
Sepanjang jalan bahkan ketika sudah sampai rumah pun Mutiara masih saja mengomel. Perempuan paruh baya tersebut kesal sekali dengan tingkah anaknya itu.
"Awas kamu ya! Kalau sampai Arini di gigit ular lagi dan itu gara-gara kamu, Mama bakal hukum kamu, Leon!" omel Mutiara sambil mengambil minum di dispenser.
"Iya, Ma. Iya," jawab Leon dengan wajah di tekuk, kesal dengan omelan sang ibu yang tidak kreatif. Masa omelnya sama terus, tidak ada kata-kata lain. Laki-laki itu ikut mengambil minum juga karena dirinya memang haus.
"Pokoknya jangan pernah lagi bawa Arini ke tempat sialan itu."
"Iya, Ma. Paham." Tapi dalam hati Leon berkata, dia akan mengajak Arini ke sana lagi. Sayang sekali, kemarin dirinya dan Arini belum puas menikmati pemandangan indah di sana. Ular sialan itu mengganggu malam Leon dan Arini.
"Jangan cuma iya iya saja!"
"Iya, Ma. Leon paham."
Sabar, Leon. Ini ibu kamu sendiri. Jangan emosi, ucap Leon dalam hati.
Mutiara melengos ke ruang depan. Perempuan paruh baya tersebut teriak pelan memanggil cucu kesayangannya. "Yusuf.... Yusuf Sayang. Di mana kamu, Cu?" Mutiara mendongakkan kepalanya ke lantai atas.
Dari lantai atas, muncul Jasmine dengan buku gambarnya. "Di kamar, Oma. Lagi baca dongeng," beritahunya.
Mutiara tak menyahuti kata-kata Jasmine, namun dirinya tetap melangkah ke lantai atas. Mencari keberadaan cucu kesayangannya.
Sementara itu, Leon yang melihat pemandangan menyedihkan tersebut hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dia merasa sedih saat Jasmine diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya. Padahal jelas, Jasmine adalah anak kandung Leon. Cucu Mutiara dan Malvin juga.
"Papa!" Suara Jasmine mengagetkan Leon.
"Hey, anak Papa. Ada apa, Nak?" tanya Leon sambil jongkok untuk mensejajarkan tinggi dengan buah hati pertamanya itu.
Jasmine menyodorkan sebuah buku gambar. "Buka aja!" kata gadis cilik tersebut.
Leon pun menurut. Ia membuka buku gambar yang disodorkan Jasmine. Di buku gambar tersebut, Jasmine menggambar Leon dan Arini.
Manis sekali, batin Leon.
"Papa suka?" tanyanya.
Leon mengangguk sambil mengusap kepala Jasmine dengan sayang. "Suka. Suka banget," jawabnya jujur.
Arini yang baru selesai mandi, melihat heran ke arah anak dan ayah tersebut. "Kalian ngapain?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Mama... Sudah selesai mandinya?"
"Sudah, Sayang. Ada apa kalian ini?" tanya Arini sambil melihat buku gambar yang ada di tangan Leon.
"Ini, anak kita menggambar bagus," puji Leon sambil memberikan hasil gambar Jasmine kepada Arini.
"Waahh... Hebat. Ini keren," puji Arini tulus.
Jasmine yang dipuji hanya tersenyum malu. Bocah perempuan itu besok sudah mulai les melukis di Sanggar Pratiwi. Leon dan Arini sudah mendaftar buah hati mereka ke sanggar ternama itu.
"Leon! Kamu capek, tidak?" tanya Mutiara yang tiba-tiba saja muncul. Ibu Leon tersebut sedang menggendong Yusuf. Sudah sepuh tapi tenaganya masih kuat saja.
"Ada apa memangnya, Ma?" tanya Leon sambil menatap sang ibu.
"Tolong beli sup seafood. Yusuf pingin sup seafood katanya."
Leon dan Arini saling berpandangan. Sejak kapan Yusuf suka minta yang aneh-aneh? Pasalnya selama ini bocah laki-laki cilik itu selalu makan apa yang ada di rumah. Tidak pernah request.
"Kalian curiga sepertinya." Mutiara terkekeh pelan. "Iya iya Mama ngaku. Mama yang pingin sup seafood. Tolong beli, ya, Nak? Sepertinya Mama ngidam," ujar Mutiara sambil meringis.
