Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Sinta dkk


__ADS_3

Sinta, Yuna dan Femi sedang kumpul bertiga di sebuah restoran. Ketiganya memang sering menghabiskan waktu bersama. Mereka sudah bersahabat lama sekali, jauh sebelum mereka menikah. Jadi masing-masing dari mereka sudah khatam dengan sifat baik dan buruk satu sama lain.


"Aku di pecat gara-gara Leon dan Arini. Kurang ajar sekali mereka," gerutu Sinta sambil memotong daging steak miliknya.


Sebenarnya kemarin saat Leon dan Arini mendatanginya, hanya ada dia sendiri di kantor. Namun tanpa sepengetahuan Sinta, mertuanya sekaligus pemilik sekolah mendengarkan itu semua dari awal hingga akhir.


Mertuanya yang ingin mengecek keadaan sekolah malah tanpa sengaja mendengar protes wali murid tentang pembulian. Dan parahnya, pembulian itu bersumber dari Sinta. Tamatlah riwayat Sinta.


Akhirnya mertua Sinta tersebut mengambil tindakan memecat Sinta si biang masalah.


"Bukannya bagus, ya? Kan memang kamu sudah malas jadi guru," sahut Femi santai. Ia menggoyang-goyangkan anggur yang ada di dalam gelas.


"Iya, Sin. Kan kamu sering uring-uringan gara mau resign tapi tidak pernah di kasih izin untuk berhenti," timpal Yuna sambil menggigit daging steak miliknya.


Sinta mendengus kesal. "Kalian ini dungu atau bagaimana? Aku ini di pecat dengan cara tidak hormat. Aihh... Mau di kemanakan mukaku ini?" gerutu Sinta.


Femi tersenyum miring. "Santai sajalah, Sin. Yang penting sekarang kamu sudah bebas jadi guru sialan itu. Kamu sudah tidak perlu pasang topeng manis untuk anak-anak menyebalkan itu."


"Iya juga, ya? Kenapa aku harus galau, coba?" Sinta tertawa pelan. Ia lalu memakan steak-nya yang sudah terpotong kecil-kecil.


"Tapi ngomong-ngomong mertua kamu gimana, Sin?" tanya Yuna. "Emm... Kamu tidak di musuhi, kan?" Lanjutnya lagi.


Sinta menggeleng. "Aman. Suamiku selalu membela aku," ujar Sinta dengan sombongnya.


Suami Sinta ini cinta mati dengan Sinta. Apapun keputusan dan pilihan Sinta, selalu di dukung. Jika Sinta melakukan kesalahan, dia selalu memaafkan. Istilah jaman sekarang sih, bucin.


"Oh, iya? Aku pernah tidak sengaja ketemu Arini dan Leon di restoran. Saking penasarannya aku, sampai aku buntutin mereka. Ternyata benar, mereka pindah ke rumah yang lebih luas. Mereka tidak bangkrut," ujar Yuna dengan mulut penuh makanan.


"Is, jijik, Yun! Kalau mau ngomong itu di telan, dulu!" omel Femi.


Yuna hanya meringis malu.


"Jadi mereka tidak bangkrut?" tanya Sinta.


"Tidak," jawab Yuna.


"Heh, kalian ini! Biarkan sajalah Arini dan Leon itu. Itu bukan urusan kita. Yang penting sekarang kita bersenang-senang. Siap bersenang-senang, girl?" Femi mengangkat gelas anggurnya.

__ADS_1


Sinta dan Yuna lantas mengangkat gelas anggur mereka juga. Mereka bersulang bertiga. Merayakan kebebasan Sinta. Kebebasan karena sudah tidak bekerja sebagai guru lagi.


"Ternyata begini rasanya bebas. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Arini dan Leon yang telah membantu aku untuk bebas," gumam Sinta sambil menuangkan anggur ke gelas mereka bertiga.


"Ya. Bila perlu kau kirim bingkisan terimakasih," kekeh Femi dan disahuti dengan kekehan heboh oleh Yuna.


Sinta mendengus pelan, sepertinya teman-temannya ini sudah mulai mabuk. Tertawa tidak jelas.


***


Wulan dan Jasmine sedang jalan berdua di mall. Keduanya sedang membeli peralatan untuk melukis.


Kemarin Jasmine sudah mulai kursus melukis. Dan karena peralatan bocah cilik tersebut tidak lengkap. Jadi sekarang dia belanja kekurangan peralatannya.


