
"Aku akan menggugatmu di pengadilan karena tidak memberikan hak kepadaku untuk bertemu dengan Juna!" Frans bicara santai namun ia menyunggingkan sebuah senyum miring. Ia menatap Calina yang sedang berdiri di depannya.
Calina memejamkan matanya sebentar karena merasa pusing. Belum selesai urusan perceraian dirinya dengan Leon, sudah mau digugat Frans. Malang sekali nasibnya ini.
"Baiklah. Aku akan memberikan hakmu. Tapi ingat! Jangan macam-macam! Kau hanya boleh bertemu, tidak untuk tinggal bersama!" kata Calina pada akhirnya. Sepertinya ia memang harus menyerah, supaya Frans tidak melakukan hal yang tidak-tidak.
Jika Frans nekat menggugatnya di pengadilan lalu banyak media yang tahu, bisa hancur karirnya. Ia pasti akan di hujat satu negara karena telah hamil di luar nikah dan menikah dengan orang yang bukan ayah dari si anak.
"Oke aku setuju. Sekarang bawa aku bertemu Juna!"
"Apa kau tidak lihat? Aku sedang kerja!" Calina bicara dengan penuh emosi. Pasalnya sekarang ini ia sedang mengisi acara di sebuah pernikahan politikus.
"Oke baik. Sekarang pergilah ke panggung lagi!" Frans mendorong Calina pelan.
Calina Sendiri hanya bisa mengumpat dalam hati mendapat perlakuan seperti itu dari Frans. Frans sendiri adalah seorang politikus juga. Dan yang punya hajat saat ini adalah sahabatnya, wajar jika ia bisa sampai sini.
***
Calina duduk di sofa tunggal sambil melihat Frans memeluk Arjuna dengan sayang. Andaikan laki-laki itu dulu tidak meninggalkannya saat sedang hamil, mungkin saat ini mereka sudah hidup bahagia.
"Aku mau tanya," kata Calina tanpa melihat Leon. Ia menatap ke arah kukunya yang berwarna-warni. "Mengapa kau dulu meninggalkanku saat hamil, lalu mengapa juga saat ini kau datang lagi? Apa belum puas membuat hidupku menderita?" Calina bicara dengan frustasi. Matanya sudah panas. Ia ingin menangis, tapi ia tahan.
Frans menatap Calina cukup lama. "Seperti yang sudah pernah kukatakan, waktu itu aku menjalani hubungan denganmu hanya untuk main-main saja. Bukan untuk serius. Aku tahu dulu aku salah. Oleh karena itu, sekarang aku ingin memperbaiki kesalahanku. Tapi kau jangan GR, aku hanya ingin dekat dengan anakku. Tidak dengan kau. Kalau kau ingin hidup bahagia bersama Leon, aku tidak akan mengganggumu," kata Frans dengan santai.
Calina diam saja dan tak menjawab apa-apa. Tapi dalam hatinya ia bersyukur, karena Frans hanya ingin bersama dengan Arjuna saja, tidak dengan dirinya.
__ADS_1
Karena bagi Calina, yang sudah lalu biarlah berlalu. Baginya hubungan ia dan Frans sudah selesai. Jadi jika Frans bicara seperti tadi, tidak ada lagi yang Calina takutkan.
"Aku sadar aku tidak bisa merawat anak. Oleh karena itu aku percayakan Juna padamu. Lagian dia masih minum ASI. Tapi nanti jika dia sudah sekolah, bolehkah sekali-kali menginap di rumahku?" Frans menatap Calina dengan tatapan memohonkan.
"Aku setuju," kata Calina tanpa berpikir panjang.
Calina hanya mengawasi Arjuna saja, hari ini biarlah menjadi harinya Frans dan Arjuna. Biarlah ayah dan anak biologis itu melepas kangen.
Ternyata Frans tidaklah terlalu buruk. Ya, walaupun ia kejam. Hanya menganggap Calina sebagai mesin pembuat anak. Dan tidak pernah menghargai Calina. Tapi Calina mencoba sabar untuk itu.
Aku baik-baik saja. Kata Calina dalam hati.
