
Hari ini Becca kontrol kesehatan ditemani oleh Leon. Semenjak kehilangan Diana, Leon mulai sedikit demi sedikit berbenah diri. Jangan sampai menyesal untuk kedua kalinya.
"Syukurlah kamu sudah mulai membaik. Aku bahagia sekali mendengar kata dokter tadi." Leon berkata sambil mendorong Becca yang ada di kursi roda. Mereka sedang sama-sama menuju parkiran.
"Iya. Aku juga sudah lelah seperti ini, Mas. Mau apa-apa tidak bisa. Capek duduk terus. Aku pingin jalan bahkan lari," sahut Becca. Betapa muaknya Becca dengan sakit ini. Ia adalah wanita karir, ia terbiasa bekerja dan beraktifitas. Semenjak sakit ia jarang sekali datang ke cafe karena disanapun tak banyak yang bisa ia kerjakan. Yang ada malah membuat karyawannya repot mengkhawatirkan keadaannya.
"Kalau nanti kamu sembuh, akan aku kasih hadiah," kata Leon sambil menggendong Becca ke dalam mobil, karena sekarang mereka telah sampai pada parkiran rumah sakit.
"Hadiah apa?" tanya Becca saat Leon sudah duduk di sebelahnya. Ia tampak tak sabar menunggu jawaban Leon.
"Rahasia. Pokoknya kamu harus janji."
"Janji apa?"
"Cepat sembuh."
"Itu Calina, Mas!" Becca menunjuk seseorang yang berjalan tak jauh dari mereka, perempuan itu tengah berjalan sambil menggendong bayi.
Leon mengikuti arah pandang Becca. Dan benar saja, orang tersebut adalah Calina. "Kamu tunggu di sini sebentar, ya?"
Becca mengangguk.
Leon lalu menyusul Calina yang berjalan menuju gedung rumah sakit. "Calina!" Leon memanggil saat jarak mereka sudah cukup dekat.
Calina yang hafal itu adalah suara Leon, langsung menoleh ke belakang. "Leon. Kamu di sini juga?" tanyanya.
"Iya. Aku mengantar Becca kontrol," jawab Leon. "Kamu sendiri ngapain ke sini? Siapa yang sakit? Kamu? Atau Arjuna?" Leon bertanya dengan satu tarikan nafas. Karena ia sangat khawatir.
Calina tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Aku sedang menjenguk adiknya Via. Dia diare parah, sampai di rawat inap," tutur Calina.
"Huft... Untunglah. Aku kira kamu atau Arjuna yang sakit." Leon tampak lega saat mengetahui istri dan anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
Bisa gila Leon kalau sampai ada satu lagi anggota keluarganya yang sakit. Memikirkan Becca saja sudah membuat ia tidak nyenyak tidur, apalagi jika bertambah lagi satu.
Huft... Untung ketakutanku tidak terjadi. Kata Leon dalam hati.
"Sekarang Becca di mana?" Calina bertanya karena sedari tadi tak melihat Becca. Katanya tadi Leon mengantar Becca, lalu sekarang dimana Becca?
"Ada di mobil. Ya sudah kalau gitu, salam saja ya buat adiknya Via. Supaya cepat sembuh. Maaf tidak bisa menjenguk. Takut Becca ngamuk." Saat mengucapkan kalimat terkahir, Leon berbisik takut di dengar orang lain. Ya, siapa tahu tiba-tiba Becca datang dan mendengarnya. Kan bahaya.
Calina geleng-geleng sambil tertawa. "Ya sudah sana! Hus hus!" Ia berlagak seperti sedang mengusir ayam.
Leon ini tipe suami takut istri. Calina jadi berpikir sendiri, apakah Leon juga takut padanya? Atau hanya pada Becca saja?
"Sialan Mama kamu ini." Leon lalu mencium pipi gembul Arjuna kemudian setelah itu kembali lagi ke parkiran.
"Ada apa?" Becca bertanya saat Leon sudah kembali dan duduk di sebelahnya.
Leon memasang sabuk pengaman sambil menatap Becca. "Calina sedang menjenguk adik manajernya. Katanya diare parah," beritahu Leon dan diangguki Becca.