Ibu dan ayahnya sedang bekerja. Sementara adiknya ada di rumah bersama Ani.


"Aunty, Jasmine mau main itu, boleh tidak?" Jasmine menunjuk mobil-mobilan khusus anak-anak.


Wulan mengangguk. "Boleh. Jasmine mau naik itu?"


"Iya."


Dan sekarang di sinilah Jasmine. Bermain mobil-mobilan dengan beberapa anak kecil lainnya.


Setelah puas, Jasmine lantas mengajak Wulan untuk membeli jus. Tenggorokan bocah cilik tersebut haus.


"Tidak mau minum air putih saja?" tanya Wulan.


Jasmine menggelengkan kuat-kuat. "Mau jus, Aunty," rengeknya.


Wulan lalu mengajak Jasmine mendekati penjual jus yang ada di dalam mall. Keduanya membeli jus alpukat.


"Enak," ujar Jasmine sambil terus menyedot jus-nya.


Tak butuh waktu lama, jus Jasmine sudah habis. Padahal punya Wulan masih ada setengah. Akhirnya Wulan pun menyedot jus-nya dengan cepat.


Setelah menghabiskan satu gelas jus, keduanya jalan-jalan di pelataran sekolah.

__ADS_1


"Jasmine mau beli buku dongeng untuk Yusuf," ujar Jasmine sambil membolak-balik buku yang ada di depannya.


Jasmani sudah bisa membaca, loh. Ya, walaupun belum terlalu lancar. Tapi setidaknya ia sudah bisa membaca.


Akhirnya pilihan Jasmine jatuh pada sebuah buku dongeng Bahasa Inggris. Walaupun dia tidak bisa Bahasa Inggris, tapi kan ibunya bisa. Jadi biar ibunya nanti yang akan membacakan buku tersebut untuk dirinya dan juga Yusuf.


Setelah membeli beberapa buku dan peralatan melukis, keduanya pulang ke rumah.


***


Saat ingin pulang ke rumah, Arini tak sengaja bertemu dengan Aldi-- adiknya yang juga berprofesi sebagai pilot.


"Sudah lama tidak jenguk Papa di rumah," ujar Aldi sinis.


Arini menghembusnya nafasnya pelan. Entah mengapa Aldi ini sering sekali mengajak ribut dengan dirinya. Padahal dia ini capek. Ingin istirahat. Tapi malah di ajak ribut oleh adiknya sendiri.


"Sibuk banget, ya?" tanya Aldi dengan alis yang naik satu.


"Setiap hari aku chatting-an dengan Papa. Papa juga sering pergi daki gunung. Jadi kamu jangan coba-coba cari masalah, Al," kata Arini dengan nada rendah.


Kalau Aldi sedang kesal, maka jalan satu-satunya adalah mengalah. Jika Arini ikut bicara sinis juga, maka permasalahan tidak akan pernah selesai.


Keduanya jalan bersisian menuju parkiran. Dengan masing-masing koper kecil di tangan kanan mereka.


"Chat saja tidak cukup. Kalau sempat, pulanglah ke rumah. Papa kesepian," kata Aldi pelan. Terbukti, setelah Arini menurunkan egonya, Aldi jadi melunak.


"Iya, aku salah," gumam Arini.


"Kalau merasa bersalah, cepatlah pulang. Kasihan Papa. Kita cuma punya Papa, kalau Papa sudah tidak ada, baru menyesal nanti," kata Aldi datar.


Adik Arini itu lalu jalan duluan. Mendahului kakaknya yang berjalan lambat.


Arini menghembuskan nafasnya pelan. Sepertinya Aldi ada benarnya juga. Papanya sekarang sudah pensiun. Mungkin salah satu cara untuk menghilangkan rasa sepi adalah mendaki gunung.


Arini sudah jarang pulang ke rumah orang tuanya itu. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Masih dalam satu kota.


Arini terdiam di tempat. Ia tak bergeming selama beberapa detik.

__ADS_1


"Mengapa aku setega ini dengan Papa? Sekarang aku hanya punya Papa. Mama sudah tidak ada. Tapi aku malah tega sama Papa. Maafkan Rini, Pa," gumam Arini.


Arini lalu melanjutkan lagi langkahnya. Secepatnya ia akan mengajak Leon dan anak-anaknya ke rumah ayahnya.


__ADS_2