"Apakah Leon menyayangi Juna?" tanya Frans sambil menatap Calina.
"Baguslah. Tapi ngomong-ngomong, apa dia tahu kalau Juna bukan anaknya?" Frans masih ingin mengorek informasi dari Calina. Biar bagaimanapun juga, Frans hanya ingin melihat anaknya bersama orang yang tepat. Maksudkunya, orang yang mencintai Arjuna dengan sepenuh hatinya.
"Tahu." Calina masih terus berbicara pendek. Supaya Frans tidak curiga, ia sambil memainkan ponselnya. Supaya terlihat seperti orang sibuk, padahal yang ia lakukan hanyalah melihat-lihat galeri foto.
"Itu bagus sekali. Dia sudah tahu kenyataannya tapi masih tetap sayang pada anakku. Luar biasa."
***
Pulang dari kerja ini Leon sengaja menemui Calina di apartemennya. Namun sayang, Calina tidak ada di sana. Leon mengirim chat juga tidak pernah ada yang di balas satupun.
Leon masih ingin mempertahankan rumah tangganya. Tapi jika yang berjuang hanya dirinya sendiri, dan Calina sudah tidak mau lagi, ia bisa apa?
__ADS_1
"Apa mungkin berpisah adalah cara terbaik?" Leon bermonolog di dalam mobil. Tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah. Ada Arini dan Jasmine yang menunggu di rumah.
Tiga hari terhitung sejak telepon malam itu, Calina benar-benar menghindari Leon. Ia benar-benar tidak mau lagi berhubungan dengan Leon.
***
Dihadapan Leon, Arini masih berpura-pura tidak tahu kalau dirinya sudah tahu permasalahan Leon dan Calina.
"Hai. Sudah pulang?" tanya Arini tak percaya. Pasalnya sekarang ini baru pukul empat sore. Bukan jam-nya Leon pulang kerja. Karena biasanya Leon selalu pulang kerja pada saat mendekati tengah malam. Tapi dua hati terakhir ini selalu pulang cepat. Ada apakah gerangan? Apakah masalahnya dengan Calina semakin genting?
Arini tahu, Leon adalah tipe orang yang jika punya masalahnya tidak akan bisa fokus bekerja.
"Iya. Aku mau istirahat, Sayang. Capek sekali. Aku ke kamar dulu, ya? Kamu main lagi saja dengan Jasmine," ucap Leon sambil mencium pipi Jasmine yang sedang bermain mobil-mobilan bersama Arini. Ia lalu bergegas menuju kamar.
Arini hanya bisa mengangguk. Kalau melihat Leon yang selalu seperti ini, Arini menjadi tidak tega. Leon selalu murung dan sering mengurung diri dengan alasan ingin istirahat.
Dengan penuh keberanian ekstra, Arini menghampiri Leon di kamar. Sesampainya di sana ia menemukan Leon yang sedang duduk termenung di depan meja rias.
"Leon..." Arini memanggil Leon pelan. "Aku ini istrimu, aku tidak tega melihat kamu seperti ini terus. Sebenarnya apa yang terjadi?" Arini duduk di sisi ranjang.
"Apakah aku salah jika ingin menyelamatkan rumah tanggaku? Beberapa hari ini aku selalu berusaha menghubungi Calina, bahkan datang ke apartemennya, tapi ia selalu menghindar. Mungkin ia sudah pindah apartemen demi bisa menghindariku. Ia benar-benar ingin minta cerai. Apa yang harus aku lakukan, Rin? Menuruti Calina, kah? Tapi jikapun iya, aku ingin bertemu dulu dengannya. Selesaikan semua yang sudah dimulai dengan cara baik-baik, bukan kabur-kaburan seperti ini." Leon bicara panjang sekali. Ia telah memutar kursinya dan sekarang menatap Arini yang duduk di tepi ranjang.
"Aku akan membantumu. Aku akan menghubungi Calina," janji Arini.
"Terimakasih, Rin." Leon mengucapkan itu dengan pelan sekali, nyaris seperti bisikan.
__ADS_1