***
"Jasmine nakal atau tidak, Bude?" tanya Becca saat ia dan Leon baru saja sampai rumah. Terkadang Jasmine memang sering rewel dan membuat Retno ataupun Becca kewalahan.
"Tidak, Bu. Dari tadi anteng mainan sama saya." Retno menjawab seadanya. Karena memang Jasmine tidak rewel sama sekali. Sangat mudah di asuh.
"Arini mana, Bude?" Leon bertanya saat tak melihat Arini di ruangan tersebut.
"Ada di kamar, Pak. Sepertinya tidur siang. Karena tadi saya lihat Bu Arini seperti kelelahan. Mungkin terlalu banyak bekerja," jawab Retno sambil mengambil buah plastik milk Jasmine yang menggelinding.
Leon langsung menuju kamar Arini dengan tergesa-gesa. Mendengar kabar Arini kelelahan membuat Leon panik.
Becca hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat melihat kalakuan Leon.
__ADS_1
Jangan cemburu, Bec. Jangan cemburu. Kamu sudah diantar ke rumah sakit. Leon sangat perhatian, bukan? Oke kalem, Becca! Kalem! Becca bicara dalam hati.
Setiap kali melihat Leon mencari atau memasuki kamar Arini, membuat Becca selalu banyak-banyak menyabarkan diri. Ia tahu dirinya ini sangat labil, sering tiba-tiba marah hanya karena hal sepele. Dan sekarang ia tak mau lagi seperti itu. Ia ingin menjadi pribadi yang sabar. Seperti Arini.
Sementara itu di kamar Arini, Leon berjalan pelan mendekati tempat tidur. Di atas kasur empuk tersebut Arini tampak tertidur pulas. Wajahnya sedikit pucat.
Leon duduk dengan pelan di sisi ranjang. Ia membelai rambut Arini dengan sayang. Ia mengkhawatirkan Arini.
Arini yang terganggu dengan sentuhan tangan di wajah dan kepalanya langsung membuka mata. "Kamu sudah pulang?" Ia masih melek sedikit karena nyawanya belum terkumpul sempurna. "Bagaimana kondisi Becca? Apa kata dokter?" tanyanya.
"Baru saja. Bagaimana keadaan kamu? Kata Bude Retno kamu tidak enak badan. Ke rumah sakit, ya? Aku antar." Leon yang panik akan keadaan Arini langsung membujuk supaya istrinya tersebut mau di ajak berobat. "Keadaan Becca sudah mulai membaik."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ayo ke dokter. Berobat." Leon masih kekeuh membujuk Arini supaya mau ke dokter.
Arini menggeleng sambil menutup mulutnya karena ia sedang menguap. "Aku hanya ngantuk. Aku mau tidur. Kamu keluar, gih! Main sama Jasmine mumpung di rumah. Kalau kamu jarang main sama dia, dia bisa lupa kalau kamu itu bapaknya." Arini mendorong Leon untuk keluar kamar. Ia lalu menyelimuti dirinya sampai ke dada. Lalu kembali melanjutkan tidur.
Melihat Arini yang sudah kembali tertidur, Leon langsung keluar dari kamar istri tuanya tersebut. Ia mengikuti saran Arini. Bermain dengan Jasmine.
"Bagaimana keadaan Mbak Arini?" Becca bertanya sedemikian tenangnya. Padahal jauh di lubuk hatinya susah sekali untuk bertanya seperti itu.
"Syukurlah dia baik-baik saja. Dia hanya ingin istirahat." Leon menjawab sambil terus bermain dengan Jasmine.
Becca yang melibatkan Jasmine dan Leon tertawa bersama jadi ikut tertawa juga. Baginya pemandangan ayah dan anak tersebut sangat menarik.
"Jasmine semakin besar." Becca bergumam sendiri. Namun gumaman tersebut didengar oleh Leon.
"Iya. Kalau besar nanti pasti cantik. Seperti kamu." Leon mengerling ke arah Becca.
"Jelas. Karena aku ibunya." Becca bicara dengan sangat percaya diri.
__ADS_1
"Iya, ibu yang cantik." Leon berkata seperti anak kecil sambil menggendong Jasmine. "Waktunya tidur siang, Putri Cantik."