Jodoh Istikharah

Jodoh Istikharah
JI 2 - Culik


__ADS_3

"Sebenarnya kamu mau ajak aku ke mana? Ini sudah malam, Leon. Kasihan anak-anak kalau kita tinggal, " ujar Arini sambil menatap Leon dengan kesal. Pasalnya suaminya ini tidak mengatakan apa-apa sebelum pergi. Tiba-tiba saja menarik dirinya untuk masuk ke dalam mobil.


Leon yang sedang duduk di balik kemudi menoleh sekilas ke arah Arini sambil tersenyum misterius. Leon memang sengaja menculik Arini malam-malam begini. Otaknya sedang galau, butuh hiburan.


Tadi sebelum berangkat, Leon sudah menitipkan anak-anaknya pada ayah dan ibunya. Dan malam ini, dia hanya ingin berdua saja dengan Arini.


"Leon!" Arini mengerucutkan bibirnya lima centi meter. Dia kesal, baru tadi sore dia pulang kerja, sekarang sudah diculik oleh suaminya sendiri. Memang sih dia tidak capek, tapi dirinya rindu pada anak-anaknya. Ingin menghabiskan waktu bersama mereka.


"Ya? Apa?" jawab Leon dengan tampang sok polosnya.


Arini mendengus pelan, dia membuang wajahnya ke jendela kiri. Melihat lampu-lampu di gedung pencakar langit yang mereka lewati.


Saat ini sudah pukul sebelas malam. Kalau tidak karena pekerjaan, Arini tidak pernah keluar selarut ini. Dan malam ini, Arini keluar rumah bukan karena pekerjaan.


Karena sedari tadi bertanya tapi tidak dijawab oleh Leon, akhirnya Arini memilih diam dan melihat-lihat pemandangan malam dari balik kaca jendela. Toh nanti juga dirinya pasti akan tahu.


Lagipula, Leon tidak akan mungkin membawanya ke tempat berbahaya. Jadi, daripada menghabiskan energi untuk bertanya, lebih baik dia diam saja.


Setelah berkendara cukup lama, Leon menghentikan mobilnya di sebuah bukit. Tempat yang cukup jauh dari jantung kota.


Arini melihat sekelilingnya dengan bingung. Tempat apa ini? Seingatnya dia belum pernah ke sini.


"Tempat apa ini?" tanya Arini setelah mereka turun dari mobil.


Leon duduk di sebuah bongkahan batu yang cukup besar. "Ini tempat favorit aku kalau sedang galau," ujar Leon sambil menatap Arini dari bawah sinar sang rembulan.


Arini ikut duduk di sebelah Leon. Dia berdecak kagum pada pemandangan yang ada di depannya. "Indah sekali," gumamnya.


Leon tersenyum melihat Arini. Dia senang kalau Arini senang.


"Kamu sering ke sini?" tanya Arini sambil menoleh ke arah Leon.


"Aku ke sini kalau sedang galau. Bisa dibilang sering," jawab Leon sambil menatap pemandangan di depannya.


"Ck. Kamu memang tukang galau," ujar Arini sambil terkekeh.


"Dan galauku selalu hilang saat sudah melihat kamu," sahut Leon sambil menatap Arini lekat-lekat.


"Simpan saja gombalanmu itu! Aku tidak akan tersipu," ujar Arini sambil mengeluarkan ponselnya. Dia lalu menangkap beberapa foto pemandangan di hadapannya.

__ADS_1


Baru saja Leon hendak menanggapi ucapan Arini tadi, Arini sudah berkata lagi. "Aku mengabadikan tempat ini. Kalau kangen, tinggal lihat foto aja."


"Kalau kangen, aku bisa ajak kamu ke sini lagi."


"Serius?"


"Tentu saja serius."


"Terimakasih," ujar Arini lengkap dengan senyum manisnya. Dia menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celana.


Di depan mereka terdapat pemandangan malam dengan lampu-lampu yang sangat indah. Ya, di bawah mereka ada perumahan warga. Dan sekarang ini mereka sedang berada di atas bukit.


Mereka diam cukup lama. Keduanya sibuk menikmati pemandangan indah tersebut.


"Jadi, sekarang kamu sedang galau?" tanya Arini setelah mereka diam lumayan lama.