Leon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ibunya. Ada-ada saja. Sudah manupause kok masih bisa ngidam? Lucu.
Mutiara menggeleng. "Beli itu aja. Untuk makan satu rumah," ujarnya dan di-iyakan oleh Leon.
***
Malvin, Mutiara, Leon, Arini, Jasmine dan Yusuf sedang santap malam di meja makan. Mereka menikmati sup seafood buatan Wulan.
Leon sudah berkeliling kesana-kemari tidak menemukan restoran yang menjual sup seafood. Akhirnya ia beli seafood mentah saja dan menyuruh Wulan memasaknya.
"Kaki kamu bagaimana, Rin? Masih sakit?" tanya Mutiara di sela-sela kunyahannya.
Arini menggeleng. Setelah kunyahan di mulutnya tertelan, ia baru menjawab. "Tidak, Ma. Tidak sakit sama sekali," jawabnya.
"Syukurlah." Mutiara menghembuskan nafasnya lega. "Pokoknya awas ya, Leon! Jangan berani-beraninya ngajak Arini ke tempat sialan itu lagi."
"Iya, Ma. Leon paham. Mama sudah ngomong ini lebih dari sepuluh kali, loh."
Malvin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya. Sementara Jasmine yang sudah tahu sedikit banyak dari Wulan, melirik takut ke arah sang Oma. Oma-nya memang serem. Ditambah lagi kalau lagi ngomel seperti ini, tambah serem dua kali lipat.
__ADS_1
"Habisnya kamu bebel. Harus di kasih tahu sepuluh kali baru bisa dengar," ujar Mutiara kesal. "Itupun kadang cuma dengar saja, tidak dilaksanakan sama sekali."
Leon hanya menunduk dan menikmati makanannya saja. Sungguh ia tak ingin mendebat ibunya di meja makan. Bisa hilang selera makan satu keluarga kalau mereka berdebat terus.
"Jasmine mau tambah lagi?" tanya Arini saat melihat mangkuk anak perempuannya itu sudah kosong.
Jasmine mengangguk takut saat tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan Mutiara. Sementara itu, Mutiara langsung mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan makan.
Arini yang memang duduk di sebelah Jasmine, langsung menambah sup ke mangkuk sang anak.
"Mau nasinya juga?" tanya Arini.
Jasmine menggeleng.
"Ya sudah, ini." Arini menyerahkan mangkuk berisi sup kepada Jasmine.
Bocah perempuan tersebut lalu fokus makan. Menikmati sup seafood miliknya.
Ditengah makan tiba-tiba saja sebuah cangkang kerang melayang ke mangkuk Malvin. Pelakunya adalah si cucu kesayangan. Yusuf.
Bocah laki tersebut tak sengaja melayangkan cangkang kerang saat berusaha mengeluarkan daging dari cangkangnya. Untung saja Malvin memang sudah selesai makan. Dan mangkuk ayah Leon tersebut memang sudah kosong.
"Susah, ya, Cu?" tanya Mutiara dengan sayang.
"Kelas, Oma." Yusuf menunjuk cangkang yang ada di mangkuknya.
Dengan sigap, Malvin lalu membantu Yusuf mengeluarkan daging dari cangkangnya. Kakek tersebut mengeluarkan daging menggunakan tusuk sate yang ada di laci lemari dapur.
Jasmine melirik iri ke arah Yusuf. Enak sekali adiknya itu. Disayang kakek dan nenek. Sementara dirinya, dianak tirikan.
"Papa telaten banget," ucap Leon sambil menumpuk mangkuk miliknya dan Arini. Karena mereka berdua telah selesai makan.
"Buat Cucu kesayangan memang harus telaten," ujar Malvin dan di-angguki setuju oleh Mutiara.
Leon melirik Jasmine yang duduk di sebelah Arini. Perempuan cilik tersebut menunduk saja sambil menikmati sup-nya dengan gerakan pelan.
Leon lalu menyenggol Arini dan memberikan tatapan pada Jasmine. Kini Leon dan Arini memandang Jasmine iba. Mereka berdua tahu bagaimana rasanya jadi Jasmine.
Tersisih di keluarga sendiri.
__ADS_1
Menyedihkan.