. Menyadari kesalahannya, ia langsung menenangkan diri dan berkata, "Maaf, saya tidak bermaksud memotong kata-kata dokter. Saya tidak sengaja," lirihnya.


Arini si kalem kalau sedang bahagia seperti ini bisa juga sembrono. Padahal di kehidupan normalnya ia selalu tenang dan bersikap hati-hati. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.


Sang dokter yang sepertinya mengerti perasaan Arini mengangguk dan tersenyum ramah. "Tidak apa-apa," katanya. "Selamat atas kehamilan ibu."


"Terimakasih, dok," jawab Arini sambil tersenyum ramah.


***

__ADS_1


Arini sengaja tidak ingin memberitahukan berita bahagianya sekarang ini. Ia akan menunggu Leon pulang dan mengatakannya secara langsung. Namun karena malam ini Leon akan pulang ke rumah Calina, dengan bersabar ria Arini menunggu sampai hari esok.


Sepanjang malam ia tidak bisa tidur karena euforia terlalu bahagia. Perasaan seperti ini pernah ia rasakan dua tahun yang lalu. Yang mana pada saat itu adalah kehamilan pertamanya, namun pada saat itu Tuhan berkehendak lain. Ia keguguran.


Dan kehamilan saat ini sangatlah berbeda, karena ia merasakan betul mukjizat Tuhan. Kalau di pikir-pikir, mana bisa seseorang yang sudah tidak memiliki rahim bisa hamil kembali. Mana ada rahim tumbuh dua kali. Ya memang, otak kita tidak akan mempu berpikir sejauh itu.


***


Arini duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Ia sengaja menunggu Leon pulang dan memberikan kabar baik tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Becca, Jasmine dan Retno sudah berada di kamarnya masing-masing.


"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Leon saat ia baru sampai dan melihat Arini duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel.


"Sengaja nunggu kamu," jawab Arini sambil tersenyum misterius. Ia sengaja ingin membuat Leon penasaran.


"Jangan buat aku penasaran, please! Ayo ngomong!" Leon yang terpancing akan trik Arini merasa penasaran bukan main. Ia lalu duduk di sebelah Arini sambil menatap istrinya itu lekat-lekat.


Memang yang ada di otak Leon selalu saja pikiran buruk. Semenjak memiliki banyak istri ia selalu berpikiran buruk. Cemas. Dan ketakutan. Takut akan diceraikan. Ia tidak siap untuk hal itu. Ia masih sangat mencintai Arini. Sangat!


"Kita ngobrol di kamar saja!" Arini lalu menuju kamarnya terlebih dahulu, dan disusul Leon dibelakangnya.


"Ada apa, sih? Aku penasaran, loh," kata Leon saat mereka sudah berada di kamar. Keduanya duduk di sisi ranjang bersebelahan.


Arini lalu mengambil test pack dari dalam laci lalu diberikannya pada Leon. Ia merasa tidak bisa merangkai kata jika harus bicara secara langsung. Akhirnya tadi pagi ia melakukan test pack.


Leon mengambil benda tersebut dengan tangan gemetar. Ia terlampau bahagia. Bagaimana tidak, ia akan memiliki anak ke tiga. Itu sangat membahagiakan.

__ADS_1


Tanpa sepatah katapun, Leon langsung memeluk Arini erat. Tak perlulah disampaikan dengan kata-kata, tindakan saja sudah cukup, bukan?


Reaksi Leon yang seperti ini menandakan ia terlampau bahagia sehingga kehilangan kata-kata.


"Kamu menangis?" Arini mengelap air mata yang mengalir di pipi Leon. Selama bertahun-tahun menjalani rumah tangga dengan Leon, jarang sekali Arini mendapati Leon menangis. Kalau tidak terlampau sedih, ya terlampau bahagia seperti sekarang ini.


"Aku menangis bahagia," jawab Leon. Ia menggenggam tangan Arini erat. "Kapan kita akan mengumumkan pada anggota keluarga? Orang tua kita harus tahu kabar ini."


Arini mengangguk. "Mama dan Papa masih di luar negeri. Kita kabari lewat video call saja. Kalau Papaku, kita datangi ke rumahnya. Sudah lama juga kan kita tidak berkunjung ke rumah Papa," kata Arini.


"Iya, aku setuju. Kalau Becca dan Calina? Mereka harus tahu juga atau tidak?"


"Memangnya kita bisa menyembunyikan perut besar dari mereka?" Arini bertanya sambil terkekeh.


Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah, nanti saja kita pikirkan lagi soal ini. Sekarang apa rencana kamu?"


"Rencana apa?" tanya Arini bingung.


"Pekerjaan kamu. Mau cuti atau tidak?" Leon menjelaskan maksud dari pertanyaannya. Jujur saja dalam hatinya ia mau agar Arini cuti saja. Supaya lebih fokus pada calon bayinya. Namun semua itu terserah pada Arini saja, jika Arini tetap ingin bekerja, Leon tidak akan melarang.


"Aku mau cuti. Tapi nanti, kalau usia kandunganku sudah tua. Sekarang aku masih merasa sehat, tidak ada masalah apapun pada tubuhku." Arini menjawab dengan tegas. Ya, ia memang merasa sehat. Memang ada pusing dan mual sedikit, tapi itu tidak berlangsung lama. Dan sepertinya tidak ada masalah dengan itu. Ia merasa masih mampu bekerja. Kalau di rumah saja dan tidak melakukan aktivitas apa-apa, bisa membuat Arini gila. Dan mungkin bisa juga menyusul Diana.


"Apapun keputusan kamu, aku akan mendukung," kata Leon sambil memeluk Arini dari samping. Leon yakin, keputusan yang Arini buat sudah ia pertimbangakan matang-matang.


"Ngomong-ngomong, kamu bau, loh! Mandi sana!" Arini yang tersadar langsung mendorong Leon pelan. "Sana mandi!" usirnya sambil mengibaskan tangan. Sebenarnya tidak benar-benar bau. Ya baulah, tapi sedikit. Namun itu hal yang wajar, karena suaminya itu mandi sudah sejak tadi pagi.

__ADS_1


"Baik, Tuan Putri. Laksanakan!" Leon langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi saat melihat Arini melotot.


__ADS_2