"Bisa dibilang begitu," jawab Leon. "Om Reza masih bebas berkeliaran dengan bahagia, sedangkan aku pontang-panting mengurusi perusahaan. Hutang perusahaan menumpuk karena dia," lirih Leon sambil menggenggam erat baru kecil yang ada di tangan kirinya.


"Aku akan selalu bantu kamu semampuku," ujar Arini. Dia memeluk Leon dengan erat sekali. Saat ini Leon sedang banyak masalah, suaminya itu perlu dukungan. Dan Arini akan selalu mendukung suaminya itu.


"Terimakasih, Sayang." Leon balas memeluk Arini erat. "Malam ini, aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Sudah lama kita tidak bersama seperti ini," ujarnya.


Leon tersenyum bahagia karenanya.


Mereka memang sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua saja. Terutama saat Leon memilih untuk poligami.


Dan sekarang, Arini disibukkan dengan dua orang bocah. Leon juga sibuk mengurus perusahaan. Waktu seperti ini sangat langka bagi mereka.


"Bagaimana kalau malam ini kita tidak usah pulang?" usul Leon sambil menaik turunkan alisnya.


"Hah?!" Arini kaget. "Tidak usah pulang?" Dia mengulangi kata-kata Leon barusan.


"Ya. Kita tidur di sini saja."


Arini menggeleng kuat-kuat. "Bagaimana kalau ada rampok? Di sini hutan, rumah warga jauh di bawah sana. Kalau ada apa-apa, siapa yang akan menolong kita?"


Melihat ekspresi ketakutan Arini, Leon terkekeh pelan. "Tenang saja, Sayang. Tempat ini aman, kok. Aku pernah beberapa kali menginap di sini."


"Di sini? Tidur berlantai tanah? Beratap langit?" tanya Arini tak percaya.

__ADS_1


Lagi-lagi Leon terkekeh sambil menggeleng. "Tidur di dalam mobil, Sayang."


"Ohh..." Arini mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Bagaimana? Kamu setuju?"


"Bagaimana dengan anak-anak? Besok pagi pasti mereka akan mencari kita."


"Aku akan chat Mama, malam ini kita tidak pulang. Mama pasti bisa menangani Yusuf. Kalau Jasmine, anak itu sudah besar. Sudah bisa mandiri," ujar Leon sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Laki-laki itu lalu mengirimkan pesan kepada ibunya. Memberitahu kalau malam ini mereka akan tidur di luar rumah.


"Selesai," ujarnya sambil kembali menyimpan ponsel di saku celana. "Sepertinya kamu kedinginan. Sebentar aku ambil jaket di dalam mobil."


"Ternyata dia mempersiapkan ini dengan baik," gumam Arini saat melihat Leon sudah masuk ke dalam mobil.


Tadi saat berangkat, Arini tidak ada persiapan sama sekali. Dirinya hanya menggunakan celana kulot panjang dengan kaos lengan panjang dan hijab instan. Tidak membawa jaket karena dirinya tidak menyangka akan dibawa ke tempat seperti ini.


"Pakai, ini!" Leon memakaikan jaket miliknya kepada Arini.


Arini menoleh ke belakang, kemungkinan mengangguk sambil tersenyum.


"Bagaimana? Sudah hangat?" tanya Leon setelah dirinya kembali duduk di sebelah Arini.


"Sudah," jawab Arini. Jaket Leon ini kebesaran di badannya. Tapi tidak apa-apa, malah membuatnya semakin hangat.


"Kamu orang pertama yang aku bawa ke sini."


"Aku tidak yakin."


"Oh, ya? Kamu meragukan aku? Tidak percaya padaku, hm?" Leon menangkup wajah Arini dengan gemas.


"Leon, ada yang bergerak di kakiku," ucap Arini ketakutan. Dia takut kalau itu adalah binatang berbahaya. Arini hendak melihat ke bawah, tapi ditahan oleh Leon.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sayangku." Leon mendekatkan wajahnya ke wajah Arini.


Tiba-tiba saja Arini langsung berteriak histeris. "Aarrgghh!"


Leon yang kaget langsung melepaskan Arini. Dan dia menemukan ular di kaki Arini. Ular itu telah menggigit kaki kanan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2